Kab. Bogor

Ritual Ramadan

Abdurrahman Misno

Oleh: Dr. Abdurrahman Misno BP, MEI

(Dosen Pascasarjana INAIS Bogor)

BOGOR-KITA.com, BOGOR – Bulan ramadan, sebuah bulan yang keutamaannya sudah sama-sama kita ketahui, namun sering kali kita lalai dengannya. Di tengah gaya hidup masyarakat yang materisentris memang terkadang nilai-nilai spiritual sebuah ritual tidak lagi menjadi ruh, hal ini telah menjadi semacam trend di tengah masyarakat. Secara dhahir mereka begitu mengelu-elukan kedatangan ramadan namun sangat disayangkan secara batin nilai spiritual itu sepertinya kering kerontang laksana sawah yang ditinggal sang hujan selama berbulan-bulan. Kemeriahan penyambutan ramadan tidaklah dapat diukur dari begitu banyaknya spanduk menyambut bulan suci ini, demikian juga bukanlah sebuah penghormatan jika pada bulan ini para selebritis kita memakai pakaian muslim, bukan pula ungkapan di berbagai pertemuan yang diadakan untuk menyambut bulan yang mulia ini, semua itu tidaklah memberikan kontribusi bagi keberkahan bulan ini.

Sesunguhnya keberkahan bulan ini hanya dapat dirasakan dan dinikmati oleh orang-orang yang benar-benar mengharapkan pertemuan dengan bulan ini, kerinduan kepada bulan ini membuatnya ingin segera menikmati dan mereguk keberkahan di dalamnya, hanya orang-orang yang paham dan “yufaqihu fi dien” yang bisa merasakan nikmatnya memasuki bulan ini. mereka adalah orang-orang yang selalu menghadapkan jiwa raganya untuk mendapatkan keridhanNya, segala tingkah lakunya hanya tertuju kepadaNya, bagaikan seorang musafir yang hanya memiliki satu tujuan pengembaraan, ia tidak tergoda dengan sejuta pesona di tengah sahara, tujuan hidupnya begitu mantap.

Lalu apa yang bisa kita berikan kepada bulan yang mulia ini ? ada beberapa tingkatan amal yang dapat kita lakukan, pertama kita melaksanakan ibadah-ibadah wajib yang diperintahkan di dalamnya seperti shaum, kedua kita melaksanakan amalan-amalan yang ditekankan untuk dilaksanakan seperti sholat tarawih, tadarus Al-Qur’an dan yang lainnya, yang terakhir kita melaksanakan amal-amal yang menjadi amalan sunnah para pendahulu kita yang shalih.

Apakah hanya seperti itu ? tentu tidak Islam begitu memberikan kebebasan pada ummatnya untuk beramal sebanyak-banyaknya, karena itu bagi kita yang mampu untuk beramal, beramalah di bulan yang mulia ini dimana pahalanya akan dilipatgandakan, hanya saja kita perlu ingat juga bahwa ibadah kita haruslah dilaksanakan dengan syarat ikhlash dan ittiba’ kepda Rasul,jangan sampai karena kita beramal sebanyak-banyaknya namun menyelisihi malan Nabi. Termasuk meyeleihi adalah beribadah tanpa memperhatikan kondisi badan, hal ini tentu bukanlah amalan yang baik. Semoga kita mampu mengisi bulan Ramdhan ini dengan amalan-amalan yang dapat mengangkat derajat kita amin. wallohua’lam bishawab. []

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

To Top