Netizen

Seruput Kopi Pagi, Di Mana Akal Sehat?

Syarifudin Yunus

Oleh: Syarifudin Yunus,

(Pegiat Literasi TBM Lentera Pustaka)

BOGOR-KITA.com, TAMANSARI – Kopi. Ada yang suka ada yang tidak suka. Itu sudah biasa dan sah-sah saja. Seperti hidup pun. Ada yang suka dan ada yang tidak suka. Seperti vaksin Covid-19 pun ada yang menolak ada yang tidak menolak. Seperti taman bacaan pun, ada yang benci ada yang suka. Karena siapapun. Tidak akan pernah bisa “memaksa” orang lain untuk menyukainya. Pro kontra sah-sah saja. Agar jangan melumpuhkan akal sehat.

Pada secangkir kopi. Apalagi di pagi hari.
Selalu membuat penikmatnya selalu takjub. Selalu bersyukur dan bersenang hati. Terasa indah saat meneguknya. Karena rasa pada secangkir kopi. Pahit itu bersifat alamiah. Orisinal dan bukan dibuat-buat. Rasa yang tidak mungkin di manipulasi. Emas ya emas, sampah ya sampah. Tidak akan pernah tertukar sedikitpun.

Baca juga  Markas Suporter Persib di Puncak Diserang Sekelompok OTK

Secangkir kopi. Selalu membuat kagum, bahkan terheran. Karena sensasinya yang luar biasa. Persis seperti, takjubnya manusia kepada Tuhannya. Kagum pada cara Tuhan memberi rezeki kepada umatnya. Tidak pernah tertukar bahkan tidak bisa dimanipulasi sedikitpun.
Pada secangkir kopi. Ada hati nurani. Ada kebenaran yang hakiki. Bukan celotehan atau argumen yang dibuat-buat. Karena kopi, selalu mampu menyelaraskan pikiran, hati, dan sikap penikmatnya. Karena sesempurna apapun kopi yang kamu buat. Kopi tetap menghadirkan sisi pahit yang sulit disembunyikan.

Pada kopi. Ada takaran yang seimbang; antara manis dan pahit. Biar pas rasanya. Jangan terlalu manis. Jangan juga terlalu pahit. Kopi yang mampu membangkitkan energi dan inspirasi. Kopi yang penuh esensi bukan sensasi. Seperti pepatah “hiduplah sesuai dengan kemampuan; jangan hidup atas kemauan apalagi kebencian”.

Baca juga  Pemkab Bogor Beri Penghargaan Kepada Wajib Pajak dan PPAT

Sungguh, menyeruput kopi pagi. Bak memendam rasa angkuh akibat gemerlap dunia. Takjub pada kebesaran-Nya, bukan keangkuhan diri. Agar tetap tenang dan lembut dalam belantara kehidupan. Tanpa perlu meninggikan hati; tanpa perlu merendahkan orang lain. Karena di depan kopi, semua manusia sama saja. Ada kelebihan sekaligus ada kekurangan. Bahwa semanis apapun hidup, rasa pahit akan selalu ada. Maka akal sehat, harus tetap berpihak kepada kebenaran dan kebaikan. Apapun kondisinya, bagaimana pun keadaannya.

Pada secangkir kopi. Selalu ada pesan yang menghampiri.

Bahwa siapapun, tidak ada yang sempurna. Maka tidak perlu adu argumen dengan orang yang mempercayai kebenciannya sendiri. Lalu buta dari melihat kebaikan yang ada di dekatnya. Dan secangkir kopi, tidak pernah berhenti memberi inspirasi tentang hebatnya sebuah perjalanan. Salam literasi. []

Baca juga  Polisi Amankan Pelaku Pencopetan di JPO Stasiun Bogor
Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

To Top