Wahyu Hidayat Lubis

Rujuklah Kembali di Hari yang Fitri

BOGOR-KITA.com – Setelah perjalanan konflik politik yang dialami oleh bangsa Indonesia beberapa tahun ke belakang ini, yang membuat bangsa ini bercerai hingga menjadi bangsa buruk rupa. Alangkah bijaksananya jika ada terpercik dalam jiwa setiap elite politi baik secara ucapan maupun secara tindakan dapat saling memaafkan demi bangsa dan negara Indonesia. Hari yang penuh cinta, dan kebahagian inilah momennya untuk saling memaafkan.

Jika kita kembali ke masa lalu, kita akan mengerti betapa cintanya para pendiri bangsa ini kepada kita yang saat ini menikmati kemerdekaan, persatuan, dan kesatuan yang menjadi kekayaan bangsa ini. Pada waktu itu, para pendiri bangsa mempersiapakan kemerdekaan, para pendiri bangsa saling bertanya, “apa yang kita inginkan?”. Bung Hatta menjawab: “Aku ingin membangun negara di mana semua orang merasa bahagia di dalamnya.”

Lantas mereka menyatakan, “tidak ada kebahagian tanpa kemerdekaan; tidak ada kemerdekaan tanpa pemerintahan sendiri; tak ada pemerintahan sendiri tanpa konstitusi; dan akhirnya tak ada konstitusi tanpa moral.”

Itulah kebijaksanaan para pendahulu bangsa, tanggung jawab moril yang dimiliki oleh pendiri bangsa untuk memerdekakan dan mempersatukan bangsa Indonesia sepatutnya ditauladani oleh para elite politik saat ini.

Memaafkan adalah tugas moril yang harus dimiliki oleh semua yang berkehendak untuk menjadi pemimpin yang bijaksana. Memang banyak pemimpin saat ini terlihat bertukar haluan, karena penghidupan, popularitas, dan proyek pencitraan diri. Pemimpin yang bijaksana senantiasa akan terjauh dari godaan iblis itu.

Kata Bung Hatta kembali bahwa “ketetapan hati dan keteguhan iman adalah satu conditio sine gua non (syarat yang terutama) untuk menjadi pemimpin. Kalau elite politik tidak memiliki  tanggung jawab moril yang kuat, ia tak akan dapat memenuhi kewajibannya untuk menjaga persatuan dan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Beban moril untuk memaafkan memang merupakan suatu pengalaman perpindahan dari suatu peristiwa yang tidak mengenakkan beralih menjadi peristiwa yang membebaskan. Karena itu, memaafkan berarti membebaskan. Artinya, dengan memaafkan, sang pemberi maaf melepaskan seluruh kekecewaan, kegelisahan, benci, sakit hati, dan dendam di dalam dirinya sendiri.

Memaafkan juga menjadi suatu pemebelajaran berharga bagi pemberi maaf. Karena memaafkan menuntut kerendahan hati, dan keterbukaan diri bagi orang lain. Adanya prinsip keterbukaan untuk saling memaafkan antara para elite politik bangsa ini, akan memberikan arti yang mendalam bagi bangsa. Pengakuan kesalahan dan kekhilafan itu, merupakan refleksi dari keinginan untuk tidak akan melakukan hal yang sama pada kesempatan lain. Oleh karena itu harus dimaafkan. Pada akhirnya kita sebagai bangsa Indonesia akan berkata “We forgive, but not to forget”.

Maka sikap itulah yang diharapkan oleh seluruh rakyat bangsa Indonesia dari para elite politik yang berseteru saat ini. Agar kita hidup penuh cinta dan kebahagian. Di momen Hari Raya Idul Fitri ini, agar pula kita mejadi golongan bangsa yang kembali sebagai pemenang (minal ‘aidin wal faizin) dan semoga tercerainya elite politik saat ini dapat kembali rujuk di hari yang fitri ini.

[] Wahyu Hidayat Lubis (Aktivis Himpunan Mahasiswa Islam—Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Pakuan)



Bogor-Kita.com - Sejak 2010


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *