Jumlah Anak Tidak Sekolah di Rumpin Disebut 3.856, Camat Minta Data Diverifikasi
BOGOR-KITA.com, RUMPIN – Jumlah Anak Tidak Sekolah (ATS) di Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, disebut mencapai 3.856 anak. Data tersebut disampaikan dalam pertemuan antara Pemerintah Kecamatan Rumpin dengan sejumlah praktisi pendidikan lintas sekolah, Jumat (18/9/2026).
Data tersebut mencakup anak yang tidak melanjutkan pendidikan dari berbagai jenjang, baik sekolah negeri maupun swasta, serta anak yang belum pernah bersekolah (BPB).
Pengawas SD dan Penilik PAUD serta PKBM, Mad Soleh, mengatakan pendataan ATS terbagi dalam tiga kategori, yakni Drop Out (DO), Lulus Tidak Melanjutkan (LTM), dan Belum Pernah Bersekolah (BPB).
Berdasarkan data yang dipaparkan, ATS jenjang SD tercatat 1.724 anak, SMP 333 anak, PKBM 18 anak, MI 111 anak, MTs 115 anak, MA 7 anak, SMA 12 anak, SMK 13 anak, serta BPB sebanyak 1.523 anak.
“Jadi totalnya 3.856 Anak Tidak Sekolah di Kecamatan Rumpin dan ini terbanyak di Kabupaten Bogor. Untuk tingkat desa yang terbanyak ATS adalah Desa Cipinang,” kata Mad Soleh.
Menurut Mad Soleh, Desa Cipinang menjadi salah satu wilayah dengan jumlah ATS yang cukup banyak. Namun, data tersebut masih memerlukan penelusuran lebih lanjut untuk memastikan kondisi sebenarnya di lapangan.
Camat Rumpin Icang Aliudin mengatakan data ATS tersebut perlu diverifikasi dan divalidasi kembali secara teliti. Langkah itu diperlukan untuk memastikan akurasi data dan menghindari kesalahan pendataan.
“Harus dicari tahu juga sumber masalah ATS ini, apakah karena faktor pengajaran, faktor ekonomi atau faktor-faktor lainnya. Hal ini harus dipastikan serta dilakukan pengecekan secara teliti,” ujar Icang.
Ia mengatakan penanganan ATS membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk guru, kepala sekolah, lembaga pendidikan, pemerintah desa, serta unsur terkait lainnya.
Menurut Icang, pertemuan dengan para praktisi pendidikan diharapkan dapat menghasilkan langkah konkret dalam menangani anak yang tidak bersekolah di Kecamatan Rumpin.
“Saya terus mendorong peningkatan mutu pendidikan serta peningkatan jumlah anak sekolah. Sekarang ini ada Sekolah Rakyat, jadi bisa membantu yang tidak mampu. Maka diperlukan data valid penyebab ATS itu apa?” katanya.
Icang juga menyampaikan rencana pembentukan tim di tingkat desa untuk melakukan pendataan terhadap anak usia sekolah yang tidak bersekolah.
“Jadi tim ini akan mendata secara utuh berapa anak usia sekolah yang saat ini tidak sekolah dan apa alasannya? Tim ini terdiri dari unsur desa, lingkungan serta para praktisi pendidikan yang ada di desa tersebut,” pungkasnya.[] Fahry
