Ketahanan Nasional Indonesia Diuji di Tengah Eskalasi Perang Iran–AS
BOGOR-KITA.com, JAKARTA – Eskalasi konflik antara Iran dan Amerika Serikat sejak Februari 2026 tidak hanya mengubah peta geopolitik global, tetapi juga menguji ketahanan nasional berbagai negara, termasuk Indonesia. Konflik yang dipicu serangan militer koalisi Amerika Serikat dan Israel terhadap fasilitas nuklir Iran itu berkembang menjadi krisis multidimensi dengan dampak luas di sektor energi, ekonomi, hingga stabilitas kawasan.
Serangan yang disebut-sebut bertujuan melumpuhkan program nuklir Iran dan mendorong perubahan rezim tersebut memicu respons keras dari Teheran. Iran membalas dengan menyerang aset militer Amerika Serikat dan sekutunya di kawasan Timur Tengah, termasuk pangkalan militer serta fasilitas strategis di negara-negara Teluk.
Dampak langsung dari konflik ini adalah terganggunya jalur distribusi energi global, khususnya di Selat Hormuz—jalur vital pengiriman minyak dunia. Terhentinya aktivitas di selat tersebut memicu lonjakan harga energi global, yang turut dirasakan negara-negara Asia, termasuk Indonesia.
Indonesia, yang dalam asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mematok harga minyak di kisaran 70 dolar AS per barel, berpotensi menghadapi tekanan fiskal jika harga minyak dunia terus merangkak naik. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada subsidi energi, tetapi juga stabilitas ekonomi makro secara keseluruhan.
Di level geopolitik, konflik ini juga memperlihatkan retaknya solidaritas Barat. Sejumlah negara NATO dilaporkan tidak sepenuhnya mendukung langkah Amerika Serikat, sementara kekuatan global seperti China dan Rusia memilih mengambil posisi strategis dengan mengamati perkembangan konflik.
Situasi tersebut membuka peluang pergeseran aliansi global, termasuk kemungkinan negara-negara Teluk mengalihkan orientasi investasinya dari Amerika Serikat. Dalam konteks ini, Indonesia perlu mencermati dinamika tersebut sebagai bagian dari strategi jangka panjang dalam menjaga stabilitas ekonomi dan hubungan internasional.
Dari sisi global, konflik Iran–AS juga memicu krisis energi, melemahnya peran lembaga internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), serta meningkatnya ketegangan di kawasan yang sebelumnya relatif stabil. Kebangkitan kembali kelompok-kelompok bersenjata di kawasan, seperti faksi Kurdi, menambah kompleksitas situasi keamanan internasional.
Pengamat ketahanan nasional dari Universitas Indonesia, Muhammad Syaroni Rofii PhD, menilai Indonesia perlu memperkuat strategi lintas sektor untuk menghadapi dampak konflik tersebut. Dalam bidang politik luar negeri, Indonesia disarankan mengadopsi pendekatan pragmatis seperti China, yang tetap berpijak pada hukum internasional sekaligus menjaga kepentingan ekonominya.
Selain itu, penguatan diplomasi melalui semangat politik bebas aktif dan revitalisasi peran dalam forum global seperti Gerakan Non-Blok dinilai penting untuk menjaga posisi Indonesia di tengah tarik-menarik kekuatan besar.
Di sektor energi, pemerintah didorong mempercepat diversifikasi sumber energi dan memastikan kesiapan infrastruktur nasional guna mengantisipasi gangguan pasokan global. Langkah ini mencakup penguatan energi terbarukan hingga membuka opsi pengembangan energi nuklir jangka panjang dengan mitra internasional yang berpengalaman.
“Pemerintah perlu mempersiapkan rencana jangka panjang untuk menginisiasi pembangkit listrik tenaga nuklir berbasis pada teknologi yang paling aman dan teruji di lapangan dengan menggandeng negara-negara yang berpengalaman dalam mengembangkan energi nuklir seperti Perancis, Rusia dan Jepang,” ujar Syaroni Senin (13/4/2026).
Sementara itu, di tingkat regional, Syaroni menilai koordinasi antarnegara ASEAN masih lemah dalam merespons krisis geopolitik di luar kawasan. Padahal, dampak konflik Timur Tengah terbukti turut memengaruhi stabilitas ekonomi dan keamanan negara-negara Asia Tenggara.
Dalam konteks pertahanan, perubahan karakter perang modern yang kini didominasi teknologi drone dan rudal balistik menjadi perhatian penting. Indonesia dituntut untuk menyesuaikan strategi pertahanannya agar tetap relevan menghadapi dinamika ancaman baru.
Secara keseluruhan, konflik Iran–AS menjadi pengingat bahwa ketahanan nasional tidak hanya ditentukan oleh faktor domestik, tetapi juga sangat dipengaruhi dinamika global. Indonesia dituntut mampu membaca perubahan tersebut secara cermat agar tidak hanya bertahan, tetapi juga memanfaatkan peluang di tengah krisis global yang terus berkembang.[] Hari
