Belajar Dari Guru di Negeri Sakura Jepang

 

Ilustrasi

Kemajuan Jepang terus berlanjut. Salah satu faktornya adalah kemampuan Jepang melakukan pembinaan terhadap sumber daya manusia. Seperti apa pembinaan sumber daya manusia di Jepang.?

Suatu hari saya mendapat kiriman email dari seorang teman, dan ceritanya sangat bagus sekali, saya merasa perlu untuk membagikan kisah ini kepada seluruh masyarakat terutama para pendidik di Indonesia.  Begini kisahnya.

Di TV NHK Jepang. ada acara yang bernama `waku-waku jugyou,watashi no oshiekata` mohon maaf jika saya salah mengejanya…, tapi kira-kira artinya adalah `kelas yang menyenangkan` , metode mengajar saya`

Acara ini menyajikan metode mengajar yang unik dari para guru di Jepang.  yang sering ditampilkan adalah pembelajaran matematika dan sains.  Pembelajaran matematika, terutama di SD dan SMP di Jepang sangat menarik, guru-guru selalu menyiapkan bahan belajar yang sangat sederhana, misalnya kertas, gunting, jepitan pakaian, atau bahan lain yang gampang sekali ditemukan.

Misalnya seorang guru di SD affiliation Tsukuba University mengajar anak kelas 5 SD bilangan berderet dengan bahan kertas dan gunting.  Dengan prinsip ` melipat dan menggunting` anak-anak belajar bilangan berderet secara menyenangkan.

Caranya :  Kertas berukuran A4 dilipat memanjang sebanyak dua kali, kemudian digunting mengikuti lipatannya sehingga menjadi 4 potongan kertas memanjang. Selanjutnya kertas pertama dilipat melebar 1 kali lalu digunting.  Jadi, dengan melipat 1 kali dan menggunting 1 kali, akan dihasilkan 2 potongan kertas baru.

Bagaimana kalau dilipat 2 kali, dan kemudian gunting di lipatan yang terakhir ? Berapa potongan kertas baru yang akan dihasilkan ? Yup, hasilnya 3 potongan kertas baru.

Jadi sudah terbentuk deret bilangan 0, 2, 3. Selanjutnya kalau dilipat 3 kali lalu digunting, berapa potongan kertas yang akan dihasilkan ?

Sebelum mempraktekkannya,Pak Guru terlebih dahulu menanyai para siswanya.  Sebagian besar siswa menjawab 5,sebagian yang lain menjawab 6.  Mengapa menjawab 5, mengapa menjawab 6, semua siswa diminta untuk menjelaskan alasannya.  Papan tulis pun segera saja penuh dengan coretan dan ilustrasi dari anak-anak itu.

Para orang tua dan guru yang berbahagia…., Yang menarik adalah bahwa bapak guru tadi sama sekali tidak menggurui dengan memberitahukan jawabannya secara langsung, tetapi seakan-akan beliau tidak tahu, dan meminta siswa untuk

menjelaskan.  Melalui cara ini, saya dapat menangkap bahwa anak-anak Jepang sangat kaya ide.  Pepatah yang mengatakan `banyak jalan menuju Roma` berlaku di sini.  Dan Pak Guru sama sekali tidak pernah mengatakan `salah`, yang dia ucapkan malah kalimat `naruhodo`,yang artinya `Oh, saya baru tahu itu !  Kalimat ini menurut saya membangkitkan suatu kebanggaan tersendiri bagi seorang anak.  Suatu pujian yang bisa diartikan `kamu hebat ya! atau mungkin kamu ternyata bisa ya…`

Ada 3 prinsip mengajar guru-guru di Jepang, yaitu

1. tanoshii jugyou (kelas harus dibuat menyenangkan)

2. wakaru ko (anak harus mengerti apa maknanya)

3. dekiru ko (anak harus bisa melakukan/menemukannya sendiri jawabannya)

Melalui model pembelajaran seperti itu, kita dapat melihat bagaimana anak-anak di Jepang diajari untuk menganalisa sebuah permasalahan, lalau menemukan pemecahannya sendiri, tanpa dijejali dengan rumus-rumus yang bertumpuk yang bisa membuat anak-anak itu pusing dan mual. 

Mereka baru diajari rumus /teori belakangan, setelah mereka paham asal-usul sebuah teori, dan bisa menggunakannya dikehidupan sehari-hari.  Mereka juga tidak diajari banyak hal dan banyak matapelajaran, sedikit saja yang mereka pelajari namun yang penting anak mengerti betul maknanya bagi kehidupan mereka. 

Oleh karenanya guru-guru SD di Jepang sangat kaget ketika mengetahui bahwa anak-anak kelas 1 SD di Indonesia sudah belajar bilangan sampai 100.

Dan mereka jauh lebih terperanjat lagi manakala mengetahui bahwa anak-anak di Indonesia sudah harus belajar perkalian hingga 10 x 10 waktu di TK.  Ya maksudnya mereka harus menghafalnya, tanpa mengerti kenapa 1 x 1 = 1.

Mungkin itulah salah satu sebabnya mengapa anak-anak kita banyak yang tidak bisa memberikan alasan terhadap jawaban yang mereka berikan.  bisa jadi karena hal itu juga yang menyebabkan bangsa kita semakin jauh saja tertinggal dari bangsa-bangsa di Asia.

Para orang tua dan guru yang saya cintai diseluruh pelosok tanah air….semoga cerita ini dapat menginspirasi kita semua agar bisa menjadi pendidik dan guru yang lebih baik lagi bagi anak-anak kita tercinta di Indonesia.  Agar Bangsa kita tidak lagi tertinggal diantara bangsa-bangsa lain….ya setidaknya kita bisa menjadi yang terbaik di Asia. Mari kita renungkan bersama…keputusan sepenuhnya berada ditangan kita. [] Admin/

[] Ayah Edi, praktisi pendidikan

 

 

 

 



Bogor-Kita.com - Sejak 2010


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *