Kota Bogor

Yusfitriadi Pertanyakan Etika Para Politisi Perang Baliho

Yusfitriadi

BOGOR-KITA.com, BOGOR – Pengamat Sosial Politik asal Bogor, Yusfitriadi mempertanyakan etika para politisi yang “tebar pesona” dengan memasang baliho besar di tengah pandemi Covid-19.

“Fenomena pasang baliho ini terkait 3 momentum besar. Yang pertama, terkait peraih emas untuk Indonesia di ajang Olimpiade 2020. Kedua, soal pandemi Covid-19 yang terus berkepanjangan dan yang ketiga, terkait dinamika politik tahun 2024,” ungkap Yusfitriadi, Direktur DEEP Indonesia, Selasa (10/8/2021).

Pria yang akrab disapa Kang Yus ini menambahkan, raihan medali emas Olimpiade, dimanfaatkan oleh para politisi untuk melakukan media branding seperti di baliho, flyer virtual dan lain – lainnya.

“Terlihat jelas semuanya sangat politis karena dari proporsional pesan yang disampaikan, lebih menonjolkan pesan politisnya dibanding objek substansinya,” beber Kang Yus.

Baca juga  Mobilitas Tinggi Penyebab Pasien Corona Didominasi Kelompok Usia Produktif

Yang kedua, lanjut pendiri ITB Vinus Bogor ini, terkait pandemi covid-19 yang berkepanjangan. Kondisi ini dijadikan objek politis branding personal, sehingga dengan sangat leluasa para politisi sibuk membuat branding diri sebagai tokoh dengan memanfaatkan musibah ini.

Yang ketiga, masih kata Kang Yus, terkait dinamika politik menjelang 2024. Walaupun, kontestasi politik 2024 masih sangat jauh, namun demi menaikkan popularitas dan elektabilitas politisi, mereka sudah mulai start dengan meramaikan branding imagenya lewat baliho dan media-media lain.

Baliho di Simpang Yasmin

“Terutama bagi politisi yang ingin melirik kursi RI-1. Karena Jokowi sudah 2 periode dan sesuai regulasi sudah tidak bisa mencalonkan lagi,” imbuh Direktur DEEP Indonesia ini.

Baca juga  Yusfitriadi Angkat Bicara Soal Perpanjangan PSBB

Kondisi zero incumbent ini, jelas dimanfaatkan oleh para politisi untuk melakukan branding personal. Kang Yus menambahkan, sebetulnya tidak masalah siapapun melakukan branding personal atau branding immage, selama branding tersebut dilakukan dengan cara-cara yang membumi dengan gagasan dan kerja nyata.

“Namun yang ada hari ini, faktanya para politisi melakukan branding image yang jauh dari etika dan tidak menunjukan “kewarasan”. Bagaimana tidak, di tengah kondisi rakyat serba sulit, justru para politisi memasang baliho besar-besar untuk kepentingan politik 2024,” cetusnya.

Yusfitriadi mempertanyakan dimana etika politik dan empati dari para politisi untuk kemanusiaan, di tengah kesulitan warga menghadapi kondisi pandemi saat ini. Selain itu dimana kewarasan, ketika para politisi mengucapkan selamat bagi peraih medali remas olImpiade dengan lebih menonjolkan sosok politisinya bukan peraih medali emasnya.

Baca juga  Yayasan Visi Nusantara Maju Riset Tata Kelola Sekolah Dasar di 5 Propinsi

“Sehingga dapat terlihat jelas upaya politisasi nya. Mudah-mudahan saja, masyarakat bisa lebih cerdas dalam melihat, mengamati serta dalam menentukan pilihan politik nya nanti,” harap Kang Yus. [] Fahry

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

To Top