Ilustrasi

LSI Denny JA: Kecemasan Publik Sudah di Zona Merah

BOGOR-KITA.com, JAKARTA-  Kecemasan publik atas kondisi ekonomi mereka sudah berada di zona merah.  Sebesar 74.8 % publik menyatakan bahwa kondisi ekonomi mereka saat ini, saat pandemi covid-19, lebih buruk dan bahkan jauh lebih buruk dibandingkan masa sebelum covid-19. Hanya 22.4 % yang menyatakan bahwa kondisi ekonomi mereka tidak berubah dibandingkan masa sebelum covid. Dan hanya di bawah 5 % yaitu 2.2 % yang menyatakan kondisi ekonomi mereka lebih baik.

Mayoritas bukan saja menyatakan ekonomi rumah tangga mereka memburuk. Tapi 84,2  persen khawatir mereka tak bisa memenuhi kebutuhan pokok sehari- hari.

Demikian kesimpulan survei terbaru Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA yang dirilis 6 Juli 2020. Survei ini dilakukan secara tatap muka pada tanggal 8-15 Juni 2020, menggunakan 8.000 responden di 8 provinsi besar di Indonesia. Kedelepan provinsi tersebut yaitu Provinsi Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Banten, Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, dan Provinsi Bali.

Margin of error (Moe) survei ini adalah sebesar +/- 2.05 %. Selain survei, LSI Denny JA juga menggunakan riset kualitatif (analisis media dan indepth interview), untuk memperkuat temuan dan analisa.

Mereka yang menyatakan kondisi ekonomi buruk, merata di hampir semua segmen. Baik mereka yang kelas ekonomi atas maupun wong cilik, berpendidikan tinggi maupun rendah, tua maupun muda, dan semua konstituen partai politik.

Pada segmen ekonomi, semakin rendah tingkat ekonominya semakin tinggi persepsi bahwa kondisi ekonomi mereka memburuk. Pada segmen ekonomi bawah (wong cilik), mereka yang menyatakan ekonomi mereka memburuk, sebanyak 81.3 %.

Sementara mereka yang merasa ekonomi mereka tak berubah sebesar 15.8 %. Tak hanya segmen ekonomi bawah, pada segmen ekonomi atas, mereka yang berpendapatan diatas 4.5 juta/sebulan, sebanyak 59.9 % menyatakan bahwa kondisi ekonomi mereka memburuk. Namun terdapat 37.3 % responden yang menyatakan bahwa kondisi ekonomi mereka tidak berubah.

Pada segmen pendidikan, semakin rendah tingkat pendidikan semakin tinggi pula persepsi bahwa ekonomi mereka memburuk. Pada segmen mereka yang terpelajar, pernah kuliah atau diatasnya, mereka yang menyatakan ekonomi mereka buruk sebanyak 62.5 %.

Sementara mereka yang menyatakan bahwa kondisi ekonomi mereka tidak berubah sebanyak 34.3 %.

Pada segmen pendidikan rendah, mereka yang hanya lulus SD atau dibawahnya, sebanyak 78.8 % menyatakan kondisi ekonomi mereka memburuk. Dan hanya sebesar 18.4 % yang menyatakan kondisi ekonomi mereka sama saja atau tida berubah.

Pada segmen gender, baik laki-laki maupun perempuan, rata-rata diatas 70 % yang menyatakan bahwa ekonomi mereka memburuk. Pada segmen penganut agama, rata-rata diatas 70 %, di semua penganut agama, yang menyatakan bahwa ekonomi mereka memburuk.

Pada segmen usia, baik mereka yang usia muda di bawah 40 tahun, maupun mereka yang berusia tua diatas 40 tahun, rata-rata diatas 70 % menyatakan bahwa ekonomi mereka memburuk.

Mayoritas konstituen partai politik pun menyatakan bahwa ekonomi mereka memburuk. Pada segmen pemilih PDIP, partai pemenang pemilu, sebanyak 77.8 % menyatakan bahwa ekonomi mereka memburuk.

Pada konstituen Golkar, sebanyak 74.2 % menyatakan ekonomi mereka memburuk. Pada segmen pemilih PKS, yang biasanya pemilih muslim kelas menengah yang tinggal di kota, sebanyak 70.7 % menyatakan bahwa ekonomi mereka memburuk.

Mereka yang menyatakan kondisi ekonomi memburuk juga mayoritas di pemilih Jokowi- Maruf maupun pemilih Prabowo-Sandiaga Uno. Di pemilih Jokowi-Maruf, sebanyak 76.3 % menyatakan ekonomi mereka memburuk. Sementara di pemilih Prabowo-Sandiaga, sebanyak 74.2 % menyatakan kondisi ekonomi mereka memburuk di tengah pandemic covid-19.

LSI Denny JA lebih jauh menggali kondisi ekonomi seperti apa yang dikhawatirkan oleh publik di tengah pandemi corona. Temuan penting lain yang dihasilkan dari survei ini adalah tingginya mereka yang khawatir tidak dapat memenuhi kebutuhan pokok mereka sehari-hari.

Tingkat kekhawatiran publik bahwa mereka tak mampu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari juga berada di zona merah. Sebanyak 84.2 % publik menyatakan bahwa saat ini mereka khawatir, dan hanya sebesar 15.1 % yang menyatakan tidak khawatir.

Mereka yang menyatakan khawatir tak dapat memenuhi kebutuhan pokok juga merata di semua segmen. Baik mereka yang berpendidikan tinggi maupun rendah, kelas ekonomi atas maupun bawah, laki-laki maupun perempuan, semua segmen penganut agama, muda maupun tua, dan di semua segmen konstituen partai.

“Temuan-temuan penting tersebut tentunya harus direspon segera dengan kebijakan publik yang tepat. Dengan mayoritas menyatakan ekonomi memburuk dan kekhawatiran tak mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari, maka persepsi tersebut mampu menghasilkan implikasi politik yang serius,” demikian tulis Denny JA dalam keterangannya. [] Hari



Bogor-Kita.com - Sejak 2010


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *