Pra Orasi Guru Besar IPB University Bicarakan Tiga Hal

BOGOR-KITA.com, BOGOR – IPB University menggelar press conference pra orasi tiga guru besar IPB University di IICC Botani Square, Kota Bogor, Kamis (9/1/2020).

Ketiga guru besar IPB University tersebut adalah guru besar tetap pada fakultas matematika dan fakultas ilmu pengetahuan alam, Prof. DR. dr Sri Budiarti, Guru besar tetap pada fakultas ekonomi dan manajemen Prof. Dr. Ir R. Nunung Nuryartono dan Guru besar tetap pada fakultas Ekologi manusia, Prof. Dr.Arif Satria.

Pada kesempatan itu, Prof. DR. dr Sri Budiarti menjelaskan strategi menghadapi Infeksi Bakteri Resisten antibiotik. Menurutnya antibiotik telah banyak menolong jiwa manusia baik penderita infeksi maupun kasus tindakan pembedahan lainnya di rumah sakit. Jenis antibiotik dan dosis yang tidak tepat maupun cara dan penggunaan yang lama dapat membuat bakteri menjadi resisten terhadap satu atau beberapa antibiotik.

“Munculnya bakteri patogen resisten antibiotik saat ini telah menjadi masalah kritis dalam dunia pengobatan modern,” kata Sri.

Menurutnya, jika bakteri resisten antibiotik yang keluar dari tubuh manusia berada di lingkungan, akan mencemari udara, air, tanah, makanan, minuman dan benda lainnya. Lingkungan yang tercemar oleh bakteri patogen resisten antibiotik dapat berdampak sangat buruk pada kesehatan masyarakat.

“Untuk mencegah hal tersebut perlu pemikiran yang mahir dan tindakan yang bijak. Oleh karena itu perlu pengendalian lingkungan, penggunaan vaksin yang tepat dan pemakaian anti biotik yang tepat,” jelasnya.

Sementara itu, Prof. Dr. Ir R. Nunung Nuryartono membawakan materi implikasi ekonomi inklusi keuangan terhadap kualitas pembangunan nasional.

Ia mengatakan bahwa kinerja pertumbuhan Indonesia selama lima tahun terakhir berada pada level lima persen per tahun. Dengan demikian terlepas dari itu terdapat beberapa isu yang masih memerlukan perhatian serius yaitu kemiskinan, pengangguran dan kesenjangan.

“Problematika tersebut disertai juga dengan urban bias development strategy yang disinyalir telah berimplikasi pada tingginya angka kemiskinan di pedesaan yaitu mencapai 13,2 persen (15,8 juta) dimana angka tersebut relatif lebih tinggi dibandingkan wilayah perkotaan. Kompleksitas permasalah itu semakin menekankan pentingnya mewujudkan pembangunan yang berkualitas yang tidak hanya berfokus pada pertumbuhan ekonomi,” jelasnya.

Sedangkan, Guru besar tetap pada fakultas Ekologi manusia, Prof. Dr.Arif Satri mengatakan perlu penguatan kolaborasi dalam tata kelola baru. Menurutnya Indonesia masih dihadapkan pada sejumlah krisis lingkungan. Diperkirakan limbah plastik yang mengalir ke laut oleh 192 negara pada tahun 2010 adalah 4,8 hingga 12,7 juta ton dan Indonesia berada di peringkat ke dua setelah China.

Bahkan, lanjutnya data KLHK pada tahun 2019 menyebutkan dari 125 juta hektare kawasan hutan, sekitar 35 juta hektare dalam kondisi rusak berat.

“Indonesia juga berpotensi mengalami krisis air bersih dan diramalkan pada tahun 2025 hampir dua pertiga penduduk dunia akan tinggal di daerah daerah yang mengalami kekurangan air. Laporan FAO menyebutkan tahun 2030 perubahan iklim akan menambah jumlah orang miskin hingga seratus juta jiwa dan harga pangan melambung hingga 12 persen, selain itu ada juga masalah masalah lingkungan lainnya seperti kerusakan ekosistem laut, pencemaran limbah dan lain sebagainya,” jelasnya.

Ia juga menuturkan krisis lingkungan dan sumber daya alam adalah krisis tata kelola yang artinya ada kegagalan mengatur tindakan para pihak yang berkepentingan terhadap sumber daya.

“Dalam pengelolaan sumber daya alam masyarakat juga belum diperankan secara optimal. Modernisasi membawa perubahan sosial begitu besar dan memunculkan mitos mitos tentang kelemahan masyarakat tradisional miskin yang dianggap tidak mampu mengelola sumber daya alam,” pungkasnya. [] Ricky



Bogor-Kita.com - Sejak 2010


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *