Wamen PU Resmikan Alat Deteksi Banjir dan Curah Hujan KP2C
BOGOR-KITA.com, BOGOR – Wakil Menteri Pekerjaan Umum, Ir. Diana Kusumastuti, M.T., meresmikan penggunaan alat peringatan dini banjir berupa Automatic Water Level Recorder (AWLR) dan alat pengukur curah hujan, Rabu (15/4/2026), di Dermaga 6, Vila Nusa Indah 3, Bojongkulur, Kabupaten Bogor. Peresmian ditandai dengan penekanan sirene.
Pengoperasian alat ini berada di bawah kendali Komunitas Peduli Sungai Cileungsi Cikeas (KP2C). Perangkat tersebut merupakan hibah dari AIM Analytics Malaysia dan ditempatkan di jalur Sungai Cileungsi dan Sungai Cikeas, berdekatan dengan titik pantau peil scale (alat ukur tinggi muka air manual) serta CCTV milik KP2C.
Acara ini dihadiri oleh Deputi Penanggulangan Bencana Kemenko PMK, Direktur Peringatan Dini BNPB, Kepala Pelaksana BPBD Jawa Barat, BPBD Kabupaten Bogor, BPBD Kota Bekasi dan BPBD Kabupaten Bekasi.
Wamen Diana berharap penggunaan alat tersebut dapat diperluas ke berbagai institusi dan pemerintah daerah demi meningkatkan keselamatan masyarakat.
“Karena ini berada di wilayah Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Ciliwung Cisadane, tolong dikoneksikan agar wilayah sekitar terbantu,” ujar Diana.
Dalam kegiatan yang juga dihadiri perwakilan Kedutaan Besar Malaysia untuk Indonesia serta Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) itu, Diana mengaku pernah mengalami banjir tahunan saat tinggal di Kelapa Gading, Jakarta, dan di Cirebon, Jawa Barat.
“Untuk itu, masyarakat harus siap menghadapi bencana. Alat ini sangat mendukung sistem peringatan dini banjir,” katanya.
Ia menambahkan, luapan sungai umumnya disebabkan berbagai faktor, termasuk penggunaan sempadan sungai yang tidak semestinya. “Sempadan sungai harus bebas dari permukiman. Yang terpenting adalah keselamatan masyarakat. Ruang terbuka hijau juga penting,” ujarnya.
Terkait pembangunan delapan kolam retensi sebagai upaya pengendalian banjir, Diana menjelaskan program tersebut masih dalam tahap perencanaan dan kajian. “Semoga program bantuan JICA ini mulai dilelang pada 2027,” katanya.
Menurut dia, pemerintah memiliki rencana penanggulangan banjir hingga 2028, dengan paket pekerjaan 1 hingga 6 berada di wilayah Bekasi. “Namun, ada pembangunan yang terhambat pembebasan lahan,” ujarnya.
Sementara itu, Group Executive Director AIM Analytics Malaysia, Ir. TS Reneir Tara, mengatakan teknologi yang dikembangkan perusahaannya akan sangat bermanfaat jika digunakan masyarakat karena memberikan waktu respons sebelum banjir terjadi.
“Teknologi ini menyelamatkan masyarakat. Kami berharap sistem ini tidak berhenti sebagai proyek percontohan,” katanya.
Ketua KP2C, Puarman, menjelaskan alat AWLR akan memperkuat sistem pemantauan yang sudah dimiliki KP2C, seperti CCTV dan peil scale.
“Kami juga berencana berkoordinasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mengkaji korelasi data curah hujan dengan potensi kenaikan tinggi muka air secara real time,” ujarnya.
Alat tersebut bekerja dengan mengirimkan data numerik yang diterjemahkan menjadi informasi tertulis mengenai status sungai, seperti normal dan siaga, yang dapat diakses melalui ponsel pengurus KP2C. Selain itu, alat ini juga mampu membaca curah hujan.
“Alat ini sangat membantu agar laporan kepada masyarakat lebih akurat dan lengkap. Kami juga bisa memprediksi volume air yang akan datang dari hulu,” kata Puarman.
Dalam kesempatan itu, Diana bersama sejumlah pejabat menebar 7.000 benih ikan nila di Sungai Cikeas. Benih tersebut merupakan bantuan dari Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Bogor. Ia juga melakukan penanaman pohon dari bibit yang diberikan Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi. [] Hari
