Bisnis zaman now, yakni Start-up Australia yang didukung pemerintah sudah masuk ke Indonesia.

Bisnis Start-up Indonesia Sangat Bernas, Awas  “Dijajah” Asing

BOGOR-KITA.com – Kita pasti tidak asing dengan nama – nama  seperti Gojek, Traveloka, Tokopedia dan Bukalapak. Empat nama tersebut merupakan perusahaan start-up.  Lalu, apa itu bisnis start-up?

Bisnis start-up adalah suatu bisnis yang baru dirintis. Namun, bisnis start-up ini lebih identik bisnis yang berbau teknologi, web, internet dan yang berhubungan dengan ranah tersebut. Bisnis start-up mulai berkembang akhir tahun 90 an hingga tahun 2000.

Bagaimana Perkembangan Bisnis Startup di Indonesia

Untuk di Indonesia sendiri perkembangannya cukup bagus dan menggembirakan.  Setiap tahun banyak founder (pemilik) start-up baru bermunculan di Indonesia. Menurut dailysocial.net, sekarang ini terdapat setidaknya lebih dari 1.500 start-up lokal yang ada di Indonesia. Potensi pengguna internet Indonesia yang semakin naik dari tahun ke tahun tentunya merupakan suatu lahan basah untuk mendirikan bisnis start-up.

Menurut Rama Mamuaya, CEO dailysocial.net, start-up di Indonesia digolongkan dalam tiga kelompok yaitu start-up pencipta game, start-up aplikasi edukasi serta start-up perdagangan seperti e-commerce dan informasi.

Menurutnya start-up game dan aplikasi edukasi punya pasar yang potensial dan terbuka di Indonesia. Hal ini dikarenakan proses pembuatan game dan aplikasi edukasi relatif mudah.

Belajar dari Pemerintah Adelaide

Berikut pengalaman Budy Sugandi, Founder dan CEO Klikcoaching.com saat mengikuti Australia Awards untuk program Leadership, Entrepreneurship and Innovation for Start-Up di Queensland University of Technology, Australia.

Setelah berkeliling Kota Adelaide menemui para pelaku start-up, saya melihat semangat para pelaku start-up dengan dukungan penuh dari pemerintah. Salah satunya dari Menteri Kym Maher (SA Shadow Attorney General, Shadow Minister for Industrial Relations, Public Sector & Aboriginal Affairs and Reconciliation).

Menteri Maher menyampaikan tentang komitmen pemeritah dalam mendukung para start-up berupa kemudahan perizinan hingga bantuan grant.

Apa yang disampaikan oleh Menteri Maher bukan sekedar wacana, namun benar-benar konkret.

Adanya program Adelaide Smart City dan pengakuan dari pelaku statup membuktikan hal itu.

Sebagaimana kita ketahui, kombinasi antara bisnis, teknologi dan pasar pembeli sudah menjadi bagian tak terpisahkan.

Bisa jadi Australia memiliki modal bisnis yang bagus, namun pasar yang sebenarnya adalah tetangga mereka, Indonesia.

Indonesia memiliki kekayaan alam dan kepadatan penduduk yaitu sekitar 260 juta jiwa. Ketika sekat-sekat geografis sudah tidak ada (tanpa batas), di situlah tantangan muncul.

Apakah kita mampu berperan menjadi pemain yang mampu mengambil peluang bahkan melakukan ekspansi ke negara lain atau bahkan di negeri sendiri kita hanya menjadi penonton, melihat pemain asing yang menguasai pusaran bisnis. Jadi, kreativitas anak muda dan dukungan penuh dari pemerintah dalam mengembangkan start-up adalah sebuah keniscayaan jika kita benar-benar ingin menjadi negara maju. [] Hari/Sumber : id.techniasia.com, budysugandi.worpress.com



Bogor-Kita.com - Sejak 2010


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *