Presiden Jokowi menyempatkan diri melihat Sungai Cheonggye di Korea Selatan.

Menanti Bima “Sulap” Ciliwung Jadi Cantik Seperti Sungai Cheonggye di Korsel

BOGOR-KITA.com – Normalisasi Ciliwung menjadi salah satu top agenda Walikota Bogor Bima Arya. Hal ini dikemukakan sendiri oleh Bima dalam briefing dua mingguan dengan jajaran Pemkot Bogor, Rabu (3/10/2018).

Dikatakan top agenda, karena dalam Briefing itu, Bima mengatakan, normalisasi Ciliwung  merupakan program jangka pendek. Ini berarti dalam waktu yang tidak lama lagi, Kota Bogor akan memiliki oase baru (daerah segar baru) melengkapi Kebun Raya Bogor dan sejumlah oase berupa taman-taman kota yang diciptakan Bima Arya selama hampir lima tahun kepemimpinnanya di Kota Bogor.

Mengapa normalisasi Ciliwung dikatakan akan menjadi oase baru Kota Bogor? Karena normalisasi Ciliwung ini bukan sekadar membersihkan sampah sebagaimana terjadi selama ini, bahkan sampai sekarang, tidak. Normalisasi Ciliwung kali ini diletakkan dalam perspektif yang lebih hebat, yakni menjadikannya sebagai sungai yang layak atau marik menjadi objek wisata. Bima sudah menyebut salah satu bentuk kegiatan yang bisa dilakukan di Ciliwung setelah normalisasi, yakni bisa bermain arum jeram.

Bentuk kegiatan lain? Bima belum menyebut. Namun, dapat dipastikan, tujuan normalisasi bukan semata-mata agar di Ciliwung nantinya bisa bermain arung jeram saja, tidak. Ada sejumlah kegiatan yang bersifat rekreatif yang nantinya bisa dilakukan setelah normalisasi.

Dikatakan demikian karena inspirasi normalisasi Ciliwung berawal dari pengalaman Bima Arya ketika berkunjung ke Sungai Cheonggyecheon atau Sungai Cheonggye yang mengalir di pusat Kota Seoul, Korea Selatan.

Sungai Cheonggye awalnya juga kumuh seperti Ciliwung. Kesamaan lain, Sungai Cheonggye mengalir di pusat Kota Seoul, sama seperti Cuiliwung yang mengalir di tengah-tengah membelah Kota Jakarta.

Bedanya, apabila Sungai Cheonggye sudah ditata apik dan menjadi sungai cantik dan menarik banyak wisatawan dan menjadi tempat berkumpulnya wisatawan dari berbagai penjuru dunia, sedang Ciliwung masih belum banyak berubah dan masih menarik bagi sejumlah warga untuk dijadikan tempat pembuangan sampah alias tempat berkumpulnya sampah dari berbagai rumah tangga yang dilintasinya.

Potret Sungai Ciliwung 

Ciliwung yang pada zaman Belanda disebut-sebut sebagai salah satu sungai terbersih di dunia dan diterima sebagai berkah, kini nyaris dipersepsikan sebagai sumber bencana, karena menjadi saluran air yang membanjiri Jakarta hampir setiap tahun.

Presiden Jokowi juga pernah menyempatkan diri berkunjung  ke Sungai Cheonggye. Presiden Jokowi juga takjub. Presiden Jokowi yang kini banyak tinggal di Istana Bogor bahkan terpikir mengubah Ciliwung menjadi sungai cantik seperti Sungai Cheonggye yang efek sampingnya menarik banyak wisatawan dari berbagai penjuru dunia.

Bima lalu tampil dalam forum bertajuk “Percepatan Penataan Kembali DAS Ciliwung guna Meningkatkan Kualitas Lingkungan dan Kesejahteraan Masyarakat Dalam Rangka Ketahanan Nasional” di Gedung Sekretariat Jenderal Dewan Pertahanan Nasional (Setjen Wantannas), Jakarta Pusat, Selasa (18/9/2018). Perwakilan Pemerintah Kabupaten Bogor, Depok dan jakarta juga hadir dalam forum itu.

Tetapi adalah Bima Arya yang punya konsep. Bima bahkan sudah sangat siap. Bima lalu memarpakan konsepnya tentang apa yang bisa dimanfaatkan dari Ciliwung. Dalam paparannya Bima Arya menunjukan cuplikan video berdurasi sekitar dua menit, berisi program penataan sungai melalui perspektif ekonomi pariwisata dengan menawarkan sensasi rafting di tengah kota.

Bima menjelaskan, video tersebut diambil di kawasan Pulo Geulis, sebuah perkampungan padat penduduk di pusat Kota Bogor yang dilintasi aliran Sungai Ciliwung. Ketika itu Bima bersama komunitas menyusuri jalur yang belum pernah dilintasi. Dalam trek air sekitar 5 kilometer, rombongan melintasi Kebun Raya Bogor, Istana Bogor, hingga berakhir di perkampungan wilayah Sempur.

“Saya melihat potensi wisata di Sungai Ciliwung sangat luar biasa. Ciliwung yang membelah Kota Bogor kalau ditata dengan baik akan menjadi potensi pariwisata dan berdampak bagi ekonomi warga sekitar. Lintasan Ini juga bisa jadi opsi pintu masuk Kebun Raya,” jelasnya.

Gayung bersambut, gagasan Bima langsung ditangkap oleh Sekretaris Jenderal Wantannas Letjen TNI Doni Monardo. Doni menyatakan siap mendukung untuk merealisasikan gagasan Bima dalam waktu dekat.

“Ini sejalan dengan keinginan Bapak Presiden yang ingin menata sungai seperti saat kunjungannya ke Korea. Kami akan dukung ini. Saya juga menugaskan Danrem 061/Suryakancana untuk berkoordinasi dengan Pemkot Bogor. Semoga dalam dua bulan ini bisa cepat terealisasi,” ujar Doni.

Bima tak menyia-nyiakan dukungan Doni Monardo. Bima cepat bergerak. Sejak rapat di Wantannas, Bima sudah dua kali turun ke lapangan. Pertama, meninjau sampah di Pasar Bogor, dan kedua sidak menelusuri Sungai Ciliwung dari Jalan Riau menuju Lebak Pilar, Kelurahan Sempur.

Ketika menemukan banyak sampah menumpuk di aliran sungai, Bima pun murka. Penumpukan sampah itu antara lain berada di saluran air tepatnya di samping Hotel Amaroossa dan di belakang KFC, Jalan Padjadjaran, Kelurahan Barangsiang, Kecamatan Bogor Tengah.

“Di belakang Amaroossa itu saya menengarai ada indikasi pelanggaran perda, nanti saya akan telusuri di belakang ini pelakunya siapa,” ucap Bima. “Jadi jangan main main, ujungnya bisa ditutup itu,” tegasnya.

Belum diketahui apalagi yang akan dilakukan oleh Bima untuk menyulap Ciliwung menjadi sungai cantik seperti Sungai Cheonggye di Kota Seoul, Korea Selatan.

Jalan mungkin masih panjang. Kendala mungkin juga tidak sedikit. Namun dukungan yang diberikan Sekretaris Jenderal Wantannas Letjen TNI Doni Monardo yang mengatasnamakan Presiden Jokowi, melahirkan otimisme.

Sungai Ciliwung memang tidak hanya melintasi Kota Bogor, tetapi juga Kabupaten Bogor, Depok dan Jakarta. Daerah Kota Bogor yang dilintasi Ciliwung adalah Bendung Katulampa , Kebun Raya Bogor , Kawasan Sempur.

Sementara ruas Masjid Attaawun,  Cisampay, Leuwi Malang, Pasir Angin, Pondok Rajeg masuk wilayah Kabupaten Bogor. Ruas Jembatan Pinus berada di wilayah Kota Depok.

Sedangkan ruas Jembatan Kelapa Dua,  Condet, Manggarai, Kwitang, Gunung Sahari dan Pantai Indah Kapuk berada di wilayah Jakarta.

Jika Bima Arya berhasil menyulap Ciliwung yang melintasi Kota Bogor, sudah barang tentu akan besar manfaatnya, karena akan mendorong pemerintah Kabupaten Bogor, Depok dan Jakarta melakukan hal sama.

Bima Arya setidaknya harus mampu menjalin kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Bogor yang mengaliri Ciliwung di bagian hulu, karena adalah tidak elok Bima Arya membuat jaring-jaring untuk menghentikan sampah yang mengalir dari bagian hulu.

Menjalin kerja sama itu diyakini tidak akan mengalami kendala, karena dukungan Sekretaris Jenderal Wantannas Letjen TNI Doni Monardo yang mengatasnamakan Presiden Jokowi, tentunya akan menjadi kekuatan tersendiri bagi Bima Arya untuk meretas seluruh kendala yang dihadapi.

Oleh sebab itu, tiba saatnya, warga Kota Bogor akan memiliki satu lagi oase baru, kebanggan baru, yakni Ciliwung yang cantik. [] petrus barus



Bogor-Kita.com - Sejak 2010


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *