Workshop Inovasi Pengolahan Hasil Ternak di Era Industri 4.0, di Kampus IPB Dramaga Bogor Selasa (5/3/2019).

Tantangan Industri Olahan Ternak di Era Revolusi Industri 4.0

BOGOR-KITA.com – Manusia akan selalu bergantung pada ketersediaan pangan dalam hal ini daging. Permintaan bahan daging dan unggas terus mengalami peningkatan seiring pertumbuhan eksponensial penduduk dunia. Oleh sebab itu, industri penyedia daging dan unggas harus terus berinovasi untuk menghasilkan bahan pangan dengan jumlah besar dalam waktu yang cepat di era revolusi industri 4.0.

Hal tersebut dikemukakan Dosen Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan (ITP), Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor (Fateta IPB), Prof. Purwiyatno Hariyadi  dalam Workshop Inovasi Pengolahan Hasil Ternak di Era Industri 4.0, di Kampus IPB Dramaga Bogor Selasa (5/3/2019).

Berdasarkan rilis yang diterima BOGOR-KITA.com, Kamis (7/3/2019), Purwiyatno mengungkapkan di era industri 4.0 atau industri disrupsi (disruption), hasil olahan ternak  diciptakan dan dibuat segala sesuatunya menjadi lebih cepat, smart, dan efisien. Industri di era disrupsi berkaitan dengan teknologi serba digital yang terhubung dengan internet.

“Teknologi akan selalu berkembang untuk mendukung berbagai aspek kehidupan manusia, tidak terkecuali di bidang peternakan. Disrupsi pada dasarnya dapat dikatakan sebagai bentuk inovasi pada berbagai aspek, tidak melulu dikaitkan dengan teknologi informasi (information technology), sehingga bisa terjadi pada konsep usaha atau berbagai hal apapun. Era disrupsi dianggap akan mengubah kehidupan menjadi lebih baik,” ujar Peneliti South East Asia Food  Agricultural Science and Technology (SEAFAST) IPB ini.

Purwiyatno menambahkan, era disrupsi ditandai dengan generasi milenial yang terus unjuk gigi dengan karya, berlomba menghadirkan teknologi yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha bidang peternakan. Beberapa start-up bidang peternakan memberikan perspektifpektif baru, baik untuk industri peternakan maupun kepada peternak.

Purwiyatno menyebutkan di era revolusi industri 4.0 bagi peternak terutama peternak rakyat harus menjadi perhatian. Ada beberapa kewajiban peternak rakyat untuk bertahan di era bisnis digital. Pertama, infrastruktur informasi dan teknologi dalam bentuk jaringan internet. Kedua, klasterisasi wilayah sesuai spesialisasi dalam peternakan seperti  sapi dan unggas, untuk pembagian pembibitan, penggemukan, pemotongan, atau penghasil susu. Ketiga, penggunaan teknologi finansial sebagai inovasi dalam akses permodalan. Terakhir, jejaring bisnis lewat sistem aplikasi.

“Efisiensi bisa tercapai dalam transportasi, logistik, komunikasi, serta produksi lewat jejaring,” ujar Purwiyatno.

Purwiyatno menghimbau, bagi para lulusan atau mahasiswa bahwa era revolusi industri 4.0 merupakan peluang sekaligus tantangan untuk bisa dicermati dengan baik. Peran manusia setahap demi setahap diambil alih oleh mesin otomatis. Akibatnya, jumlah pengangguran semakin meningkat. Oleh karena itu, untuk memanfaatkan peluang dan menjawab tantangan revolusi industri 4.0, para lulusan perguruan tinggi di Indonesia wajib memiliki kemampuan literasi data, teknologi dan informasi. Literasi data yang dibutuhkan untuk meningkatkan skill dalam mengolah dan menganalisis big data untuk kepentingan peningkatan layanan publik dan bisnis. Literasi teknologi menunjukkan kemampuan untuk memanfaatkan teknologi digital guna mengolah data dan informasi. Sedangkan literasi manusia wajib dikuasai karena menunjukkan elemen softskill atau pengembangan karakter individu untuk bisa berkolaborasi, adaptif dan menjadi arif di era “banjir” informasi.

Sedangkan narasumber lain Direktur CV Fiva Food, Ir. Betsy Monoarta menyampaikan, penerapan industri 4.0 pada pengolahan hasil ternak yaitu dapat mendorong proses inovasi dan meningkatkan produktivitas, mempercepat proses produk dan kemasan dengan baik, produk yang dihasilkan lebih bersifat khusus dengan skala lebih baik sehingga mendorong terciptanya pabrik yang handal. “

Sementara Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fa Peternakan IPB, Prof. Sumiati menyampaikan, di era industri 4.0 keberadaan teknologi hasil ternak sangat penting. Dimana sekarang ini pertumbuhan penduduk semakin meningkat dan banyak mengkonsumsi produk olahan hasil ternak dan unggas. Sementara  gererasi milenial menuntut serba praktis dan instan dalam pola penyajian menu makanan atau cepat dalam mengkonsumsi produk olahan dari daging.

”Ini peluang bagi bidang hasil ternak untuk dapat memenuhi permintaan dari konsumen dan tantangannya untuk memberikan yang terbaik bagi konsumen dalam penyediaan terutama dalam era industri 4.0 ini, setiap olahan hasil ternak bisa disajikan dengan cepat, praktis dan ekonomis,” papar Sumiati. [] Admin / Rilis IPB



Bogor-Kita.com - Sejak 2010


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *