Kab. Bogor

Terpenjara Pikiran Sendiri

Syarifudin Yunus

Oleh: Syarifudin Yunus,

(Pegiat Literasi TBM Lentera Pustaka Bogor)

BOGOR-KITA.com, BOGOR – Hari ini, bisa jadi banyak orang bebas secara fisik. Tapi terpenjara secara pikiran dan batin. Terpenjara keserakahan, terpenjara ketidak-pedulian. Hingga terpenjara kenyamanan yang dinikmati sendiri.

Terpenjara itu artinya bukan “dapat dipenjarakan”. Tapi “disekap di penjara”. Itu berarti seseorang yang terpenjara, pasti sudah berbuat salah. Karena penjara memang untuk orang yang terhukum. Terbukti bersalah, Tapi sayang, faktanya hari ini banyak orang yang “memenjarakan” orang lain. Terlalu gampang menyalahkan orang lain. Tanpa tahu apa salahnya orang itu? Bila salah pun, apa salah satu atau salah semua.

Terpenjara. Lalu bila orang lain salah, apa kita pasti benar?

Baca juga  Terpenjara Pikiran Sendiri

Jawabnya, belum tentu. Berkaca dari kisah Nabi Yusuf AS. Seorang pemuda tampan yang memesona banyak wanita. Siapapun wanita pasti mudah jatuh cinta. Hingga istri majikannya sekalipun, Siti Zulaikha pun terpikat lalu jatuh cinta padanya. Hebatnya, Nabi Yusuf mampu menolak ajakannya. Menolak intimidasi seorang Siti Zulaikha yang juga cantik dan menarik. Meskipun saat itu, tidak ada siapa-siapa di istana. Hanya mereka berdua, bahkan pintu-pintu pun tertutup. Saat itu ya, bukan saat ini.

Nabi Yusuf, mampu mencegah dirinya dari ajakan maksiat; ia lolos dari ujian atau godaan syahwat nan dahsyat di kala itu. Tapi akibatnya, Nabi Yusuf pun “terpenjara”. Akibat penolakannya terhadap Siti Zulaikha. Tidak salah, tapi Nabi Yusuf tetap dipenjarakan. Ia jadi korban nafsu dan intimidasi sang ratu. Begitulah adanya.

Baca juga  Terpenjara Pikiran Sendiri

Saat Nabi Yusuf lebih memilih cinta untuk taat kepada Allah SWT. Menolak ajakan maksiat Siti Zulaikha. Justru dipenjara. Apa artinya? Kadang, kebenaran itu memang menyakitkan jika dinyatakan. Karena hanya sedikit orang yang dapat menerimanya. Sementara banyak orang lainnya, lebih suka menyalahkan. Lalu memenjarakan pihak yang “dianggap” salah. Sekalipun mereka tidak tahu faktanya.

Seperti di taman bacaan. Semua sepakat membaca buku itu baik. Tapi sedikit saja dari mereka yang mau membaca. Apalagi peduli terhadap tradisi baca dan budaya literasi. Akibat terpenjara dunia, terpenjara pikiran sendiri. Batinnya terpenjara.

Literasi terpenjara. Hanya mengingatkan. Bahwa hari ini, kita lebih senang menempatkan orang lain pada posisi yang salah. Sedangkan kita sendiri semakin menjauh dari posisi yang benar. Maka penjarakanlah kita dengan kebenaran. Tapi jangan siksa orang lain dengan kebohongan lalu memenjarakannya.

Baca juga  Terpenjara Pikiran Sendiri

Kenapa? Karena masih saja ada orang yang gemar berjuang untuk membenci dengan baik dan benar. Tapi di saat yang sama, lupa untuk menyayangi orang lain sekalipun dengan cara yang salah. Salam literasi. []

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

To Top