Kelapa Sawit Dituding Boros Air, Ini Penjelasan Ilmiah dari Pakar IPB
BOGOR-KITA.com, BOGOR – Di balik pesatnya ekspansi perkebunan kelapa sawit di Indonesia, muncul perdebatan panjang terkait dampaknya terhadap lingkungan, khususnya dalam penggunaan air dan potensi banjir.
Meski kerap dituding sebagai tanaman “boros air”, sejumlah kajian ilmiah menunjukkan gambaran yang lebih berimbang.
Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Hendrayanto, mengungkapkan bahwa pada level individu, tanaman kelapa sawit justru memiliki tingkat konsumsi air yang tergolong moderat.
Berdasarkan hasil penelitian, laju transpirasi kelapa sawit berada pada kisaran 0,4 hingga 2,5 milimeter per hari.
“Angka ini tidak lebih tinggi dibandingkan tanaman lain seperti karet atau kakao, bahkan dalam beberapa kasus lebih rendah,” ujarnya saat konferensi pers pra orasi ilmiah guru Besar IPB University pada Kamis (23/4/2026).
Ia mengatakan, persepsi bahwa kelapa sawit boros air sering kali muncul karena melihat kondisi di tingkat kebun secara keseluruhan, bukan pada karakter tanaman itu sendiri. Dalam satu hamparan kebun, kehilangan air tidak hanya berasal dari transpirasi tanaman, tetapi juga dari evaporasi tanah, vegetasi basah, serta badan air di sekitarnya.
Gabungan kedua proses tersebut dikenal sebagai evapotranspirasi. Pada kebun kelapa sawit, angkanya berkisar antara 3,0 hingga 4,5 milimeter per hari. Sekitar setengah hingga dua pertiga berasal dari transpirasi, sementara sisanya dipengaruhi oleh evaporasi yang cukup tinggi akibat struktur kebun yang terbuka.
“Ruang antarbaris tanaman, area penyiangan, dan blok kebun meningkatkan paparan tanah terhadap sinar matahari, sehingga memperbesar evaporasi,” jelasnya.
Secara umum, lanjutnya, jika dibandingkan dengan sistem perkebunan lain, penggunaan air pada kebun sawit masih berada pada tingkat yang sebanding. Bahkan, dari sisi hidrologi, daerah tangkapan air yang didominasi kelapa sawit tidak menunjukkan kondisi yang lebih buruk dibandingkan wilayah dengan dominasi tanaman lain seperti karet.
Menurutnya, persoalan utama yang sering luput dari perhatian adalah perubahan besar pada bentang alam, terutama akibat konversi hutan hujan tropis menjadi lahan non-hutan. Transformasi ini mencakup berbagai bentuk penggunaan lahan, mulai dari perkebunan hingga permukiman.
“Hutan hujan tropis memiliki fungsi hidrologis yang sangat optimal. Ketika ekosistem ini berubah, maka keseimbangan air juga ikut terganggu,” katanya.
Ia menekankan bahwa meningkatnya kejadian bencana hidrometeorologis seperti banjir, longsor, dan kekeringan tidak bisa dilepaskan dari kombinasi faktor, termasuk perubahan tata guna lahan yang masif serta anomali iklim yang semakin sering terjadi.
Oleh karena itu, ia menilai pendekatan yang menyederhanakan masalah dengan menyalahkan satu komoditas tidaklah tepat. Solusi yang lebih efektif adalah melalui pengelolaan lanskap secara terpadu, termasuk penataan daerah aliran sungai (DAS) dan penerapan praktik pengelolaan terbaik.
“Yang dibutuhkan adalah keseimbangan antara kepentingan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan, bukan sekadar pelarangan komoditas,” tegasnya. [] Ricky
