Pengukuhan insinyur oleh IPB dan PPI, Sabtu (25/7/2020)

IPB University dan PPI Kukuhkan 434 Insinyur, Salah Satunya Menteri Siti Nurbaya Bakar

BOGOR-KITA.com, BOGOR – IPB University bersama Persatuan Insinyur Indonesia (PII) mengukuhkan 434 insinyur termasuk di antaranya Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar. Acara pengukuhan dilakukan secara daring, Sabtu (25/7/2020). 

Ini adalah pengukuhan insinyur di IPB University pertama sejak gelar insinyur dihapuskan dan diganti menjadi sarjana. Pengukuhan insinyur pertama ini terbagi menjadi tiga bidang yaitu 376 orang dari bidang Insinyur Teknik Kehutanan, 24 orang dari Insinyur Industri Pertanian, dan 34 orang Insinyur Teknik Pertanian. Semua lulusan ini berasal dari jalur Rekognisi Pembelajaran Lampau atau RPL.

Rektor IPB University, Prof Dr Arif Satria berharap lulusan insinyur pertama ini dapat menjadi sumber daya manusia unggul dan mendukung program profesi insinyur jalur reguler.  “Kami ucapkan selamat kepada 434 orang yang dikukuhkan hari ini. Lulusan terdiri dari 73 dosen IPB University dan 561 lulusan berasal dari instansi lain baik dosen, instansi pemerintah maupun perguruan tinggi swasta,” tutur Prof Arif dalam keterangan tertulis diterima BOGOR-KITA.com, Sabtu siang.

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Kemendikbud RI, Prof Nizam menyampaikan tambahan insinyur baru ini, selain menjadi insinyur profesional, tentu membawa nafas dari kampus IPB University sebagai technosociopreneur university. “Seperti semangat setiap insinyur Indonesia, yaitu membangun peradaban bangsa dan memberikan manfaat untuk meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakat, bangsa dan negara. Sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang nomor 11 tahun 2014, ini adalah tantangan besar menghadapi dunia profesi keinsinyuran kita dengan terbukanya pasar tenaga kerja ASEAN dan mobilitas dari profesi termasuk di dalamnya profesi insinyur, itu sudah dibuka lebar,” tuturnya.

Sementara, lanjutnya, tatanan keinsinyuran profesional di dalam negeri pada waktu itu belum ada. Ketika di tahun 2014 Indonesia menyiapkan Undang-undang keinsinyuran, rasio jumlah insinyur atau sarjana teknik per juta penduduk Indonesia baru 2.671 insinyur per satu juta penduduk.

“Ini jauh dari Korea Selatan yang memiliki rasio insinyur sebesar 75.303 insinyur per satu juta penduduk. Saat ini kita tahu Indonesia sedang mendorong pembangunan infrastruktur yang diharapkan menjadi konektor pusat-pusat pertumbuhan ekonomi, produksi dengan pasar dan juga pusat-pusat kegiatan masyarakat yang akan mengangkat perekonomian bangsa dan negara secara signifikan ke depan,” jelas Prof Nizam.

Lebih lanjut ia menerangkan, pembangunan ke depan yang diharapkan adalah pembangunan berkelanjutan yang inklusif dan ramah lingkungan. Oleh karena itu, kunci dari semua itu adalah para insinyur yang dihasilkan dari perguruan tinggi adalah insinyur unggul.

Sementara Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII), Dr Heru Dewanto mengucapkan selamat kepada seluruh insinyur yang dikukuhkan pada hari ini. Ia menjelaskan, selama lima tahun ini, Indonesia telah melakukan lompatan pembangunan infrastruktur secara signifikan.

“Sebuah kehormatan bagi para insinyur yang telah menjadi aktor utama di dalam membuat lompatan infrastruktur tersebut. Namun demikian, pandemi ini mengancam kondisi infrastruktur kita, berkurangnya investasi dapat menurunkan keandalan dan kapasitas infrastruktur yang berdampak pada cost production yang meningkat dan menurunkan daya saing produk Indonesia,” jelas Heru.

Oleh karena itu, lanjutnya, capaian yang sudah ada harus dipertahankan dan tidak boleh tergerus oleh pandemi, karena infrastruktur adalah pondasi bagi recovery pasca pandemi.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar yang juga dikukuhkan sebagai insinyur pada hari ini mengatakan insinyur memiliki peran penting dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Untuk itu, seorang insinyur harus dapat bersaing di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) serta turut berperan dalam kompetisi global guna menciptakan sumberdaya manusia yang berkualitas.

“Peran insinyur di berbagai bidang industri juga harus ditingkatkan untuk merangsang perkembangan penelitian dan teknologi industri di Indonesia. Selain itu, perlu adanya dorongan dalam pemutakhiran pengetahuan. Seorang insinyur tidak hanya berperan dalam operasi dan pemeliharaan perangkat keras melainkan turut mengembangkan daya saing dan nilai tambah secara berkelanjutan di bidang industri,” papar Siti Nurbaya. [] Hari



Bogor-Kita.com - Sejak 2010


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *