Kota Bogor

Yusfitriadi: 4 Faktor Mengapa Masyarakat Tidak Takut Covid-19

BOGOR-KITA.com, BOGOR – Sampai saat ini tidak ada orang gila yang diberitakan tertular covid-19. Sebaliknya, jangan-jangan yang ada justru orang normal menjadi gila karena ketakutan berlebihan terhadap covid-19.

Hal ini dikemukakan pengamat sosial Yusfitriadi kepada BOGOR-KITA.com, Selasa (9/6/2020) malam, menanggapi situasi penanganan covid-19 di Indonesia saat ini.

Situasi covid-19 di Indonesia saat ini memang ditandai dua hal yang tidak sejalan antara regulasi dan realitas di lapangan. Di satu angka-angka penularan terus meningkat. Pada Selasa 9 Juni 2020, bahkan mencapai 1.043 orang, angka tertinggi sejak pemerintah mengumumkan secara resmi angka-angka penularan di Indonesia.

Tetapi di sisi lain, masyarakat terkesan tidak takut tertular covid-19, sebagaimana terlihat dari pergerakan yang bebas seolah tidak ada ancaman covid-19.

Baca juga  Vinus Care Bagikan Sembako Gratis Bagi Dhuafa Di Desa Cibatok I

Menurut Yusfitriadi situasi seperti ini, terjadi karena kombinasi empat  faktor.

“Saya melihatnya minimal ada 4 faktor,” kata Yus, sapaan akrab Yusfitriadi yang beberapa kali menggelar webinar terkait covid-19, baik skala lokal Bogor maupun nasional.

Pertama, kata Yus, adalah manajemen penanganan covid-19 yang tidak optimal. Kita bahkan dihadapkan pada penanganan covid-19 setengah hati.

Sebagai buktinya, dari PSBB tahap 1, tahap 2, bahkan tahap 3, tidak jelas ukuran keberhasilannya. Yang kita lihat hanya masyarakat yang positif covid-19 terus bertambah di satu sisi dan di sisi lain, di beberapa tempat aktifitas masyarakat tidak berubah.

Kedua, ambiguitas kebijakan pemerintah. Ketidakjelasan kebijakan pemerintah ini terlihat antara lain dari aktifitas keluar masuk masyarakat dari luar kota ke Bogor atau sebaliknya.  Kita bisa melihat dengan sangat jelas bahwa sejumlah objek  wisata di Bogor ramai pengunjung. Pemeriksaan masyarakat yang masuk Bogor juga sudah tidak jelas, aktifitas penanganan covid-19 oleh gugus tugas seakan sudah hilang.

Baca juga  Direktur DEEP Sorot Stunting di Kota Bogor

Ketiga, opini covid-19 yang simpang siur. Kita merasakan bagaimana simpang siurnya opini tentang munculnya covid-19. Ada yang menyebut ini rekayasa, ada yang mengopinikan covid-19 merupakan bagian dari perang antara blok barat dan blok timur atau perang antara Amerika Serikat dan China. Ada juga yang menyebut covid-19 ini pada perspektif teori eliminasi dan macam-macam. Aneka opini yang berkembanga ini berkontribusi mempengaruhi opini publik dan dijadikan rujukan sehingga masyarakat tampak tidak khawatir tertular covid-19.

Kesimpangsiuran ini terlihat dari adanya pernyataan yang menyatakan bahwa sampai saat ini belum ada orang gila yang dinyatakan positif covid-19, padahal orang gila gaya hidupnya jauh dari protokol kesehatan. Yang ada, jangan-jangan adalah orang normal yang menjadi gila karena ketakutan yang berlebihan terhadap covid-19.

Baca juga  200 Paket Bantuan Vinus Care untuk Korban Banjir Bandang Gunung Mas

Keempat, bangunan tatanan sosial masyarakat Indonesia yang secara alamiah tidak terlalu kuat terhadap kedisiplinan, keteraturan, ketaatan terhadap kebijakan pemerintah apapun penyebabnya. “Tentu tidak sedikit masyarakat yang terancam kebutuhan dasarnya ketika harus tetap di rumah, selain  belum terbiasa menjalankan atau menjadikan protokol kesehatan sebagai gaya hidup di era normal baru,” tutup Yusfitriadi. [] Hari

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

To Top