Mendidikan Anak Tidak Seperti Memelihara Burung Dalam Sangkar Emas

Ilustrasi

Suatu hari ada seorang sudagar kaya yang hobinya memelihara burung perkutut.  Ia cukup banyak sekali memelihara burung perkutut, dan burung-burung itu dipelihara dalam sebuah kurungan/sangkar yang berbentuk sangat indah sekali.  Melihat indahnya sangkar tersebut bisa dipastikan bahwa harganya pasti cukup mahal.

Bahkan ada beberapa burung yang mendapatkan fasilitas sangkar yang paling mahal yang konon katanya berlapis emas….karena konon juga burung-burung itu dapat bicara seperti manusia.

Wow sungguh luar biasa betapa seekor burung bisa mendapatkan rumah yang berlapiskan emas….mungkin hal ini karena rasa cinta sang saudagar yang begitu besar terhadap burung peliharaannya tersebut.

sebelum pergi setiap pagi sang saudagar selalu memberi makan burung-burungnya terlebih dahulu….betapa senang hatinya telah bisa memberikan segala yang terbaik bagi burung-burung peliharaannya….

Thumbnail

Ayah Edy

Pada suatu hari sang saudagar ingin mengetahui apakah burung-burung peliharaanya tersebut juga merasa bahagia seperti dirinya.    Maka untuk itu sang saudagar mendatangi burung-burung perkutut yang berada di sangkar yang berlapis emas yang konon bisa bicara pada manusia tersebut.  

Wahai burung-burung perkututku yang tercinta apakah kalian semua bahagia dengan segala yang telah aku berikan kepada kalian….?  Diluar dugaan sang saudagar…burung-burung itu menjawab…wahai tuanku yang baik hati…. sesungguhnya kami semua belum merasa bahagia dengan keadaan kami.  Bukan main kagetnya sang saudagar….lalu dengan penasaran ia bertanya….lagi,  kalau begitu apa yang harus aku lakukan untuk membuat kalian semua lebih bahagia…?

Tuanku Saudagar yang baik hati…, Jika tuan benar-benar sayang pada kami maka lepaskanlah kami dari sangkar ini, agar kami bisa hidup di alam bebas…. agar kami bisa bebas melakukan apa yang terbaik bagi kami, semua itu jauh lebih berharga dari apapun juga.

Meskipun dengan hati berat pada akhirnya sang sudagar mau juga untuk melepaskan burung-burung perkututnya itu satu persatu ke alam bebas..  Namun jauh dilubuk hatinya yang paling dalam sang saudagar tadi benar-benar baru menyadari bahwa makna kebahagiaan bagi dirinya ternyata sangatlah jauh berbeda dengan makna yang dimaksud oleh burung-burung tadi.

Para orang tua dan guru yang berbahagia dimanapun anda berada… begitu juga kita dengan anak-anak kita…. karena rasa sayang kita yang begitu besarnya sering kali kita  banyak mengekang anak kita seperti burung dalam sangkar tadi, kita pikir jika kita telah memberikan segala barang-barang yang mahal dan terbaik, maka anak-anak kita akan merasa bahagia….dan menjadi lebih baik.  Padahal tidaklah demikian.

Demikian juga halnya dengan para guru di sekolah….kita tanpa sadar seringkali  telah mengurung kebebasan anak-anak didik kita seperti burung dalam sangkar…dengan maksud yang baik…para guru mengajarkan apa saja yang dianggapnya baik dan berguna pada murid-muridnya, memberikan tugas-tugas yang wajib dikerjakan setiap hari…..memerintahkan untuk menghapal nama-nama kota dlsb, tapi apakah hal ini semua yang mereka butuhkan bagi hidup mereka kelak dan apakah ini semua membuat murid-murid kita bahagia….,  sesungguhnya murid-murid kita jauh lebih menginginkan kebebasan dalam belajar….kebebasan dalam berpikir, kebebasan memilih pelajaran-pelajaran yang mereka sukai, kebebasan untuk memunculkan ekspresi mereka masing-masing, kebebasan untuk belajar sesuai dengan gaya mereka masing-masing. 

Namun pernahkan kita bertanya pada anak-anak dan anak didik kita apakah semua yang telah kita berikan itu telah membuat mereka bahagia, atau apakah kita pernah bertanya pada anak-anak kita…apa yang sesungguhnya membuat kalian berbahagia….?  maka bisa jadi semua jawabannya akan membuat kita tercengang.

Banyak sekali saya menemukan anak-anak yang tersiksa dan harus tetap diam dalam keterpaksaan mereka untuk bisa seolah-olah berbahagia dengan apa yang telah diberikan pada mereka…tanpa mereka punya kesempatan untuk mengungkapkan perasaan mereka yang sesungguhnya….

Para orang tua dan guru yang saya cintai….Bisa jadi dulu waktu kita menjadi seorang siswa kita juga pernah mengalaminya…tapi mengapa tanpa sadar hal yang sama kita ulangi lagi pada anak-anak kita dan anak-anak didik kita di sekolah.

Mari kita berikan kebebasan pada anak-anak kita untuk bisa mengespresikan apa yang mereka inginkan  agar mereka bisa terbang untuk mencapai puncak cita-citanya yang tertinggi, hidup mandiri dan tidak hanya bisa hidup di dalam sangkar emas yang selalu tergantung pada orang lain yang memberinya makan setiap hari……

Sungguh tepatlah kiranya jika Sang Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara mengatakan bahwa Tugas kita sebagai orang tua terbagi kedalam 3 fungsi Pokok

Ing Ngarso Sung Tulodo….. Jadilah teladan dan contoh yang baik bagi anak-anak kita.

Ing Madya Mangun Karso  Jadilah sahabat yang bisa membimbing mereka

Tut Wuri Handayani…Jadilah orang yang selalu memberikan dukungan dan motivasi manakala anak-anak kita sedang dalam kesulitan.

Mari bersama kita bangun Indonesia yang kuat melalui anak-anak kita tercinta…..

[] Ayah Edy, praktisi pendidikan

 



Bogor-Kita.com - Sejak 2010


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *