RPH Kota Bogor Hanya Memotong Sapi, Tidak Menjual Daging Sapi

Rumah Potong Hewan Terpadu Kota Bogor

BOGOR-KITA.com – Rumah Potong Hewan (RPH) hanya bertugas sebagai rumah potoh hewan. Tidak ada kegiatan menjual daging hewan. Penegasan ini dikemukakan Kepala UPTD RPH Terpadu Kota Bogor, Drh.R.B. Arief Mukti W,MM di Bogor, Senin (13/7/2015).

Arief merasa perlu menegaskan hal itu, karena menurutnya masih saja ada yang beranggapan RPH sebagai penyedia, penyuplai  dan sekaligus berdagang daging.

Sesuai standar operasionalnya, hewan yang akan disembelih dititipkan oleh pemilik di RPH, selama 2 atau 3 hari dan paling lama 5 hari sebelum disembelih dengan membayar retribusi penitipan Rp 3.000 per ekor. Penampungan diperlukan supaya hewan bisa istirahat setelah diangkut dari peternakan dan tidak stres. Hewan yang stres kualitas dagingnya tidak prima.

Kondisi kesehatannya juga harus diperiksa. Jangan sampai hewan yang akan disembelih ternyata mengidap penyakit zoonosis atau juga keracunan makanan. Itulah sebabnya RPH menjamin, daging yang dihasilkan dari proses penyembelihan terkategori sebagai daging Aman, Sehat, Utuh dan Halal (ASUH).

Untuk memenuhi standar ASUH, RPH Bubulak menjamin proses penyembelihan hewan dilakukan sesuai syariat Islam. “Kami memiliki 6 orang julaiha alias juru sembelih halal,” kata Arief. Mereka adalah para eksekutor yang sudah terlatih dan 4 diantaranya sudah memiliki sertifikat khusus. Begitupun pada proses penyembelihannya, Restraining Box atau alat yang dipergunakan akan membuat seekor sapi langsung pada posisi menghadap kiblat pada saat mau disembelih.

Selain aspek halal, RPH Bubulak juga telah memilik Nomor Kontrol Veteriner. Sebuah sertifikat yang menyatakan telah dipenuhinya persyaratan higienis sanitasi, sebagai persyaratan kelayakan dasar jaminan pangan asal hewan.

Setelah disembelih – biasanya pada malam hari –  daging akan dibeli oleh pedagang  daging dan diangkut ke pasar. Begitupun dengan bagian-bagian lain seperti kulit, kepala dan kaki hewan. Menurut Arief, para pedagang lebih memilih langsung menjual daging segar ke pasar-pasar dan tidak menyimpannya di gudang pembekuan.

Padahal RPH ini juga dilengkapi dengan gudang pembekuan daging. “Menurut para pedagang, masyarakat kita lebih suka mengkonsumsi  daging segar daripada daging beku,” lanjut Arief. Setelah disembelih pemilik hewan wajib membayar retribusi. Terdiri dari biaya penyembelihan Rp 25.000, pemeriksaan ante mortem Rp 5000,- dan pemeriksaan post mortem Rp 5.000,-

Sesuai tugasnya memberikan pelayanan menyembelih hewan ternak, RPH yang dibangun tahun 2002 itu didesain menjadi RPH terpadu. Di atas lahan sekitar 5,8 H, RPH ini dilengkapi dengan kandang penampungan, pasar hewan, klinik, dan meat shop, selain sarana penyembelihan dan pembuangan limbah. “Sehingga pelayanan yang diberikan sangat lengkap dari hulu ke hilir,” kata Arief yang juga menyebut lembaga yang dipimpinnya sebagai RPH percontohan di Indonesia.

Itu sebabnya RPH Bubulak sudah banyak dikunjungi tamu dari berbagai daerah yang hendak mempelajari pengelolaan RPH. Juga yang hendak mempelajari berbagai hal tentang pengelolaan daging, pemeriksaan sapi dan perlakuan sapi sebelum disembelih.

Wajar bila RPH Terpadu Kota Bogor menjadi percontohan, karena sudah mengantongi Sertifikat Halal dari MUI, Nomor Kontrol Veteriner  dari Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat dan ISO 9001 : 2008. Selain itu ada 13 penghargaan yang telah diterimanya.

Diantaranya Penghargaan Citra Pelayanan Prima Tingkat Pratama Tahun 2010 dari Kementrian PAN&RB, Piala Abdi Bakti Tani Tahun 2011 dari Kementrian Pertanian dan Penghargaan dari Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementrian Pertanian sebagai Rumah Potong Hewan Berprestasi dalam mendukung Program Swasembada Daging Sapi/Kerbau Tahun 2011. (Baca juga: http://www.bogor-kita.com/index.php/menu-kota-bogor/2002-jelang-lebaran-sapi-potong-meningkat-dari-50-menjadi-500-ekor-per-hari). [] Admin



Bogor-Kita.com - Sejak 2010


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *