Yusfitriadi, Direktur Demokracy and Electoral Empowerment Partnership (DEEP) Indonesia.

Prihatin Komitmen Anggota DPR RI Dapil Kabupaten Bogor Lawan Corona

BOGOR-KITA.com, CIBINONG – Terus terang saya sangat prihatin atas komitmen kemanusiaan para anggota DPR RI dari daerah pemilihan Kabupaten Bogor. Jargon kita adalah bersatu melawan corona atau covid-19. Tetapi sampai saat ini tidak diketahui apa yang dilakukan para anggota DPR RI dapil Kabupaten Bogor untuk merealisasi komitmen bersatu melawan covid-19.

Hal ini dikemukakan pengamat sosial politik Bogor, Yusfitriadi kepada BOGOR-KITA.com,  Kamis (16/4/2020) pagi.

Dalam catatan BOGOR-KITA.com, serangan covid-19 di Kabupaten Bogor sudah cukup meluas. Dari 40 kecamatan, sebanyak 13 kecamatan sudah dinyatakan sebagai zona merah covid-19.

Berdasarkan data resmi sampai Selasa (14/4/2020) jumlah Orang Dalam Pemantauan (ODP) di Kabupaten Bogor mencapai 960. Dari 960 ODP, 558 orang selesai dipantau dan 402 orang masih dalam pemantauan.

Jumlah Pasien Dalam Pengawasan (PDP) sebanyak 566 orang. Dari 566 PDP, 181 selesai diawasi dan 372 masih dalam pengawasan.

Sementara kasus terkonfirmasi positif 45 orang, 4 pasien berhasil disembuhkan dan 5 pasien positif meninggal dunia.

Bupati Bogor Ade Yasin tak henti bergerak memerangi corona. Hampir setiap hari Ade Yasin muncul di televisi nasional guna menyosialisasikan gerakan bersama melawan corona di Kabupaten Bogor. Salah satu yang disuarakan Ade Yasin secara kuat adalah meminta Kementerian Perhubungan menghentikan sementara operasional kereta api ke Bogor, karena kasus positif corona di Kabupaten Bogor lebih banyak terjadi karena interaksi dengan Jakarta.

Baca juga  Ubah Format Boling, Ade Yasin Akrabkan Pejabat dan Rakyat  

Yusfitriadi mengatakan prihatin dengan komitmen anggota DPR RI dapil Kabupaten Bogor.

“Kita tidak melihat anggota DPR RI dari dapil Kabupaten dan Kota Bogor Bogor untuk membangun sebuah gerakan kolektif dalam memerangi dan memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Kalau pun ada mereka bergerak masing dan sebatas bersama konstituen dan partainya. Termasuk dalam hal ini DPRD Kabupaten Bogor,” kata Yusfitriadi.

Yusfitriadi menilai ada dua hal mengapa anggota DPR RI Dapil Kabupaten Bogor tidak tergerak membangun gerakan kolektif.

Pertama, mereka terjebak pada wilayah formal, di mana mereka selalu saja mengatasnamakan keberadaan mereka sebagai anggota legislatif dengan fungsi legislasi, monitoring dan budgeting.

“Dengan fungsi-fungsi tersebut seolah-olah sudah selesai peran gerakan bersatu melawan covid-19,” kata Yusfitriadi.

Kedua, meemang menjadi karakter umum, terutama DPR RI, di mana mereka sudah nyaman membangun kehidupan di Jakarta, sehingga lupa terhadap rakyat yang sudah menjadikannya sebagai anggota DPR Ri berkantor di gedung mentereng di Senayan Jakarta.

Terlebih, dari 9 anggota DPR RI dapil Kabupaten Bogor hanya satu warga Bogor asli, yaitu Elly Yasin. “Sisanya mereka hanya menjadikan masyarakat Kabupaten Bogor sebagai objek eksploitasi suara. Karena secara psikologis Kabupaten Bogor bukan tumpah darah mereka,” kata Yusfitriadi. 

Baca juga  Wabup: Semua SKPD Harus Ada Progres Terkait Kabupaten Termaju

Dikatakan, jangankan membangun sebuah gerakan kolektif sesama anggota legislatif yang berangkat dari dapil Kabupaten Bogor, mungkin komitmen orang per orang pun terus terang sangat diragukan.

“Buktinya sampai hari ini tidak diketahui mereka sudah bergerak di wilayah mana untuk melawan covid-19 ini. Terus terang saya sangat prihatin atas komitmen kemanusiaan mereka terhadap masyarakat Kabupaten Bogor,” tutup Yusfitriadi. [] Hari



Bogor-Kita.com - Sejak 2010


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *