Situs Gunung Padang di CIanjur, Jawa Barat

Mengapa Jokowi dan Ridwan Kamil Tak Pernah Bicara Situs Gunung Padang?

BOGOR-KITA.com –  Mengapa Presiden Jokowi dan Gubernur Jawa Barat Ridwan kamil tidak pernah menyebut nama apalagi bicara soal Situs Gunung Padang yag disebut Piramida Cianjur, yang berada di Kabupaten Cianjur Jawa Barat, tepatnya berada di perbatasan Dusun Gunung Padang dan Panggulan, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur? Bukankah Situs Gunung padang merupakan objek wisata budaya kelas dunia yang tidak kalah dibanding Candi Borobudur di Magelang atau Piramida Agung Giza di Mesir?

Sketsa Situs Gunung Padang

Kelas Dunia

Pertanyaan sama sebetulnya layak diajukan kepada Presiden RI sebelum Jokowi dan Gubernur Jawa Barat sebelum Ridwan Kamil. Sebab, situs prasejarah peninggalan kebudayaan Megalitikum di Jawa Barat sudah diketahui sejak 1914 dari laporan yang dimuat pada Rapporten van de Oudheidkundige Dienst (ROD, Buletin Dinas Kepurbakalaan). Sejarawan Belanda, N. J. Krom juga telah menyinggungnya pada tahun 1949.

Selain itu, situs Gunung Padang bukan situs biasa, melainkan sebuah situs yang memiliki nilai tinggi dari berbagai aspek, baik aspek wisata, ilmu pengetahuan maupun aspek yang terkait dengan jati diri Bangsa Indonesia.

Dari segi usia, Situs Gunung Padang termasuk situs sangat tua. Betapa tidak, situs ini, menurut sejumlah penelitian dalam dan luar negeri dibangun 10 ribu tahun Sebelum Masehi. Bandingkan dengan Piramida Agung Giza yang diperkirakan dibangun sekitar tahun 2.560 Sebelum Masehi atau Candi Borobudur diperkirakan dibangun tahun 770 Masehi.

Masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, ada rencana untuk mengekskavasi atau menggali situs ini untuk mengetahui benda purbakala apa saja yang tersimpan di dalamnya. Tetapi rencana itu batal.

Penyebutan situs Gunung Padang oleh Presiden Jokowi dinilai relevan, selain dampaknya dipastikan akan langsung mendunia, juga untuk menjawab sebagian kebutuhan kaum milenial yang menggandrungi traveling.  Ditambah dengan penyebutan oleh Gubernur Jabar Ridwan Kamil, maka Situs Gunung padang berpotensi menjadi objek wisata favorit.

Jika Presiden Jokowi menyebut situs Gunung Padang apalagi berusaha mempromosikannya dengan cara mengunjunginya dan kemudian menyebarkan foto kunjungan melalui akun instagranm atau twitter, maka situs Gunung Padang akan cepat tenar. Tidak tertutup kemungkinan Situs Gunung Padang berpotensi lebih tenar ketimbang sepuluh destinasi pariwisata yang menjadi prioritas pemerintah, meliputi  Danau Toba (Sumut), Belitung (Babel), Tanjung Lesung (Banten), Kepulauan Seribu (DKI Jakarta), Candi Borobudur (Jateng), Gunung Bromo (Jatim), Mandalika Lombok (NTB), Pulau Komodo (NTT), Taman Nasional Wakatobi (Sulawesi Tenggara), dan Morotai (Maluku Utara)

Ditambah dengan promo oleh Ridwan Kamil, maka popularitas Gunung Padang diperkirakan akan sangat menguntungkan, tidak saja bagi perekonomian masyarakat Cianjur, tetapi juga Jawa Barat. Jika terhadap 10 destinasi wisata prioritas pemerintah ikut serta mengupayakan kehadiran investor, maka untuk kasus Gunung Padang, investor diyakini akan datang sendiri.

Bukan Gunung Tapi Piramida

Jauh sebelumnya memang sempat berkembang polemik yang mengatakan situs itu bukan piramida melainkan sebuah gunung. Tetapi kini, polemik itu sudah ditutup. Perdebatan sudah diakhiri. Piramida Cianjur yang sekarang berbentuk gunung dan diberi nama Gunung Padang, bukan gunung, bukan mitos, bukan rekaan, melainkan fakta, nyata adanya.

Ocehan tiga tim peneliti sebelumnya, yakni tim dari Badan Geologi ESDM, tim dari Kemenristek, dan tim dari Arkeologi Nasional, sudah tidak perlu lagi didengar. Sekarang saatnya memperhatikan dengan seksama sambil terus mendukung kinerja tim peneliti keempat, yakni Tim Terpadu Riset Mandiri Gunung Padang yang dipimpin Dr Ali Akbar, arkeolog muda ahli prasejarah dari Universitas Indonesia, yang mulai melakukan penelitian sejak 2012.

Ocehan tiga tim sebelumnya, yang mengatakan tidak ada bangunan di bawah permukaan Gunung Padang, dibuang saja jauh-jauh. Kesimpulan tiga tim sebelumnya itu, jelas-jelas menyesatkan. Sebab, penelitian Tim Terpadu Riset Mandiri Gunung Padang yang dipimpin Dr Ali Akbar itu betul-betul membuktikan bahwa ada bangunan di bawah permukaan Gunung Padang. Apa bentuknya? Piramida.

Tim Ali Akbar membuktikan secara meyakinkan bahwa Gunung Padang bukanlah gunung, melainkan sebuah bangunan sangat besar berbentuk mirip piramida yang tertimbun debu vulkanik sehingga terlihat seperti gunung yang sudah ditumbuhi pepohonan.

Bukti-buktinya sudah jelas. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat turap penahan, terdapat pintu gerbang, terdapat besi, terdapat perekat purba, terdapat batu bersusun, terdapat makam dan lain sebagainya.  Singkatnya, Gunung Padang bukanlah gunung, melainkan piramida yang sudah tertimbun debu vulkanik.

Seperti apa piramida itu? Luar biasa. Setidaknya, piramida yang dibangun sekitar 10 ribu tahun Sebelum  Masehi itu jauh lebih tua dibanding piramida yang ada di Mesir yang dikagumi oleh manusia sejagat.

Jika pohon yang tumbuh di debu vulkanik yang menutupi piramida itu dibersihkan, maka akan tampak bentuk aslinya yang bangunannya seperti Piramida Agung Giza di Mesir atau Candi Borobudur di Magelang.

Bahkan ada yang mendebarkan, karena ternyata Gunung Padang atau Piramida Cianjur itu memiliki ruang. Ruang itu juga bukan isapan jempol melainkan kepastian karena diketahui dari hasil penelitian. Dari mana mengetahui ada ruang di bangunan itu?

Dari penemuan ditemukan sejumlah artefak di barat dan timur bangunan. Artefak itu berupa batu melengkung di sisi timur. batu melengkung itu diduga kuat merupakan pintu masuk ke dalam bangunan bawah permukaan piramida. Temuan arkeologi ini, merupakan temuan terbaru sejak situs ini pertama kali ditemukan.

Jika ada ruang maka tidak tertutup kemungkinan ada benda yang tersimpan di dalamnya seperti halnya Piramida Agung Giza di Mesir  yakni makam raja-raja dan para bangsawan halnya makam Raja Tutankhamun.

Benda-benda apa yang ada di dalam perut Piramida Cianjur itu? Ini yang mendebarkan. Bukan hanya mendebarkan rakyat Indonesia, tetapi juga masyarakat internasional, khususnya kaum ilmuan ke purbakalaan.

Mendebarkan, karena benda-benda dalam perut atau dalam lorong atau dalam goa di perut Piramida Cianjur itu, berpotensi mengubah atau membalik sejarah dunia, dan mendorong penelitian lebih lanjut tentang dunia kepurbakalaan di Jawa Barat.

Soal makam, tampaknya pasti ada di dalam ruang bangunan Gunung padang. Sebab, menurut penelitian Ali Akbar, terungkap terdapat lima makam yang ditemukan di teras kelima situs Gunung padang. “Yang sudah terbaca baru dua makam saja. Satu makam dengan dua nisan,” ujar Ali Akbar 4 Januari 2013 lalu.

Satu nisan terbaca dengan nama Hadi Winata usia 68 tahun dan meninggal 1947. Dengan demikian, Hadi kelahiran 1879. Satu nisan lagi, beraksara Arab yang terbaca dengan nama Prabu dengan tahun tertera 1356 H. Satu nisan lagi,  kemungkinan lebih tua dari dua nisan tersebut karena hanya berbentuk batu lonjong tanpa ada aksara penanda.

Sayang tim peneliti sudah berhenti tahun 2014 lalu. Oleh sebab itu pula, menjadi pertanyaan mengapa Presiden Jokowi sejak kampanye tahun 2014 sampai sekarang tidak pernah menyebut apalagi mempromosikan Situs Gunung Padang sebagai salah satu objek wisata potensial di jawa Barat?

Demikian juga mengapa Ridwan Kamil tidak pernah menyebut itu mulai saat kampanye sampai menjadi gubernur definitif sekarang ini?  Apakah Situs Gunung Padang terlalu kecil bagi mereka, atau ada alasan lain?

Profil Situs Gunung Padang

-Nama: Situs prasejarah peninggalan kebudayaan Megalitikum di Jawa Barat.

-Lokasi: Perbatasan Dusun Gunungpadang dan Panggulan, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, 20 km dari persimpangan kota kecamatan WarungKondang, di jalan antara Kota Kabupaten Cianjur dan Sukabumi.

-Luas kompleks bangunan: Sekitar 900 m², terletak pada ketinggian 885 m dpl

-Luas Areal: sekitar 3 ha

-Kontur Tanah:  berbukit-bukit curam dan sulit dijangkau, dikelilingi oleh lembah dalam

-Publikasi Pertama oleh: Rapporten van de Oudheidkundige Dienst (Buletin Dinas Kepurbakalaan) tahun 1914

– Fungsi Situs Gunung Padang diperkirakan sebagai tempat pemujaan masyarakat 2.000 tahun S.M.

Hasil Uji Laboratorium BATAN dan Florida

  1. Umur dari lapisan tanah di dekat permukaan (60 cm di bawah permukaan), sekitar 600 tahun SM
  2. Umur dari lapisan pasir-kerikil pada kedalaman sekitar 3-4 meter di Bor-1 yang sekitar 4700 tahun SM 3. Umur lapisan tanah urug di kedalaman 4 meter diduga man made stuctures di bawah Teras 5 pada Bor-2, sekitar 7.600-7.800 SM
  3. Umur pasir yang mengisi rongga di kedalaman 8-10 meter di Bor-2, sekitar 11.600-an tahun SM
  4. Umur dari lapisan dari kedalaman sekitar 5 meter sampai 12 meter,sekitar 14.500 – 25.000 SM

Hasil Penelitian Tim Terpadu dipimpin Ali Akbar dari Universitas Indonesia

– Pembukaan semak-semak pada sisi Tenggara teras 5 ke arah bawah menemukan 20 tingkat terasering punden berundak disusun oleh masyarakat yang berbudaya gotong royong yang mempunyai kemampuan teknologi maju. Dengan dibukanya 20 tingkat terasering menunjukan bahwa situs Gunung Padang sangat besar. Diperkirakan zona inti utamanya lebih besar dari 25 hektar.

-Pembukaan semak semak dan hasil pemindaian USG Georadar pada sisi timur teras 2 ke arah bawah ditemukan bentuk struktur pintu gerbang buatan manusia. Hasil pengambilan sampel dengan bor coring  memastikan struktur buatan manusia sampai dengan kedalaman -27m dari permukaan teras 3. Hasil pengambilan sampel dengan bor coring 2, menemukan struktur rongga 2 besar buatan manusia yang berisi pasir dengan butiran yang sangat seragam. Hasil pengukuran dengan geomagnetik menemukan anomali medan magnetik yang besar pada teras 2.

– Adanya tanda-tanda berbentuk gambar atau cekungan buatan manusia pada setiap batu yang berada di teras 1 sampai 5.

[] Petrus Barus/dari berbagai sumber



Bogor-Kita.com - Sejak 2010


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *