Situs Gunung Padang di Kabupaten Cianjur Jawa Barat

Situs Gunung Padang di Cianjur, Menyedot Perhatian Dunia, Diabaikan Ridwan Kamil

BOGOR-KITA.com – Gunung Padang di Kabupaten Cianjur sudah sejak lama menyedot perhatian dunia terutama para ilmuan. Tetapi mengapa pemerintah Indonesia tidak memperlihatkan animo yang sama? Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat Ahmad Heryawan menjabat Gubernur Jabar, pernah memberikan perhatian. Tetapi hasilnya tidak maksimal, meskipun sejak itu, Gunung Padang semakin menyedot perhatian dunia.

Sekarang Ridwan Kamil menjabat Gubernur Jabar. Tetapi hampir tidak pernah sekalipun menyebut nama Gunung Padang. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Jabar 2018 -2023  yang dirumuskan Ridwan Kamil yang halamannya berjumlah ratusan, tidak satu kata pun tertulis Gunung Padang atau Piramida Cianjur. Mengapa? Lupa atau dianggap tidak bermakna, atau dianggap terlalu kecil untuk dimasukkan dalam RPJMD?

Sedot Perhatian Dunia Diabaikan Ridwan Kamil

Dulu, sesuai penelitian yang dilakukan oleh tiga lembaga yang berkompeten di Indonesia, disimpulkan bahwa Gunung Padang tidak beda dengan gunung lain yang ada di Jabar atau di Indonesia. Gunung Padang disimpulkan hanya sebuah gunung, bukan situs.

Tetapi setelah Tim Terpadu Riset Mandiri (TTRM) yang dipimpin oleh arkeolog Universitas Indonesia DR Ali Akbar turun melakukan penelitian, hasil penelitian yang dilakukan sebelumnya gugur. TTRM yang meneliti tahun 2014, membuktikan Gunung Padang bukan sekadar gunung, melainkan sebuah situs megalitikum yang tertutup debu vulkanik.

Berapa usia Situs Gunung Padang? Berdasarkan uji penanggalan jejak karbon yang dilakukan Laboratorium Batan, pada material paleosoil di kedalaman empat meter menunjukkan usia 5.500 tahun Sebelum Masehi (SM). Sementara hasil dari Laboratorium Beta Miami, Florida, Amerika Serikat (AS), material dari kedalaman empat hingga 10 meter berasal dari masa 7600-7800 SM.

Belakangan uji carbon dating yang dilakukan laboratorium Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) dan laboratorium di Miami, Amerika Serikat, memperlihatkan usia sample yang diperoleh dari coring di sejumlah titik di kawasan itu lebih tua dari dari 11.000 tahun.

Sejak saat itu Gunung Padang menyedot perhatian dunia. Para arkeolog berdatangan ke Gunung Padang. Arkeolog asal Bosnia Herzegovina, Semir Sam Osmanagich terpukau oleh situs Gunung Padang. Situs berbentuk punden berundak era kebudayaan megalitikum itu, dikatakan memiliki nilai ilmu pengetahuan yang sangat tinggi. Selain itu, situs itu juga memperlihatkan potensi wisata yang besar.

“Saya sangat kagum dengan situs ini. Keberadaan situs ini sangat penting bagi ilmu pengetahuan dalam dan luar negeri,” kata Sam Osmanagich saat mengunjungi Gunung Padang pada Mei 2014.

Sam membandingkan struktur bangunan situs Gunung Padang dengan penemuannya di Kota Visoko, Bosnia Herzegovina. Menurutnya, kedua situs memiliki kemiripan. Di Visoko ada  beberapa bukit yang menurut hasil penelitian Sam, direkayasa oleh manusia sehingga berbentuk seperti piramida, seperti halnya juga di Gunung Padang.

Begitu pula dengan arkeolog dunia asal AS Graham Hancock, juga pernah ke situs Gunung Padang.

Ahli paleometal Israel Prof. Sariel Shalev bahkan ingin ikut serta dalam riset Gunung Padang. Keinginan ikut meriset Gunung Padang disampaikan Prof. Shalev ke panitia pertemuan internasional yang diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia.

Prof. Shalev merupakan ilmuwan Yahudi yang ahli dengan metal purba. Dia memiliki ketertarikan pada penggunaan benda-benda logam dalam peradaban manusia di masa lalu.

Salah satu studinya yang terkenal adalah mengenai logam yang digunakan dalam pembuatan pedang dan belati di akhir zaman perunggu di Kana’an atau kawasan di sekitar Palestina. Pada tahun 2010, Prof. Shalev meneliti kaitan antara kisah-kisah dalam kitab Injil dengan teknologi metalurgi yang digunakan masyarakat Kana’an di masa lalu.

Gunung Padang juga menarik perhatian wartawan senior Jepang yang juga penulis yaitu Saburo Hatano. Saburo Hatano bersedia dengan kesukarelaan menjadi PR atau mengampanyekan keagungan monumen yang ada di Indonesia tersebut.

Puluhan ilmuwan dan peneliti dari berbagai universitas di dunia juga telah menyampaikan kekaguman terhadap penelitian yang dilakukan oleh Ali Akbar cs di situs megalitikum Gunung Padang. Para ilmuan dunia itu menilai Gunung Padang sebagai mahakarya arsitektur purba.

Gunung Padang menjadi primadona di Korea. Ini terbukti dari Konferensi Megalitikum Asia Tenggara dan Pasifik yang diselenggarakan di Universitas Sogang, Seoul, Korea Selatan, 17 Oktober 2014.

Anggota Tim Terpadu Riset Mandiri (TTRM) Gunung Padang Dr Ali Akbar yang diundang sebagai salah satu pembicara, sengaja diberi kesempatan terakhir. Mengapa, karena seluruh arkeolog yang menjadi peserta konferensi internasional itu ingin mendengarkan penjelasan yang utuh mengenai riset yang dilakukan di situs megalitikum Gunung Padang.

Dari presentasi yang disampaikan DR Ali Akbar, para arkeolog mancanegara mengakui proses dan metode yang dilakukan oleh TTRM. Metode dan teknik yang TTRM tergolong paling maju dan komplit.

Peserta konferensi juga terpukau dengan seismic tomography, citra arsitektural, coring, dan beberapa artefak yang ditemukan yang telah diuji dengan CT-Scan, analisa laboratorium metal, hingga analisa laboratorium petrologi.

Dari konferensi itu disimpulkan bahwa riset di Gunung Padang menjadi contoh perubahan besar riset arkeologi dunia.

Gunung Padang adalah wajah Nusantara. Nilai-nilai kebudayaannya sangat tinggi. Gunung Padang merupakan sebuah bangunan modern yang berjaya di masanya. Bangsa Indonesia patut berbangga karena memiliki situs Gunung Padang.

Tetapi mengapa Gubernur Jabar Ridwan Kamil sama sekali tidak menyebut Gunung Padang dalam RPJMD 2018 – 2023? Ridwan Kamil jelas tidak mengabaikan objek wisata dalam RPJMD itu. Tetapi mengapa tidak ada satu kata pun tertulis tentang Gunung Padang? Bukankah Gunung Padang merupakan salah satu kekayaan Jawa Barat, yang setidaknya bisa menjadi objek wisata kelas internasional? Bukankah jika dipromosikan, Gunung Padang bisa dengan cepat mendatangkan wisatawan manca negara yang sangat potensial memicu perekonomian Kabupaten Cianjur, Jawa Barat dan Indonesia?

Mengapa ilmuan dunia memberi perhatian terhadap Gunung Padang tetapi Ridwan kamil mengabaikannya? [] Petrus Barus



Bogor-Kita.com - Sejak 2010


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *