Ciliwung di daerah Bogor dengan latar belakang Gunung Salak akhir abad ke-19. (Foto: koleksi Tropenmuseum Amsterdam).

Bjonar Hotvedt dari Norwegia Bicara Soal Sungai di Indonesia

BOGOR-KITA.com, BOGOR – Sungai Ciliwung merupakan salah satu sungai yang ikonik di Indonesia. Tidak heran kalau Bjonar Hotvedt, Deputy Head of Mission, Embassy of Norway, paham situasi sungai di Indonesia termasuk tentunya Ciliwung yang berhulu di Gunung Pangrango, Jawa Barat, lalu mengalir melalui Puncak, Ciawi, kemudian membelok ke utara melalui Bogor, Depok, Jakarta dan bermuara di Teluk Jakarta.

Dalam webiner  bertajuk “Sungai dan Segala Permasalahannya” yang digelar penggiat Ciliwung yang tergabung dalam Hakikat Ciliwung, Jumat (25/9/2020), Bjonar Hotvedt, tampil sebagai salah satu pembicara.

“Webinar ini digelar untuk memaknai Hari Sungai Dunia yang jatuh pada Minggu, 27 September 2020,” kata salah seorang pendiri Hakekat Ciliwung, Suparno Jumar dalam rilis kepada BOGOR-KITA.com, Sabtu (26/9/2020).

Apa kata Bjonar Hotvedt soal sungai di Indonesia? Seperti yang sering dikeluhkan.

Namun, menurut Bjonar Hotvedt tidak perlu pesimis.

Empat dekade lalu, kata Bjonar Hotvedt, Norwegia memiliki masalah yang sama dengan Indonesia, yaitu sungai yang penuh sampah. Tapi dengan aturan ketat dari pemerintah, program yang menjangkau semua sektor publik secara intensif, penegakan hukum yang kuat, persoalannya selesai.

Baca juga  Ini Pemenang Pilkades Serentak Di 9 Desa Di Kecamatan Ciampea

Saat ini, imbuhnya, sungai-sungai di Norwegia sudah sangat bersih, bahkan airnya layak minum. “Kuncinya adalah pemerintah yang disiplin dan berinvestasi pada upaya pengolahan limbah,” kata Bjonar Hotvedt.

Selain Bjonar Hotvedt, tampil nara sumber lain, meliputi Broer Nicko, Jagakali Cirebon, Suparno Jumar.

Broer Nicko, dalam kesempatan itu mengingatkan, ribuan sungai yang mengalir membelah wilayah dan membentuk ruang perkotaan adalah anugerah Tuhan yang Maha Esa. Sungai memberikan banyak manfaat bagi kehidupan manusia antara lain sebagai sumber mata air, energi pembangkit listrik, sumber irigasi, sumber mata pencaharian, mengalirkan air ke hilir, dan sebagai sarana transportasi.

“Sebagai upaya kolektif untuk meningkatkan kepedulian terhadap sungai, setiap individu perlu mengambil peran. Bagi kami pekerja seni memasukan pesan-pesan kepedulian kepada sungai dilakukan melalui berbagai kegiatan seni dan budaya, seperti mengolah limbah sampah menjadi barang yang berdaya guna, menyampaikan pesan-pesan melalui lagu, tarian, dan drama. Kami merasa cara ini cukup efektif untuk menarik perhatian masyarakat agar memiliki wawasan lingkungan” tutup Broer Nicko. [] Hari



Bogor-Kita.com - Sejak 2010


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *