Kab. Bogor

Dosen IPB Jelaskan Perbedaan Suplemen, Obat dan Bahan Pangan

BOGOR-KITA.com, DRAMAGA –  Pandemi covid-19 membuat istilah suplemen, obat dan bahan pangan menjadi sangat populer. Namun tidak sedikit yang memiliki pemahaman keliru terhadap suplemen.  Apa itu  suplemen, apa itu obat dan apa itu bahan pangan?

Dosen IPB University dari Departemen Biokimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), dr Husnawati memberikan penjelasan.

Dalam rilis dari IPB University kepada BOGOR-KITA.com, Jumat (23/10.2020), dr Husnawati mengatakan, masyarakat perlu tahu apa bedanya suplemen dengan bahan pangan ataupun obat.

Suplemen, kata dr Husnawati, merupakan produk yang dikonsumsi secara oral (lewat mulut) untuk memberikan tambahan zat, bisa berupa nutrisi spesifik, vitamin, mineral, atau senyawa metabolit sekunder, untuk memenuhi kebutuhan tubuh.

“Jadi suplemen sifatnya sebagai tambahan, yang nantinya akan menunjang kesehatan tubuh,” kata dr Husnawati.
Suplemen, berbeda dengan bahan pangan yang memang bertujuan memenuhi kebutuhan gizi tubuh, ataupun obat yang bertujuan untuk menyembuhkan penyakit.

Menurut dr Husna, dari segi medis, suplemen itu bukan obat yang langsung bekerja mengobati suatu penyakit, akan tetapi suplemen dapat menjadi terapi pendukung untuk membantu fungsi tubuh agar dapat bekerja optimal memperbaiki masalah di dalam tubuhnya.

Sebenarnya, imbuhnya, saat ini sudah banyak suplemen herbal yang beredar di pasaran. Bahkan untuk beberapa kasus penyakit, para dokter di rumah sakit pun sudah banyak yang meresepkan suplemen herbal untuk pasiennya.

Baca juga  Polres Bogor Sita Berbagai Jenis Narkotika

Permasalahan di lapangan terkait produk suplemen herbal adalah masih beredarnya produk-produk yang belum jelas kandungan dan hasil penelitiannya serta dengan klaim manfaat yang terlalu berlebihan (over claim).

Produk-produk suplemen harusnya berada di bawah pengawasan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan diberi izin edar jika memenuhi aturan dan ketentuan yang telah ditetapkan. Akan tetapi begitu banyaknya produk herbal yang beredar dengan klaim yang kadang terlalu berlebihan, sehingga proses pengawasan di lapangan tidak berjalan maksimal.

Saat ini sebagian besar suplemen berasal dari tanaman obat seperti kurkumin dari rimpang kunyit dan temulawak, biji-bijian seperti jinten hitam (habatussauda), adas dan buah, misalnya kurma, jeruk dan jambu biji.

Sementara bahan suplemen dari daun-daunan seperti daun sambiloto, brotowali, meniran, pegagan, serta bahan kayu seperti kayu manis.

Ada juga yang berasal dari hewan dan produknya seperti madu, royal jelly, sarang semut, dan teripang.

“Sebetulnya kandungan umum suplemen itu adalah senyawa seperti vitamin dan mineral serta metabolit-metabolit sekunder yang dihasilkan oleh tanaman. Suplemen mempunyai efek terapetik yang dapat membantu mencegah penyakit dengan cara mengoptimalkan daya tahan tubuh, atau membantu kerja obat dengan menyediakan senyawa-senyawa yang dibutuhkan tubuh untuk jalannya proses pengobatan yang optimal,” terangnya.

Baca juga  Polres Bogor Turunkan 150 Personel Amankan BES di Royal Tulip

Contoh senyawa metabolit sekunder yang banyak dimanfaatkan sebagai suplemen antara lain senyawa tanin, flavonoid, alkaloid, steroid, dan terpenoid.

Contoh supplemen yang sering diberikan untuk mendukung penyembuhan suatu penyakit adalah suplemen untuk pasien hepatitis, yang umumnya mengandung ekstrak meniran, kurkuma dari temulawak, silimarin, dan buah magnolia/schisandra.

Contoh suplemen lain yang banyak beredar akhir-akhir ini adalah yang berperan meningkatkan daya tahan tubuh, utamanya yang mengandung propolis, madu, echinacea, jahe, temulawak, meniran, serta buah-buahan atau produk hewani yang kaya akan vitamin dan mineral (utamanya vitamin C, vitamin D, zinc, zat besi dan kalsium). [] Admin

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

22 − 15 =

Terpopuler

To Top