Kab. Bogor

Gus Udin Sebut Bogor Barat jadi Basis Pergerakan Sejak Zaman Penjajahan

Latihan Kepemimpinan Mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Bogor, Kamis (5/1/2023).

BOGOR-KITA.com, LEUWILIANG  – Tokoh Pemuda Jawa Barat, Aep Saepudin Muhtar  menyebut bahwa sikap kritis pemuda di Bogor sudah melekat sejak masa penjajahan dahulu.

Berdasarkan sejarah, Pemuda di Kabupaten Bogor di wilayah barat, sudah mengasah sikap kritisnya sejak 1930-1945.

“Saat itu, Bogor Barat menjadi basis pergerakan dan perjuangan melawan kolonial,” ungkap Aep Saepudin Muhtar saat memberikan materi Latihan Kepemimpinan Mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Bogor, Kamis (5/1/2023).

Tahun 1930, kata dia, organisasi Kepanduan Hizbul Wathan di Leuwiliang, Al-Ittihadul Islamiyah di Cibungbulang, dan Taman Siswa Nirmala di Jasinga lahir dan berkembang di wilayah tersebut.

“Saat itu juga muncul organisasi politik, seperti Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo), dan Partai Indonesia (Partindo),” papar Gus Udin sapaannya.

Di saat masa penjajahan itu juga, para pemuda kritis di Desa Pasarean, Kecamatan Pamijahan memprotes besarnya pajak yang diberikan para penjajahan kepada masyarakat.

Baca juga  Jubir Covid-19 Kabupaten Bogor: Positif 40, Cibinong Terbanyak

“Tahun 1935, di Desa Pasarean meletus protes petani terhadap tuan Partikelir yang memungut pajak yang jumlahnya tidak wajar,” paparnya.

Tak hanya itu, organisasi keagamaan lainnya yang melahirkan para aktivis muda di Kabupaten Bogor bagian barat itu terus-menerus berkembang.

“Seperti Laskar Hizbullah Leuwiliang, Laskar Sabilillah Bogor dan Markas Perjuangan Rakyat Leuwiliang yang dipimpin oleh seorang Ulama bernama KH. Sholeh Iskandar itu juga merupakan wadah pencetak bibit-bibit aktivis yang pro rakyat,”paparnya.

Sehingga, tak heran Mahasiswa dan Pemuda di Kabupaten Bogor bagian barat terkenal dengan kekritisannya terhadap setiap kebijakan yang dianggap kurang mengakomodir kebutuhan masyarakat.

“Bogor Barat terkenal dengan banyaknya aktivis yang selalu menjadi yang pertama bersuara saat ada kebijakan yang tidak mensejahterakan rakyat,” ungkapnya.

Baca juga  Corona Kabupaten Bogor: Makin Banyak Positif 60, Makin Banyak Sembuh 53

Sehingga, dengan potensi SDM yang berkarakter itu, Bogor Barat sudah layak memisahkan diri dari Kabupaten Bogor menjadi otonom Baru Kabupaten Bogor Barat.

“Sehingga dalam rangka persiapan menghadapi daerah otonom baru itu, harus disiapkan Sumber Daya Manusia yang betul-betul mau berjuang dan membangun, terlebih kita akan menghadapi bonus demografi. Bogor Barat sudah punya itu semua, ” tutupnya.

Senada, Presiden Mahasiswa BEM Universitas Muhammadiyah Bogor Raya Panca Aditya Nugraha menyebut bahwa tidak sedikit aktivis Bogor Barat yang sukses mengemban karirnya di dunia sosial, pendidikan dan politik.

Namun, ia mengingatkan bahwa para aktivis tidak terlahir begitu saja, namun ada proses-proses yang membuat mereka sedemikian kritis terhadap perkembangan sosial, ekonomi maupun politik. Salah satu prosesnya yakni dengan mengenyam bangku perkuliahan..

Baca juga  Gus Udin Ajak Millenial Bogor Tingkatkan Skill Hadapi Indonesia Emas 2045

“Di Bogor Barat ada Universitas yang baru lahir sehingga ini betul-betul harus jadi kebanggaan warga khusus nya di Bogor Barat, karena ternyata Bogor Barat sudah mulai membenahi diri untuk siap bersaing,” ungkapnya.

Ia juga menyebut bahwa, dialog-dialog seperti saat ini akan memantik daya kritis para pelajar untuk lebih berkembang dalam memikirkan kesejahteraan masyarakat.

“Tentu dialog ini juga salah satu upaya untuk mewadahi kawan-kawan mahasiswa untuk dapat menyampaikan pendapat dan berdiskusi dengan tokoh pemuda Bogor juga dengan anggota DPRD kabupaten Bogor,” tandasnya. [] Hari

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

To Top