Kab. Bogor

OPINI: Pegiat Literasi Dilarang Mewah dalam Ucapan

Oleh: Syarifudin Yunus,

(Pegiat Literasi TBM Lentera Pustaka)

BOGOR-KITA.com, TAMANSARI – Banyak orang pengin jadi orang luar biasa. Sukses, kaya, punya pangkat dan jabatan. Orang luar biasa dianggap berprestasi, khususnya di dunia. Segala sesuatu diukur dari pencapaian dan prestasi saja. Segalanya luar biasa dan patut diacungi jempol. Maka banyak orang saat ditanya, mau jadi apa? Jawabnya, mau jadi orang luar biasa. Orang yang sukses, kaya, dan hebat di mata manusia lainnya.

Apa orang luar biasa harus sukses dan kaya?

Sama sekali bukan begitu. Orang luar biasa bukan diukur dari kesuksesan apalagi kekayaan. Karena itu semua amanah dan titipan semata. Luar biasa juga tidak diukur dari popularitas. Apalagi hanya bersandar pada cita-cita yang keren. Tanpa pernah dieksekusi, hanya sebatas niat baik. Entah kenapa, semua orang kok ingin jadi orang luar biasa?

Sejatinya, untuk jadi orang luar biasa itu gampang. Sering-sering saja nongol di media sosial, lalu di-like dan banyak komentar. Luar biasa pun bisa diraih dengan berjuang seoptimal mungkin untuk dikagumi banyak orang di dunia maya. Jadi orang luar biasa di zaman begini, cukup jadi orang yang mewah dalam ucapan tapi miskin dalam Tindakan. Luar biasa!

Baca juga  OPINI: Di Balik Kasus Crazy Rich, Ada Persoalan Literasi di Indonesia

Nyatanya, hanya sedikit orang yang mau jadi orang biasa. Saat ditanya mau jadi apa? Jawabnya cukup jadi orang biasa yang menebar manfaat dan kebaikan kepada orang lain. Orang biasa, yang tidak harus hebat apalagi terkenal. Orang biasa itu sederhana dalam ucapan tapi mewah dalam tindakan. Mau terus belajar dan selalu ikhtiar menebar manfaat kepada orang lain. Agar hidupnya lebih bermakna. Khoirunnaas ana’uhum linnas. Karena sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain.

Orang biasa seperti pegiat literasi di taman bacaan. Selalu berjuang untuk sediakan akses bacaan dan mau menemani anak-anak yang membaca buku di tengah gempuran era digital. Mereka yang berjuang demi tegaknya tradisi baca dan budaya literasi masyarakat secara ikhlas. Tidak ada bayaran, dan bertindak atas nama kemanusiaan. Orang biasa tidak masalah mengabdi di jalan sunyi, tanpa gemerlap panggung popularitas. Orang biasa di taman bacaan hanya tahu berbuat kepada sesama. Membarantas buat aksara, menyediakan akses bacaan, membimbing anak-anak difabel, yatim binaan, jompo binaan, dan mendirikan koperasi agar masyarakat terhindar dari jeratan rentenir. Seperti program literasi dan aktivitas taman bacaan di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor.

Baca juga  Kemenhub Upayakan Bangun Fly Over di Simpang Ciawi

Orang biasa itu tetap fokus menebar manfaat dan selalu memberikan yang terbaik untuk orang banyak. Orangnya biasa tapi tindakannya luar biasa. Berani melakukan sesuatu dengan cara yang beda, berani keluar dari comfort zone, dan berani bertindak sekalipun orang-orang lain tidak peduli. Selagi baik dan manfaat selalu dikerjakan dengan konsisten. Tanpa peduli penilaian orang lain. Pegiat literasi di mana pun dilarang mewah dalam ucapan, miskin dalam tindakan.

Orang biasa itu lawannya orang luar biasa.
Punya pangkat, punya jabatan. Bergelimang harta hingga mengukir status sosial mentereng. Itu semua ciri-ciri orang luar biasa. Maka wajar, orang luar biasa saat komen di media sosial pun seenak-enaknya. Hanya dia yang benar, yang lainnya salah. Orang luar biasa, selalu merasa sudah “jadi sesuatu” dari sebelumnya yang “bukan apa-apa”. Orang luar biasa gila pujian, mengagumi kehormatan.

Baca juga  Ibunya Belum Tahu Gadis Cilik Dibunuh di Kontrakan Kakeknya

Berbeda dengan orang biasa. Orang yang sederhana, yang selalu merasa bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa. Orang biasa yang diberi anugerah seberapapun disyukuri, tanpa dikeluhkan. Orang biasa yang selalu ikhtiar menebar kebaikan untuk orang lain. Orang-orang yang selalu nrimo, apa adanya. Orang biasa selalu percaya. Bahwa apa pun yang terjadi pada dirinya adalah atas iin Allah SWT. Orang biasa hanya bisa bersyukur dan bersabar, dalam segala keadaan.

Orang biasa, tidak pernah peduli dari mana dia berasal. Orang biasa tidak peduli siapa dia sebelumnya. Orang biasa pun hanya fokus pada “siapa dia hari ini” dan mau ke mana dia esok? Apa yang telah diperbuat untuk orang lain, seberapa besar manfaatnya untuk orang lain? Maka di mata orang biasa, sama sekali tidak penting jadi orang luar biasa. Asal sederhana dalam ucapan tapi mewah dalam tindakan. Selalu mampu mengubah niat baik jadi aksi nyata. Salam literasi.

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Terpopuler

To Top