Nasional

Kasus @Tiketkekinian, Bukti Praktik Carding Masih Banyak

BOGOR-KITA.com, JAKARTA – Kasus @tiketkekinian cukup ramai dibicarakan publik. Itu semua karena para pelaku menggunakan artis untuk mengendorse bisnis tiket mereka yang berbasis akun instagram. Polisi membekuk ketiga pelaku yang menggunakan modus carding dalam membeli tiket untuk para customernya. Polisi juga sudah memanggil sejumlah artis untuk dimintai keterangan.

Dalam keterangannya Sabtu (7/3/2020), pakar keamanan siber Pratama Persada menjelaskan praktek carding semacam ini masih sangat banyak ditemui. Seperti pengakuan pelaku, data tartu kredit didapatkannya lewat Facebook dan dibeli dengan cukup murah antara 150-300 ribu rupiah per CC.

“Selain di Facebook, ada sejumlah database besar kartu kredit yang diperjualbelikan di internet, terutama lewat darkweb. Database kartu kredit ini bisa berasal dari kebocoran data perbankan, marketplace dan paling sering adalah saat transaksi di kasir,” terang chairman lembaga riset keamanan siber CISSReC (Communication & Information System Security Research Center) ini.

Ditambahkan Pratama, proses pembayaran di EDC kasir, pelaku bias menyertakan mesin skimmer tambahan tanpa diketahui pihak lain. Lalu mereka melakukan copy data dan mencetak CC kloning. Bisa juga dengan cara manual mencatat data nomor, nama dan tanggal berlaku kartu kredit plus 3 digit CVV di belakang kartu.

“Dengan data yang tertera di kartu kredit, para pelaku bisa melakukan transaksi di berbagai marketplace. Memang ada yang meminta tambahan OTP SMS, namun tidak semua. Dalam kasus tiket kekinian ini CC Jepang yang dipakai pelaku nampaknya tidak memerlukan SMS OTP, sehingga bisa dipakai berkali-kali,” jelas Pratama.

Baca juga  Wagub Uu : Gayung Bersambut , Program BES Selaras dengan Program Jabar

Menurutnya, edukasi perbankan kepada nasabah terkait kartu kredit perlu ditingkatkan. Kewajiban memakai pin 6 digit pada setiap transaksi juga belum semua diaplikasikan oleh nasabah. Perbankan perlu lebih tegas dalam sosialisasi.

“Tahun 2015 ada kejadian seorang anak SMP di Jawa Tengah melakukan trasaksi marketplace dengan kartu kredit orang Indonesia juga tanpa ijin. Ternyata anak tersebut mengambil data CC dari forum internet yang terbuka. Ini juga kejadian serupa dengan kasus @tiketkekinian namun dalam skala lebih kecil,” terangnya.

Kedepan perlu standar bagi marketplace untuk memperkecil kemungkinan carding dalam transaksi, dengan selalu meminta OTP SMS. Namun ini bisa direalisasikan bila sistem dari perbankan juga sudah siap. Karena dalam beberapa transaksi kecil, pembayaran dengan CC sering tidak diminta OTP SMS. [] Admin

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

5 + 2 =

Terpopuler

To Top