Museum Gedung Sate Bandung

Museum Gedung Sate Bandung Ramai Pengunjung

BOGOR-KITA.com – Museum Gedung Sate merayakan hari jadinya yang pertama bertajuk Museum Festivities (Muvies) di area Gedung Sate Bandung, Jum’at (15/3/2019). Muvies ini dibuka secara resmi oleh Sekretaris Daerah Jawa Barat (Sekda Jabar) Iwa Karniwa, malam harinya. Selama setahun sejak diresmikan tanggal 8 Desember 2017 lalu,

Museum Gedung Sate ternyata banyak pengunjung. Terbukti, museum ini telah didatangi oleh 148.143 pengunjung setelah dibuka secara resmi oleh Sekretaris Daerah Jawa Barat (Sekda Jabar) Iwa Karniwa satu tahun lalu.

Pada perayaan setahun hari jadi Museum Gedung Sate bertajuk Museum Festivities (Muvies) di area Gedung Sate Bandung, Jum’at (15/3/2019), Sekda Pemdaprov Jawa Barat Iwa Karniwa mengatakan, banyaknya pengujung Museum Gedung Sate, adalah karena pengaruh konsep smart museum yang menyesuaikan konten museum sesuai dengan tuntutan zaman, dan kebutuhan generasi muda dengan pendekatan kekinian. Konsep ini tidak hanya memamerkan koleksi yang informatif, tetapi juga mengedepankan pemanfaatan kemajuan teknologi canggih.

“Syukur Alhamdulilah, dengan berbagai kebaruan ini Museum Gedung Sate telah dikunjungi lebih dari 140.000 pengunjung dalam tahun pertamanya,” kata Iwa,

Iwa berharap kehadiran museum dapat meningkatkan minat baca masyarakat. Ini penting, karena hasil survei most littered nation in the world tahun 2016 lalu menunjukkan bahwa posisi Indonesia hampir terbelakang, yakni posisi ke-60 dari 61 negara yang disurvei, di antara Thailand di posisi ke-59 dan Botswana di posisi bungsu ke-61.

Apa isi Museum Gedung Sate?

Ternyata cukup banyak. Museum menunjukkan detail-detail bangunan yang ada di Gedung Sate seperti kaca patri atau kaca prisma yang digunakan sebagai bantuan penerangan alami. Beberapa benda bersejarah yang ada di Gedung Sate antara lain telefon kuno, branwir, serta duplikat sirene.

Ada pula ”robekan” dinding yang bisa dijadikan tambahan informasi dari sisi teknik pembangunan gedung. Semua dinding Gedung Sate dibuat dari tumpukan batu gunung dari Gunung Manglayang.

Setiap basement gedung di sayap kanan dan kiri terdapat satu ruangan cukup luas, sekitar 400 meter, yang tidak dapat ditemukan di gedung aslinya. Ternyata, setelah ’dilubangi’, diketahui ruangan tersebut kosong, hanya berisi tanah liat. Tebal dindingnya antara 80 cm hingga 1 m. Kuat dugaan, ruang kosong ini berfungsi sebagai penyeimbang bangunan sehingga bisa tahan gempa.

Memasuki area museum, pengunjung juga akan diarahkan untuk berkenalan dengan sejarah panjang Kota Bandung dan juga peristiwa yang mengiringinya.

Sekda Iwa menambahkan, untuk mendongkrak minat baca melalui museum, maka pemanfaatan teknologi terkini menjadi salah satu prasyarat utama yang perlu diperhatikan bagi seluruh pengelola museum. Dengan demikian, informasi dapat lebih mudah dipahami oleh generasi milenial saat ini.

“Dengan mengedepankan informasi yang bersifat visual, akan lebih menarik dan mudah dipahami oleh kalangan generasi muda, khususnya kalangan millenial dan generasi Z,” ujar Iwa.

Kepala Biro Umum Setda Provinsi Jawa Barat Iip Hidajat, Muvies yang digelar selama dua hari, yakni tanggal 15-16 Maret 2019, melibatkan 48 museum se-Jawa Barat untuk diperkenalkan kepada khalayak banyak. Iip juga menyampaikan apresiasi dan doa bagi mantan Kepala Biro Humas dan Protokol Alm. Ruddy Gandakusumah sebagai penggagas Museum Gedung Sate.

“Meskipun sudah berpulang, tapi buah karya almarhum bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat banyak,” tutur Iip.

Turut hadir pada acara, Wakil Walikota Sukabumi, Wakil Bupati Sukabumi, Gusti Sultan Sepuh XIV, Asisten Daerah III Provinsi Jawa Barat, Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Jawa Barat, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Barat, Kepala Dinas Olahraga dan Pemuda Provinsi Jawa Barat, Kepala Biro Humas dan Protokol, Kepala Biro Hukum, serta para kepala museum dari seluruh Jawa Barat.

Sebanyak 48 museum dari seluruh Jawa Barat juga bereksebisi di halaman belakang Gedung Sate. Selain itu, pada dua hari gelarannya (15-16/3/19) Muvies juga menggelar berbagai games dan lomba, seperti lomba mewarnai dan menggambar, serta live-action ludo. Yang menarik, pada dua big screen pinggir panggung terdapat insert penerjemah untuk teman-teman tuli. Menjadikan Muvies ramah teman-teman tuli. [] Admin/dari berbagai sumber



Bogor-Kita.com - Sejak 2010


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *