Kab. Bogor

Nasihat Sekretaris Kemenko Maritim yang Sempat Jadi Penjual Kaset Keliling di Bogor

Ir Agung Kuswandono, MA

BOGOR-KITA.com, DRAMAGA – Sekretaris Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Kemaritiman dan Investasi, Ir Agung Kuswandono, MA membagikan pengalaman perjalanan karirnya kepada mahasiswa IPB University, Rabu (11/11/2020).

Mau jadi apapun, harus fokus. Kalau sudah memilih, harus konsisten dan dalami. Tidak ada yang instan. Karena proses kehidupan pastinya panjang.

Nasihat ini dikemukakan alumni IPB University yang sekarang jadi Sekretaris Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Kemaritiman dan Investasi, Ir Agung Kuswandono, MA saat berbagi pengalaman perjalanan karir bersama mahasiswa IPB University, Rabu (11/11/2020).

Perjalanan karir Agung Kuswandono yang merupakan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University ini, memang pula cukup menarik.

Dalam rilis dari IPB University, disebutkan, Agung  mengawali karirnya di pemerintahan sebagai pegawai bea dan cukai. Butuh waktu hingga dua puluh tahun, dari 1991 sampai 2011, hingga dirinya diangkat sebagai Direktur Jenderal Bea dan Cukai.

Baca juga  Hari Amal Bakti Kemenag Ke-74: Ade Yasin Penuhi Janjinya Kepada Guru Madrasah

“Tetapi prosesnya tidak singkat. Sebelum masuk ke sana, saya pernah dua minggu keliling Bogor jadi penjual kaset karena belum ada pekerjaan. Kemudian saya melamar kerja ke puluhan perusahaan. Jadi setiap Sabtu dan Minggu, kerjaan saya adalah membuat surat lamaran,” kenangnya.

Agung bahkan menceritakan pengalaman lucu sekaligus menyedihkan yang sempat ia alami dalam berjuang mencari pekerjaan.

Ia menuturkan bahwa ia sempat lolos seleksi di sebuah perusahaan swasta, namun ketika duduk di lobby gedung sebelum kembali ke rumah, ada seorang ibu-ibu muda yang mendatanginya.

“Ibu muda tersebut menegur saya, mas mau kerja di sini ya? Iya bu, kata saya. Jangan mas, perusahaan ini mau bangkrut, katanya. Suami saya sudah tiga bulan tidak digaji. Jadi bayangkan, pagi itu saya diterima, sorenya saya pulang dengan tangan hampa lagi,” katanya.
Menurutnya, tiga faktor paling berpengaruh dalam mendukung keberhasilan dalam hidupnya adalah doa orangtua, doa istri tercinta dan doa serta usaha pribadi.

Baca juga  Koperasi Rancage Harap Program BLT UMKM Rp2,4 Juta Dilanjutkan

“Istri saya lulusan IPB University juga, jurusan Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga (GMSK). Bagaimanapun IPB University itu akan selalu menjadi bagian dari hidup saya, karena saya bertemu jodoh saya di kampus.” ujarnya.

Tak lupa, Agung kembali mengingatkan untuk tidak mudah patah semangat jika kelak dalam proses meniti karir menemukan kegagalan. Jangan sampai prinsip hidup kita mudah dibelokkan oleh tantangan yang dialami.

“Di sektor swasta atau pun pemerintah, silakan, yang penting kita fokus. Di IPB University yang saya rasakan, teman-teman yang the best itu bukan IQ-nya saja yang tinggi, tetapi EQ (Emotional Quotient) dan SQ (Spiritual Quotient) juga tinggi. Berdasarkan pengalaman, sepintar apapun jika perilakunya tidak baik, tidak akan bisa berhasil,” kata Agung mewanti-wanti.

Baca juga  Buta Aksara di Kabupaten Bogor Tinggal 3%, Pemkab Bogor Terima Penghargaan

Agung kemudian membagikan filosofi layang-layang dalam era Industri 4.0. Ia menggambarkan knowledge, skill dan attitude sebagai orang yang memainkan layang-layang.

Ia melambangkan benang yang ditiup angin sebagai tantangan cuaca, kemudian layang-layang sebagai gagasan revolusi industri 4.0.

Artinya adalah bahwa di dalam mencapai tujuan utama revolusi industri 4.0, kita akan menjumpai banyak halangan dan tantangan yang dalam tayangan dilambangkan dengan benang yang terancam kondisi cuaca.

“Namun ilmu pengetahuan, ketrampilan, dan sikap yang baik-lah yang akan membantu kita untuk mampu mengendalikan layang-layang,” tutupnya. [] Admin

 

 

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Terpopuler

To Top