Kab. Bogor

IndoBIC dan Biotrop Bahas Status Regulasi Tanaman Hasil Rekayasa Genetika

Direktur SEAMEO Biotrop, Dr. Zulhamsyah Imran

BOGOR-KITA.com, BOGOR – Indonesian Biotechnology Information Centre (IndoBIC) bersama SEAMEO BIOTROP, Perhimpunan Bioteknologi Pertanian Indonesia (PBPI) dan International Service for the Acquisition of Agri-biotech Applications (ISAAA) menggelar webinar guna membahas ‘Status Regulasi Tanaman Hasil Rekayasa Genetika di Indonesia’ pada Selasa (20/4/2021).

Webinar ini terkait status hasil rekayasa genetika tanaman langka agar bisa berkembang lebih cepat serta ada pemanfaatan secara berkelanjutan.

Direktur SEAMEO Biotrop, Dr. Zulhamsyah Imran mengatakan, peranan Biotrop dalam mendukung penerapan bioteknologi di Indonesia, terlihat dari kontribusinya dalam penelitian, antara lain dengan melakukan rekayasa genetika untuk mendapatkan bibit unggul, identifikasi dan kloning gen ketahanan terhadap hama, penyakit serta penerapan kultur jaringan tanaman untuk penyediaan bibit unggul.

“Dalam penelitian rekayasa genetika, Biotrop telah melakukan sebuah terobosan transformasi rumput laut menggunakan perantara agrobacterium tumefaciens agar mendapatkan ketahanan terhadap hiposalin yang dilakukan oleh salah satu peneliti terbaik di bidang ini yaitu Dr. Erina Sulistiani selama periode tahun 2016 hingga tahun 2018,” ungkap Zulhamsyah.

Baca juga  SEAMEO BIOTROP Bogor Luncurkan Kebun Buah Tanpa Musim

Zulhamsyah menjelaskan, acara ini bertujuan untuk memberikan informasi yang akurat terkait perkembangan bioteknologi dan menyediakan informasi terkini status regulasi bioteknologi di Indonesia.

“Biotrop akan terus melakukan berbagai inovasi di bidang bioteknologi bukan hanya untuk produk tanaman, tetapi juga untuk produk hewan bahkan perikanan,” jelasnya.

Memurut Zulhamsyah, jika manusia berhasil merekayasa genetika, manfaatnya tanaman mempunyai ketahanan terhadap penyakit. Saat ini padi satu hektar berproduksi 20 ton nanti bisa satu hektar bisa lebih dari 20 ton.

“Peran Biotek tanaman langka bisa berkembang dengan cepat, tentunya misi ini terus kami garap. Kami merumuskan tiga program bio, yaitu pertama restorasi ekosistem, kedua pemanfaatan berkelanjutan ada sebagai biomedicine pangan kemudian ada untuk bahan sandang juga misal untuk fashion kemudian bio teknologi menjadi konsen beberapa tahun kedepan. Pada kesempatan ini kami mengajak semua pihak bergandengan tangan mengembangkan bioteknologi untuk mempermudah regulasi. Dalam rangka trobosan dan produk ketahanan pangan di Indonesia,” paparnya.

Direktur IndoBIC, Prof. Dr. Bambang Purwantara dalam paparannya mengungkapkan, status terkini adopsi tanaman biotek di dunia yang telah dilaporkan oleh ISAAA total seluas 190,4 juta hektar. Tanaman biotek telah ditanam di 29 negara hingga peningkatan kehidupan 17 juta petani biotek dan keluarga mereka di seluruh dunia pada tahun 2019.

Baca juga  Buka Rapat Dewan Pembina, Dedie : SEAMEO BIOTROP Beri Banyak Manfaat

Ia menyoroti area tanaman biotek yang saat ini tercatat di negara berkembang, antara lain di Vietnam, Filipina, dan Kolombia, sedangkan di Indonesia sendiri baru memiliki satu produk biotek yaitu tebu tahan kekeringan milik PTPN XI yang telah mendapatkan sertifikasi aman pangan, pakan, lingkungan dan pelepasan varietas.

“Bioteknologi (Produk Rekayasa Genetika/PRG) seperti yang kita ketahui adalah bagian luar biasa dari kehidupan kita, menyediakan produk dan teknologi terobosan untuk memberi makan orang yang lapar, memulihkan lingkungan, dan mendorong perekonomian. Bioteknologi pun merupakan alternatif solusi bagi beberapa masalah utama global seperti pemanasan global, meningkatnya krisis bahan bakar minyak bumi, dan terutama kemiskinan,” ungkapnya.

Webinar ini, diikuti sekitar 324 peserta yang terdiri dari peneliti, guru, awak media, regulator, akademisi, mahasiswa, sampai masyarakat umum. Acara ini, menghadirkan empat orang pembicara utama, yaitu Ketua Komisi Keamanan Hayati Produk Rekayasa Genetika Prof. Dr. Bambang Prasetya yang menjabat, Ibu Yusra Egayanti dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM),  Kepala Balai Besar Sumberdaya Genetika Pertanian/BB Biogen Dr. Mastur dan Dr. Machmud Thohari dari Tim Teknis Keamanan Hayati Lingkungan. Adapun materi yang disampaikan adalah Status Tanaman Bioteknologi dan Regulasi Keamanan Hayati Produk Rekayasa Genetika (PRG) di Indonesia, Pengkajian Keamanan Pangan PRG, Pengkajian Keamanan Pakan PRG dan Pengkajian Keamanan Lingkungan PRG.

Baca juga  SEAMEO BIOTROP Bertekad Jadi Pusat Biologi Tropika Asia Tenggara

Webinar ditutup dengan menyoroti beberapa hal utama yakni berbagai isu negatif yang berkembang saat ini terkait produk bioteknologi seperti alergi, risiko kesehatan yang belum pasti, adanya transfer gen ke target non spesies maupun dominasi perusahaan asing sudah diantisipasi dalam manajemen keamanan hayati melalui kajian oleh para pakar di KKH maupun TTKH. [] Ricky

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

To Top