Walikota Bogor Bima Arya menjadi nara sumber di Sekolah Pimpinan HMI yang digelar di Hotel Panjang Jiwo Desa Cikeas, Sukaraja, Kabupaten Bogor, Senin (1/10/2018).

Bima Puji Sekolah Pimpinan HMI

BOGOR-KITA.com – Walikota Bogor Bima Arya puji penyelenggaraan Sekolah Pimpinan Himpunan Mahasiswa Islam Indonesia (HMI) sebagai sistem pengkaderan yang baik.

“Sekolah Pimpinan HMI merupakan program strategis untuk menyiapkan pemimpin di masa depan. Apalagi saat ini kita berada di demokrasi liberal, sekarang kanalnya demikian liar, semua bisa mengisi jabatan, baik di BUMN, Menteri dan jabatan lainnya,” kata Bima saat menjadi nara sumber di Sekolah Pimpinan HMI yang digelar di Hotel Panjang Jiwo Desa Cikeas, Sukaraja, Kabupaten Bogor, Senin (1/10/2018).

Sekolah itu sendiri berlangsung mulai tanggal 1 – 5 Oktober 2018. Dalam daftar nara sumber, selain Bima Arya, juga tampil calon wakil presiden KH Mar’uf Amin, Bupati Bogor terpilih Ade Yasin dan sejumlah nara sumber lainnya.

Bima mengatakan, sebelum reformasi, figur yang mengisi jabatan di pemerintahan terbatas. Tetapi saat ini bisa diisi oleh kalangan yang lebih luas, mulai pelawak, petinju, profesor dan lain sebagainya.

“karena itu, jika sejak awal tidak disiapkan menjadi pemimpin masa depan ini sangat ngeri sekali,” kata Bima.

Bima mengemukakan, disertasi doktornya, fokus pada pertanyaan, mengapa partai politik ini belang- belang, ada faksi-faksi.

“Saya dalami tokoh-tokohnya, saya bedah mulai dari anggota DPR RI sebelum reformasi sampai 2004,” jelasnya.

Awalnya kata Bima, di DPR RI panggungnya diisi oleh aktivis dari HMI, PMII, GMNI. Sekarang banyak dikuasai oleh saudagar atau pedagang. “Menteri-menteri diisi saudagar, ketua partai hampir semua saudagar. Ini yang menjadi pekerjaan rumah (PR) kita bersama menyiapkan pemimpin,” jelasnya.

Berbicara kaderisasi kepemimpinan, semuanya harus melalui jenjang candradimuka yang luar biasa. Bahkan di negara-negara maju menuju puncak itu prosesnya luar biasa.

“Mulai dari wali kota, gubernur, senator. Kecuali ada satu orang di Amerika Serikat, yaitu Donald Trump yang bisa dilihat hasilnya bagaimana saat ini,” tuturnya.

Dalam menyiapkan pemimpin di masa depan harus dilihat proses pengkaderannya. Mulai dari input, proses dan output. Membangun sistem pengkaderan dengan baik akan menghasilkan pemimpin yang baik pula. “Tentunya tidak bisa dilahirkan dalam 5 hari ini, tapi ini salah satu ikhtiar,” jelasnya.

Natsir pernah mengatakan pemimpin tidak dihasilkan di ruang kelas karena laboratoriumnya di luar kelas, itu benar. Akan tetapi salah satunya di ruang ini, semua bisa berinteraksi dan berdiskusi.

“Jangan sampai memilih pemimpin tidak memiliki jiwa organisatoris yang hanya memiliki logistik kemudian bisa ke puncak,” ujar Bima.

Ia merasa kagum banyak tokoh HMI yang mewarnai dengan segala pemikiran dan ideologinya. Salah satunya Cak Nur (Nurcholis Madjid) yang ia kagumi yang pemikirannya menjadi landasan HMI.

“Jangan sampai HMI hilang dari sejarah, HMI tahu cara menyeimbangkan antara kebangsaan dan keislaman,” jelasnya.

Tantangan kedepan bagaimana mencetak kader-kader pemimpin dengan mempelajari tanda-tanda zaman. Bagaimana menggabungkan antara solidarity maker dan administrator maker. “Dua aspek ini lah yang harus menjadi aspek tipologi calon pemimpin masa depan,” katanya.

Pada kesempatan tersebut, sebelumnya Bima mengajak semua untuk mendoakan korban tsunami di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah. “Semoga yang meninggal dunia diterima sisi-Nya dan keluarganya diberikan ketabahan serta pemerintah bisa bergerak dengan cepat tanggap mengatasi bencana,” ujarnya. [] Admin



Bogor-Kita.com - Sejak 2010


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *