Kota Bogor

Jenuh FOMO? Akademisi IPB Kenalkan JOMO sebagai Cara Sehat Mengelola Hidup Digital

Ilustrasi/Chatgpt

BOGOR-KITA.com, BOGOR – Di tengah derasnya arus informasi dan tren di era digital, fenomena fear of missing out (FOMO) kian akrab dalam kehidupan sehari-hari. Rasa cemas tertinggal kabar terbaru hingga dorongan untuk terus membandingkan diri di media sosial menjadi bagian dari rutinitas banyak orang. Namun, di balik itu, muncul konsep tandingan yang menawarkan pendekatan lebih sehat, yakni joy of missing out (JOMO).

Akademisi IPB University, Dr Annisa Utami Seminar, menjelaskan bahwa JOMO merupakan narasi alternatif dari FOMO yang mendorong individu memiliki kendali atas dirinya sendiri, terutama dalam menentukan keterlibatan di dunia digital.

Joy of missing out adalah kondisi ketika seseorang tidak merasa cemas saat melewatkan sesuatu, tetapi justru merasa memiliki otonomi atas apa yang ingin dilihat atau tidak,” ujar dosen Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia IPB University tersebut.

Baca juga  Update Corona Kota Bogor: 5 Sembuh, PDP Berkurang 3 Orang

Dalam tayangan IPB Podcast di kanal YouTube IPB TV, Dr Annisa menegaskan bahwa FOMO dan JOMO bukanlah dua hal yang saling bertolak belakang. Keduanya dapat muncul secara bersamaan dalam diri seseorang, tergantung pada situasi dan cara individu merespons informasi.

FOMO umumnya ditandai dengan kecemasan, perasaan tertinggal, hingga keinginan untuk terus mengikuti aktivitas orang lain di media sosial. Sebaliknya, JOMO menghadirkan emosi positif seperti ketenangan dan rasa merdeka dalam memilih.

“Ini bukan sekadar merasa santai, tetapi kesadaran bahwa kita tidak harus selalu terhubung dengan dunia digital yang bergerak sangat cepat,” jelasnya.

Menurutnya, JOMO juga muncul sebagai respons atas kejenuhan akibat paparan informasi berlebihan. Dalam konteks ini, konsep digital wellbeing menjadi penting, karena mendorong individu lebih reflektif terhadap kebiasaan digital serta memprioritaskan kesehatan mental dan keseimbangan hidup.

Baca juga  Swiss Belinn Bogor jadi Orangtua Asuh bagi 24 Anak untuk Cegah Stunting

Dr Annisa menekankan bahwa menerapkan JOMO bukan berarti menarik diri dari kehidupan sosial. Sebaliknya, pendekatan ini justru dapat memperkuat hubungan di dunia nyata.

“Ini bukan isolasi, tetapi refleksi diri. Kita kembali bertanya apa yang benar-benar bermakna dalam hidup,” katanya.

Beberapa langkah sederhana untuk menerapkan JOMO antara lain membatasi waktu layar (screen time), melakukan social media detox, serta mengevaluasi apakah aktivitas digital sudah selaras dengan tujuan hidup di dunia nyata. Kesadaran dalam mengatur koneksi digital, terutama di luar jam kerja, juga menjadi kunci penting.

“Yang paling utama adalah memahami apa yang terbaik untuk diri kita. Kita boleh merasa penasaran, tetapi setelah itu kita juga bisa memilih untuk berhenti. Tidak harus terus-menerus terhubung,” tuturnya.

Baca juga  Ahok Tolak Proposal Bima Terkait Bantuan Hibah Rp100 Miliar

Ia pun mengajak masyarakat untuk mulai menikmati momen di dunia nyata tanpa selalu bergantung pada layar. “Ketika sudah jenuh, jangan dipaksakan. Dengan mengambil jeda, kita bisa menemukan kembali hal-hal yang lebih bermakna dan menyehatkan secara emosional,” pungkasnya. [] Hari

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

To Top