Nasional

Opini : Iya Pak Presiden, Kami di Desa Nggak Pakai Dollar Cuma …

Oleh: Syarifudin Yunus,

Pegiat Literasi TBM Lentera Pustaka

Kata Pak Presiden “Orang rakyat di desa nggak pakai dolar kok”. Saat merespon nilai tukar Rupiah yang melemah dan menembus kisaran Rp17.592 per dolar AS. Tapi kenapa jadinya, masyarakat desa yang dijadikan “pembelaan”. Yang tahu dollar kan negara, importir, korporasi, dan semua barang-barang yang masuk ke Indonesia. Masalahnya, bukan soal “siapa yang pegang dolar kan Pak?”

Sebagai orang kampung alias orang desa, jawabnya “Iya Pak, kami tahu kok belanja di kampung nggak pakai dollar”. Bahkan melihat uang dollar juga nggak pernah Pak. Mungkin bukan karena dollar-nya naik Pak. Tapi karena dampak dari kenaikan dollar itu yang bikin uang orang desa jadi “berkurang”.

Gara-gara dollar naik Pak, pedagang di desa mulai sepi. Orang-orang yang beli berkurang. Banyak yang “menahan” uangnya untuk belanja. Makan tadinya pakai kerupuk, sekarang sudah nggak lagi. Bahkan gara-gara dollar naik ya Pak, sembako juga mulai naik harganya. Kami di kampung jadi ikut pusing gara-gara dollar Pak.

Baca juga  Rektor IPB University: Sektor Kelautan sebagai Sektor Berkelanjutan

Katanya orang pintar nih Pak, Indonesia masih impor minyak. Dan belinya pakai dollar. Kalau dollarnya naik berarti keluar uang rupiahnya jadi lebih banyak kan ya Pak. Akhirnya, harga BBM jadi naik. Begitu juga barang-barang yang tergantung pada BBM jadi berubah harganya.

Di desa, kami menanam sayur-sayuran pakai pupuk Pak. Tapi kalau bahan baku pupuknya masih impor, mau nggak mau harga pupuk jadi naik kan Pak. Modal menanam jadi naik, dan harga panenan juga naik. Tapi belum tentu ada yang beli Pak.

Kami di desa sering makan mie instan Pak. Sesekali beli roti, susu atau obat-obatan. Tapi kalau bahan baku barang-barang itu masih impor pasti harganya jadi naik kan ya. Jadi, sekalipun kami di desa tidak punya dollar (bahkan nggak pernah pegang dollar) tapi biaya hidup jadi ikut naik Pak. Hidup terasa makin susah, bukan makin gampang.

Tetangga kami yang pedagang di desa, sekarang ini lagi sedih Pak. Katanya harga barang-barang naik. Tapi pembeli makin sedikit. Itu karena apa ya Pak? Mungkin Bapak tahu jawabnya? Kalau kata orang desa nih Pak, gaji atau uang yang dipunya segitu-segitu saja tapi harga beberapa kebutuhan hidup malah naik. Jadi tambah susah lagi Pak.

Baca juga  Ganggu Aktivitas Warga, Eddy Soeparno Datangi Proyek Galian PGN di Curug Mekar

Bapak sudah benar, memang rakyat di desa nggak pakai dolar. Tapi rakyat di desa beli bensin, beli pupuk, beli minyak goreng, beli beras, dan semuanya ikut naik harganya saat rupiah melemah daripada dollar. Masalahnya, mungkin bukan soal rakyat desa pakai dollar atau nggak kali Pak. Tapi karena rakyat Indonesia memang terhubung dengan sistem ekonomi dunia. Akibatnya, kalau dollar “batuk”, rakyat desa ikutan “pilek” ya Pak.

Bapak harus tahu. Rakyat desa nggak suka drama apalagi mengkritik Bapak. Rakyat desa juga nggak kenal dollar. Tapi rakyat desa tahu banget kalau rupiah anjlok, yang paling susah duluan rakyat kecil yang di desa-desa seperti kami Pak. Mungkin kalau yang di istana, di DPR, konglomerat bahkan koruptor sih nggak pengaruh apa-apa ya Pak.

Baca juga  Kemenangan Langka, Timnas U-22 Kalahkan Thailand di SEA Games 2019

Bapak tahu nggak? Hidup kami sampai sekarang masih sama saja dengan 10 tahun terakhir. Tidak makin baik, tapi kami juga nggak bilang makin susah. Kalau harga sembako dan barang-barang kebutuhan pokok masih normal sesuai kemampuan kami di desa nggak masalah. Tapi saat ini, kadang-kadang kami dibikin pusing dengan harga barang yang nggak menentu. Kadang naik kadang turun, sebagai orang desa kami nggak tahu apa sebabnya ya Pak?

Makanya sampai sekarang, kami hidup sudah sangat irit (bukan hemat ya Pak). Sesekali nabung, buat jaga-jaga kalau ada kebutuhan mendesak atau harga barang naik. Maklum ya Pak, hidup di desa. Lebih banyak susahnya daripada senangnya.

Jadi, kami pertegas ya Pak. Iya Pak, kami di desa nggak pakai dollar cuma dampak dari kenaikan dollar itu yang kami kena imbasnya. Sebab kalau dollar naik, kami di desa sebagai rakyat kecil yang susah duluan, bukan yang di istana atau di Senayan Salam sehat selalu Pak!

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

To Top