Sosialisasi Bangga Kencana di Kabupaten Bogor Dorong Penguatan Ketahanan Keluarga dan Pencegahan Stunting
BOGORKITA.com, BOGOR – Penguatan ketahanan keluarga menjadi salah satu perhatian dalam pelaksanaan Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) di Kabupaten Bogor.
Hal itu disampaikan dalam kegiatan sosialisasi Program Bangga Kencana yang digelar Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN) bersama DPR RI di Pondok Pesantren Tahfidz Al Ihsan, Kabupaten Bogor, Sabtu (26/9/2026).
Kegiatan tersebut menjadi sarana untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai perencanaan keluarga, kesehatan keluarga, hingga upaya pencegahan stunting yang membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.
Anggota Komisi IX DPR RI, H. Achmad Ru’yat, mengatakan Bangga Kencana tidak sebatas mengatur persoalan kependudukan dan keluarga berencana. Menurutnya, program tersebut juga diarahkan untuk membangun keluarga yang sehat, berkualitas, dan memiliki ketahanan.
“Program Bangga Kencana bukan hanya berbicara mengenai pengendalian penduduk, tetapi juga tentang pembangunan keluarga yang berkualitas, peningkatan kesehatan keluarga, dan penguatan ketahanan keluarga. Kita ingin mewujudkan generasi yang sehat, cerdas, dan berdaya saing,” kata Achmad Ru’yat dalam keterangan tertulisnya, Rabu (30/9/2026).
Ia menilai keluarga memiliki posisi penting sebagai fondasi pembangunan bangsa. Oleh karena itu, pelaksanaan program membutuhkan sinergi antara pemerintah, BKKBN, mitra kerja, tokoh masyarakat, akademisi, serta masyarakat.
Achmad Ru’yat menyebut sejumlah persoalan masih menjadi tantangan dalam pembangunan keluarga, seperti kesehatan reproduksi, pencegahan stunting, ketahanan keluarga, dan peningkatan kualitas generasi muda.
“Berbagai tantangan tersebut membutuhkan langkah bersama yang terintegrasi, kolaboratif, dan berkelanjutan. Melalui kegiatan sosialisasi ini, diharapkan lahir gagasan dan langkah strategis untuk memperkuat pelaksanaan Program Bangga Kencana agar semakin efektif dan tepat sasaran,” ujarnya.
Sementara itu, perwakilan Kemendukbangga/BKKBN, Wahyuniarti, menekankan pencegahan stunting perlu dilakukan secara menyeluruh dan tidak hanya berfokus pada periode setelah anak lahir.
Menurutnya, intervensi harus dimulai sejak remaja, persiapan calon pengantin, kehamilan, persalinan, hingga masa pertumbuhan dan perkembangan anak.
“Pencegahan stunting perlu dilakukan sejak dini, mulai dari masa remaja dan persiapan calon pengantin, masa kehamilan, persalinan, hingga periode pertumbuhan dan perkembangan anak,” katanya.
Ia menjelaskan, langkah pencegahan tersebut dapat dilakukan melalui edukasi pemenuhan gizi, pemeriksaan kesehatan ibu dan anak, pemantauan pertumbuhan balita, pemberian ASI dan makanan pendamping ASI sesuai kebutuhan, imunisasi, serta penerapan perilaku hidup bersih dan sehat.
Dalam pelaksanaannya, Posyandu dan kader desa dinilai memiliki peran strategis. Mereka dapat membantu memberikan edukasi, mendorong keluarga mengakses layanan kesehatan, memantau tumbuh kembang balita, hingga mengoordinasikan tindak lanjut bagi keluarga yang membutuhkan pendampingan.
“Pendataan keluarga berisiko stunting secara berkelanjutan diperlukan untuk membantu pemerintah menentukan sasaran program dan memastikan intervensi sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” jelas Wahyuniarti.
Penata Kependudukan dan Keluarga Berencana Ahli Madya BKKBN Provinsi Jawa Barat, Adang Syamsul Hadi, menambahkan bahwa Program Bangga Kencana memiliki sejumlah fokus utama.
Di antaranya peningkatan kualitas keluarga, penguatan pelayanan keluarga berencana, pencegahan stunting, pembinaan remaja dan generasi muda, serta pendampingan terhadap keluarga berisiko stunting.
“Pembangunan keluarga tidak hanya berkaitan dengan pengendalian penduduk, tetapi juga bagaimana membangun keluarga yang sehat, mandiri, dan sejahtera. Karena itu, kesadaran mengenai perencanaan keluarga perlu terus ditingkatkan,” tuturnya.
Menurut Adang, pelaksanaan program di tengah masyarakat menghadapi sejumlah tantangan. Perubahan pola sosial, belum meratanya pemahaman mengenai pembangunan keluarga, serta perkembangan teknologi dan informasi menjadi faktor yang perlu diperhatikan.
Karena itu, sosialisasi dan edukasi secara berkelanjutan diperlukan agar masyarakat tidak hanya mengenal Program Bangga Kencana, tetapi juga memahami manfaatnya dan menerapkan prinsip perencanaan keluarga dalam kehidupan sehari-hari.
Senada, Perwakilan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Bogor, Munandar Ahmad menilai keberadaan Kader Desa Penggerak Keluarga Pencegah Stunting penting untuk memperkuat edukasi dan pendampingan kepada masyarakat, khususnya terkait kesehatan ibu dan anak.
“Kader desa berperan sebagai penghubung antara program pemerintah dan masyarakat melalui edukasi, pendampingan keluarga, pemantauan, serta koordinasi dengan pemerintah desa dan tenaga kesehatan,” kata Munandar.
Pendampingan tersebut mencakup peningkatan kesadaran keluarga mengenai pemeriksaan kehamilan, pemenuhan kebutuhan gizi, pemberian ASI eksklusif, makanan pendamping ASI, imunisasi, pemantauan tumbuh kembang anak, hingga penerapan pola hidup bersih dan sehat.
Munandar menegaskan, upaya menekan risiko stunting tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja.
“Keberhasilan pencegahan stunting membutuhkan keterlibatan seluruh pihak, mulai dari keluarga, masyarakat, pemerintah desa, tenaga kesehatan, hingga pemangku kepentingan terkait,” ujarnya.
Melalui sosialisasi tersebut, kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat diharapkan semakin kuat sehingga Program Bangga Kencana dapat berjalan sesuai kebutuhan di lapangan.
“Sinergi yang berkelanjutan diharapkan dapat mendukung terwujudnya keluarga yang sehat, berkualitas, mandiri, dan sejahtera, sekaligus mempersiapkan generasi penerus yang unggul,” tandasnya.
Program Bangga Kencana sendiri mencakup upaya peningkatan kualitas keluarga, pengendalian penduduk, pelayanan keluarga berencana, serta pembangunan sumber daya manusia melalui penguatan ketahanan keluarga. [] Ricky
