Dosen IPB Gelar Pelatihan Sistem Mini-Apartemen Kepiting Bakau di Ujung Pangkah
BOGOR-KITA.com, GRESIK – Tim Pemberdayaan Masyarakat IPB University menggelar sosialisasi dan pelatihan penerapan sistem mini-apartemen kepiting bakau bersama Kelompok Masyarakat Pengawas Muara Tangguh di Desa Pangkah Wetan, Kecamatan Ujung Pangkah, Kabupaten Gresik, pada 18-20 Juli 2026.
Kegiatan tersebut diikuti ketua dan anggota kelompok serta Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Cabang Gresik.
Sosialisasi dan penyampaian materi teori dilaksanakan pada 18 Juli 2026 di Kantor HNSI Desa Pangkah Wetan. Sementara praktik pembuatan mini-apartemen kepiting bakau dilakukan pada 19-20 Juli 2026 di rumah salah satu anggota kelompok, Ahmad.
Tim IPB University yang terlibat dalam kegiatan tersebut terdiri atas Sulistiono, A. Mubarok, Asharuddin, dan M. Ramadhan.
Dalam kegiatan praktik, anggota kelompok bersama tim IPB University memasang kerangka tempat pemeliharaan kepiting berukuran panjang 2 meter, tinggi 1,8 meter, dan lebar 40 sentimeter. Kerangka tersebut terdiri atas tiga tingkat.
Wadah pemeliharaan menggunakan 18 galon berkapasitas 20 liter yang disusun dalam tiga tingkat, dengan masing-masing tingkat terdiri atas enam galon.
Selain pemasangan wadah, peserta juga melakukan pemasangan sistem pengairan dan penyaringan air dalam sirkulasi pada 19 Juli 2026. Pada 20 Juli 2026, kegiatan dilanjutkan dengan pemeliharaan kepiting bakau di dalam wadah tersebut.
Kepiting bakau merupakan salah satu komoditas perikanan yang memiliki nilai ekonomi. Usaha budidayanya antara lain pembesaran, penggemukan, pematangan telur, serta produksi kepiting lunak atau kepiting soka.
Dalam pelatihan tersebut, sistem pemeliharaan yang diterapkan diarahkan untuk penggemukan kepiting bakau. Menurut tim pelaksana, proses penggemukan membutuhkan waktu sekitar 2-3 minggu sebelum kepiting dapat dipanen untuk dipasarkan.
Kecamatan Ujung Pangkah merupakan salah satu wilayah penghasil perikanan di Kabupaten Gresik. Sejumlah masyarakat di wilayah tersebut juga melakukan kegiatan budidaya kepiting bakau di tambak.
Namun, kegiatan budidaya menghadapi sejumlah kendala, terutama saat musim kemarau ketika ketersediaan air tawar berkurang dan sebagian lahan tambak mengalami kekeringan. Kondisi air juga dapat memengaruhi kelangsungan hidup kepiting bakau.
Untuk mengatasi kendala tersebut, tim memperkenalkan sistem pemeliharaan di dalam ruangan atau area beratap di sekitar rumah. Sistem tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat melakukan pemeliharaan kepiting dengan kondisi lingkungan yang lebih mudah dikontrol.
Tim IPB University berharap penerapan sistem mini-apartemen tersebut dapat menjadi salah satu alternatif bagi masyarakat untuk melakukan produksi kepiting bakau dalam skala terbatas. Jika penerapannya dinilai berhasil, sistem tersebut diharapkan dapat dikembangkan dan diterapkan oleh masyarakat lainnya.
