Kab. Bogor

Hati-hati, Hidup Banyak Gaya Banyak Tekanan

Syarifudin Yunus

Oleh: Syarifudin Yunus, Pegiat Literasi TBM Lentera Pustaka Bogor

BOGOR-KITA.com, TAMANSARI – Era digital identik dengan banyak gaya. Persis seperti orang-orang di media sosial. Makin banyak gaya makin bergengsi. Tanpa gaya, hidup seakan kurang berharga. Begitu kira-kira mottonya. Lagi-lagi banyak gaya.

Saking gayanya. Sekalipun di masa prihatin akibat pandemi Covid-19. Baju dinas anggota DPRD saja pengen yang bermerek terkenal. Belum lagi Gubernur dan Wakil Gubernur yang beli mobil dinas hingga Rp2,8 miliar. Belum lagi artis yang protes PPKM dengan aksi berbikini di jalan raya. Ditambah lagi prank hibah Rp 2 triliun. Netizen +62 pun geram sekaligus sambil komentarin apa saja. Segala lupa dibahas, segala peristiwa dikupas. Semua berakar dari “banyak gaya”. Apalagi polah atau tingkah laku sosok yang tidak suka, pasti jadi sorotan. Penuh prasangka pun bagian dari gaya.

Baca juga  Soal Literasi dan Taman Bacaan, Tidak Bisa Hanya di Belakang Meja

Kita sering lupa. Makin banyak gaya itu makin banyak tekanan. Mungkin memang sudah zamannya. Banyak orang berlomba tingkatkan gaya hidup. Agar tampak lebih bergaya. Segala sesuatu diukur hanya dari harga. Hingga lupa hidup sederhana. Susah untuk jadi apa adanya. Biarpun utang ada di mana-mana. Semua karena banyak gaya.

Banyak gaya memang bikin banyak tekanan.

Gaya hidup kegedean, perilaku di luar kemampuan. Terjebak hedonisme, nafsu konsumtif, hingga pengen hidup bergaya. Pantas kata orang jalanan, “lebih besar pasak daripada tiang”. Lebih banyak gaya daripada daya upaya. Lebih besar pengeluaran daripada pendapatan. Makin benar, banyak gaya banyak tekanan. Tekanan ini, tekanan itu. Tekanan cicilan, tekanan utang, bahkan tertekan gaya hidup.

Baca juga  Giatkan Baca Anak, TBM Lentera Pustaka Cabang Balumbang Jaya Diresmikan

Manusia banyak gaya. Tidak suka melihat orang sederhana. Karena dianggap tidak level, tidak sepadan. Pergaulan dipilih, tempat tongkrongan memilih. Beda sama si Mark Zuckerberg yang punya Facebook. Padahal kaya banget. Tapi hidupnya biasa saja. Bajunya cuma kaos oblong. Mobil dan gaya hidupnya pun sederhana. Karena si Zuckerberg tidak banyak gaya.

Bila terjebak urusan gaya. Ada benarnya kata orang tua. Rezeki Allah SWT sebesar apapaun tidak akan pernah cukup untuk gaya hidup. Tapi rezeki sekecil apapun pasti cukup untuk hidup. Kenapa bisa? Karena kebanyakan gaya dan over kapasitas. Hingga lupa bersyukur, lupa hidup sederhana.

Hati-hati saat banyak gaya. Karena makin banyak gaya makin banyak tekanan.

Baca juga  Kenapa Kamu Gampang Lelah?

Hiduplah sesuai kemampuan, jangan sesuai kemauan. Hidup janga terlalu banyak omongan tapi minim tindakan. Karena gaya, siapa pun jadi butuh sanjungan dan tepuk tangan. Padahal jarang baca di taman bacaan. Salam literasi. []

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

To Top