Dewex Sapta Anugrah

GMNI Sesalkan Penyitaan Buku oleh Aparat

BOGOR-KITA.com – Penyitaan buku yang dilakukan oleh aparat TNI, Kejaksaan, dan Pol PP di Padang, merupakan tindakan represif yang menimbulkan keresahan dunia literasi di tanah air. Pasalnya buku-buku yang disita merupakan buku-buku yang berkaitan erat dengan sejarah perjalanan bangsa dan negara Indonesia, termasuk salah satunya adalah buku karya founding father, Sukarno.

Hal tersebut semakin menandakan bahwa negara gagal menjamin kebebasan pembangunan intelektual bagi kaum terpelajar baik mahasiswa dsb untuk mencari tahu proses perjalanan bangsa Indonesia.

Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) sebagai organisasi kemahasiswaan menyesalkan tindakan represif yang dilakukan oleh aparat negara. Ketua DPP GMNI Bidang Hubungan Internasional, Made Bryan mempertanyakan keseriusan pemerintah melaksanakan implementasi pembukaan UUD 1945 yakni mencerdaskan kehidupan bangsa.

Di era saat ini, seharusnya bangsa kita sudah mengalami kemajuan demokrasi yang berkembang lebih baik. Salah satu indikatornya adalah soal perlindungan HAM.

“Dibandingkan dengan negara kawasan Asia Tenggara lainnya, demokrasi di Indonesia sudah tumbuh lebih baik. Jelas kami tidak menghendaki kemunduran berpikir di alam demokrasi saat ini”, ujarnya.

Jika tindakan represif aparat yang beralasan bahwa menyebarkan ideologi dan simbol terlarang masih dianggap kejahatan yang membahayakan keamanan negara, “Justru kami mempertanyakan ketegasan aparat dalam menyikapi ancaman disintegrasi yang disebabkan radikalisme agama yang jelas-jelas berseberangan dengan pluralitas dari Pancasila”, tambahnya.

Di era demokrasi saat ini, seharusnya aparatur negara dalam hal ini TNI dan lembaga-lembaga terkait mampu memberikan kebebasan dalam menjamin pencarian pengetahuan, terlebih upaya negara hadir dalam membangun peradaban perlu di mulai dalam memberikan kebebasan untuk hak intelektual.

Penyitaan buku seperti ini semakin marak terjadi pada kurun dua tahun terakhir ini, seolah negara tidak memiliki keinginan atau kemauan untuk generasi muda mengenal perjalanan bangsa nya.

Penyitaan buku yang marak dilakukan tidak hanya buku-buku yang mengandung unsur sejarah, melainkan ada beberapa buku yang merupakan karya besar Soekarno yang juga turut disita dan dirampas oleh aparat, dan ini menandakan bahwa aparat yang menyita buku-buku tersebut masih terdogmasi oleh narasi-narasi lama orde baru dan ini merupakan tindakan represif.

Sementara itu, Dewex Sapta Anugrah Sekretaris DPD GMNI Jawa Barat mengatakan pihaknya sangat mengutuk keras atas tindakan perampasan serta pemberangusan buku-buku yang dilakukan oleh aparat TNI, kejaksaan, dan Pol PP di Padang serta dibeberapa daerah lain nya.

“Negara dalam hal ini lembaga pemerintah terkait perlu mengevaluasi apa yang dilakukan oleh aparat terkait dalam modus operandi nya”, sahutnya.

Apabila hal ini terus dibiarkan maka tidak menutup kemungkinan kedepan generasi muda Indonesia akan gagap dalam melakukan narasi-narasi positif mengenai pengetahuan.

“Jika tindakan ini terus dibiarkan, maka era fasisme kembali tumbuh ditengah negara Indonesia yang sedang membangun proses demokratisasi bangsa”, tutupnya. [] Dede Heri



Bogor-Kita.com - Sejak 2010


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *