Kab. Bogor

Bergerak Serempak, Nyata Berdampak: Menakar Tahun Pertama Kepemimpinan Rudy Susmanto–Jaro Ade

Wisata Nirmala, Desa Malasari

BOGOR-KITA.com, BOGOR – Besok, 3 Juni 2026, Kabupaten Bogor genap berusia 544 tahun. Sebuah perjalanan panjang yang tidak hanya mencerminkan pertambahan usia daerah, tetapi juga menjadi ruang refleksi atas berbagai capaian, tantangan, dan harapan masyarakat terhadap pembangunan yang terus berlangsung.

Momentum Hari Jadi Bogor (HJB) ke-544 tahun ini menjadi menarik karena bertepatan dengan lebih dari satu tahun masa kepemimpinan Bupati Bogor Rudy Susmanto dan Wakil Bupati Bogor Jaro Ade yang dilantik pada 20 Februari 2025. Dalam rentang waktu tersebut, berbagai program dan kebijakan telah dijalankan dengan tujuan mempercepat pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Pemerintah Kabupaten Bogor mengusung tema “Bergerak Serempak, Nyata Berdampak” pada peringatan HJB tahun ini. Sebagai tema resmi perayaan, slogan tersebut dapat dimaknai sebagai harapan agar pembangunan tidak hanya menjadi agenda pemerintah semata, tetapi juga melibatkan seluruh unsur masyarakat dan menghasilkan manfaat yang dapat dirasakan secara langsung.

Dalam konteks pembangunan modern, konsep “Bergerak Serempak” dapat dikaitkan dengan pendekatan pentahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media sebagai mitra pembangunan. Sementara “Nyata Berdampak” menjadi ukuran sejauh mana kebijakan dan program yang dijalankan mampu memberikan perubahan bagi kehidupan masyarakat.

Menariknya, perayaan Hari Jadi Bogor ke-544 tahun ini dipusatkan di Desa Malasari, Kecamatan Nanggung. Pilihan lokasi tersebut menunjukkan upaya menghadirkan kembali dimensi sejarah dalam peringatan hari jadi daerah. HJB tidak hanya dimaknai sebagai perayaan tahunan, tetapi juga sebagai momentum untuk mengingat kembali akar sejarah, budaya, dan perjalanan panjang yang membentuk Kabupaten Bogor hingga saat ini.

Baca juga  Satgas Covid-19 Pantau Ujian Tatap Muka di SMP Negeri 01 Cijeruk

Dalam perspektif pembangunan daerah, langkah tersebut mengingatkan bahwa kemajuan tidak semata-mata diukur dari pembangunan fisik maupun pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kemampuan menjaga identitas, sejarah, dan nilai-nilai lokal yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat.

Lalu, sejauh mana tema “Bergerak Serempak, Nyata Berdampak” tercermin dalam satu tahun pertama kepemimpinan Rudy Susmanto dan Jaro Ade?

Salah satu indikator yang dapat digunakan adalah kondisi kesejahteraan masyarakat. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan persentase kemiskinan ekstrem di Kabupaten Bogor pada tahun 2025 sebesar 0,40 persen, turun dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 0,69 persen. Penurunan ini menjadi indikator positif karena kemiskinan ekstrem tidak hanya berkaitan dengan pendapatan, tetapi juga akses terhadap pendidikan, kesehatan, air bersih, hunian layak, dan kesempatan ekonomi.

Dari sisi ekonomi, realisasi investasi Kabupaten Bogor sepanjang tahun 2025 mencapai Rp32,46 triliun atau melampaui target yang ditetapkan sebesar Rp22,91 triliun. Angka tersebut juga meningkat 41,73 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Secara teoritis, peningkatan investasi berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, membuka lapangan kerja baru, serta memperluas aktivitas usaha masyarakat.

Namun demikian, investasi tidak dapat berdiri sendiri. Manfaatnya baru akan terasa apabila mampu terhubung dengan peningkatan kesempatan kerja, penguatan ekonomi lokal, dan pemerataan pembangunan antarwilayah.

Hal serupa terlihat pada sektor infrastruktur. Pemerintah Kabupaten Bogor mencatat pembangunan dan peningkatan jalan sepanjang 516,83 kilometer dalam satu tahun terakhir. Pembangunan tersebut menjangkau sejumlah wilayah yang selama ini menghadapi persoalan aksesibilitas, termasuk Parung Panjang, Rumpin, Cigudeg, Nanggung, dan Gunung Sindur.

Baca juga  YSK Bersama Humanity First Indonesia Gelar Bukber dan Santunan Anak Yatim

Perbaikan infrastruktur jalan tentu menjadi langkah penting dalam memperkuat konektivitas wilayah. Namun ukuran keberhasilannya tidak berhenti pada jumlah kilometer jalan yang dibangun. Yang lebih penting adalah apakah pembangunan tersebut mampu menurunkan biaya transportasi, memperlancar distribusi hasil pertanian, meningkatkan mobilitas masyarakat, dan mendorong aktivitas ekonomi lokal.

Pada sektor pertanian, Pemerintah Kabupaten Bogor membangun Pasar Petani Garuda di Cibinong sebagai ruang pemasaran bagi petani buah dan tanaman hias. Program ini dapat dipandang sebagai salah satu upaya memperluas akses pasar bagi petani skala kecil. Keberhasilan program tersebut nantinya akan sangat bergantung pada tingkat pemanfaatan oleh petani serta dampaknya terhadap peningkatan pendapatan mereka.

Sementara itu, sektor UMKM mulai diarahkan menuju transformasi digital melalui peluncuran Katalog Digital UMKM Kecamatan Cijeruk. Langkah ini menunjukkan adanya upaya adaptasi terhadap perkembangan ekonomi digital yang semakin pesat. Di tengah persaingan pasar yang semakin terbuka, digitalisasi menjadi kebutuhan yang tidak dapat dihindari bagi pelaku usaha kecil dan menengah.

Meski demikian, digitalisasi tidak cukup hanya berhenti pada peluncuran platform atau katalog daring. Tantangan berikutnya adalah memastikan para pelaku UMKM memiliki kemampuan, akses teknologi, serta pendampingan yang memadai agar transformasi digital benar-benar memberikan manfaat ekonomi.

Baca juga  Rudy Susmanto Minta Bupati Prioritaskan Isi Kekosongan Jabatan

Karena itu, pembangunan tidak dapat diukur hanya dari jumlah proyek yang selesai, besarnya investasi yang masuk, atau banyaknya program yang diluncurkan. Ukuran utama keberhasilan pembangunan tetap berada pada sejauh mana masyarakat merasakan manfaat dari setiap kebijakan yang dijalankan.

Pada titik inilah tema “Bergerak Serempak, Nyata Berdampak” menemukan relevansinya. Bergerak serempak berarti seluruh pemangku kepentingan memiliki tujuan yang sama dalam pembangunan daerah. Sementara nyata berdampak berarti hasil pembangunan mampu dirasakan oleh masyarakat secara luas, baik di perkotaan maupun pedesaan.

Memasuki usia ke-544 tahun, Kabupaten Bogor memiliki sejumlah indikator yang menunjukkan perkembangan positif. Penurunan kemiskinan ekstrem, peningkatan investasi, pembangunan infrastruktur, hingga dorongan terhadap sektor pertanian dan UMKM merupakan capaian yang patut dicatat.

Namun, capaian tersebut seharusnya dipandang sebagai titik awal, bukan garis akhir. Tantangan pemerataan pembangunan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, pengurangan kesenjangan wilayah, serta penguatan ekonomi masyarakat masih menjadi pekerjaan rumah yang harus terus diselesaikan.

Pada akhirnya, keberhasilan kepemimpinan daerah tidak hanya ditentukan oleh banyaknya program yang dijalankan, tetapi oleh seberapa besar manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat. Hari Jadi Bogor ke-544 menjadi momentum yang tepat untuk tidak hanya merayakan capaian, tetapi juga memastikan bahwa semangat “Bergerak Serempak, Nyata Berdampak” terus diwujudkan dalam kebijakan dan pembangunan yang berkelanjutan bagi seluruh warga Kabupaten Bogor. [] Penulis: Hari Pebriantok

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

To Top