Walikota Bogor Bima Arya ikut membersihkan sampah di bantaran kali Ciliwung (foto arsip)

Udang Sudah Kelihatan, Air Ciliwung Kian Bersih

BOGOR-KITA.com – Udang sudah kelihatan di Ciliwung. Ini pertanda Ciliwung mulai membaik.

Hal ini dikemukakan Direktur Jenderal Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan MR Karliansyah dalam keterangan tertulis, di Jakarta, Selasa (27/11/2018).

“Kalau udang saja sudah ada, berarti biodata lain juga pasti ada,” kata Karliansyah.

Dikatakan, udang merupakan biota sensitif yang membutuhkan air sangat bersih untuk hidup. Kehidupan udang di Ciliwung membuktikan kebersihan Ciliwung sudah membaik.

Karliansyah mengapresiasi kerja keras komunitas. “Tanpa kerja keras komunitas  semua itu tidak mungkin terjadi,” katanya.

Cilwung adalah sebuah sungai yang hulunya berawal dari Kabupaten Bogor, melintas di Kota Bogor, Depok sampai Jakarta.

Ruas Ciliwung yang melintas di Kota Bogor saat ini ditata oleh Walikota Bogor Bima Arya.  Bima Arya maju dengan istilah naturalisasi Ciliwung. Langkah itu berkembang kian intens setelah Bima Arya memaparkan gagasannya dalam  rapat di Gedung Sekretariat Jenderal Dewan Pertahanan Nasional (Setjen Wantannas), Jakarta Pusat, Selasa (18/9/2018).

Dalam rapat itu, Bima Arya mengemukakan gagasan mengelola Ciliwung menjadi objek wisata seperti Sungai Cheonggye di Korea.

Gagasan itu langsung disambut oleh Sekjen Wantannas Doni Monardo. “Ini sejalan dengan keinginan Bapak Presiden yang ingin menata sungai seperti saat kunjungannya ke Korea. Kami akan dukung ini. Saya juga menugaskan Danrem 061/Suryakancana untuk berkoordinasi dengan Pemkot Bogor,” ujar Doni ketika itu.

Realisasinya, Bima Arya melakukan sejumlah hal.  Namun belakangan muncul fakta kurang menggembirakan.

Ketua Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) Kota Bogor  Een Irawan, dalam pertemuan di Sekretariat Yayasan Rekam Nusantara, Sempur, Kota Bogor, Senin (5/11/2018) memaparkan kondisi sampah di Ciliwung. Een Irawan mengatakan, dari pemetaan yang dilakukan bersama timnya belum lama ini tercatat ada sekitar 5.652 KK atau rumah yang masih membuang sampah langsung ke Ciliwung. Mereka juga tidak memiliki septic tank.

Rinciannya, di Kecamatan Bogor Timur ada sekitar 1.977 bangunan, terbanyak di Kelurahan Sukasari ada sekitar 663, di Kecamatan Bogor Tengah ada sekitar 1.491, terbanyak di Kelurahan Sempur sekitar 828. Lalu di Kecamatan Bogor Utara 1.878 bangunan, terbanyak di Cibuluh 918 dan terakhir di Tanah Sareal sekitar 306, terbanyak di Kedung Badak sekitar 188,” ungkap Een.

Menanggapi hal itu, Sekjen Wantannas Doni Monardo yang ikut dalam pertemuan mengatakan, Pemkot Bogor tidak bisa sendirian, apalagi ini Ciliwung sangat kompleks. “Harus menggunakan sistem Pentahelix, yang mengolaborasikan antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas dan media,” ungkap Doni.

Namun demikian, Doni Monardo mengapresiasi langkah-langkah strategis yang sudah dilakukan oleh Pemkot Bogor.

Sejak saat itu, Bima Arya kian intens bergerak. Salah satunya memerintahkan Satpol PP Kota Bogor melakukan langkah penegakan hukum terkait sampah rumah tangga yang dibuang langsung ke Ciliwung.

Langkah-langkah ini diyakini berkontribusi terhadap Ciliwung yang dikatakan Direktur Jenderal Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Karliansyah, sudah membaik, terindikasi dari mulai tampaknya udang di perairan Ciliwung. [] Admin



Bogor-Kita.com - Sejak 2010


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *