Petani Gunung Picung Meradang, Lahan Menipis, Bendungan Hancur


BOGOR-KITA.com – Sektor pertanian di Kecamatan Pamijahan, di kaki Gunung Salak-Halimun yang dijuluki lumbung padi di Kabupaten Bogor, terancam punah. Tingginya laju alih fungsi lahan dalam sepuluh tahun terakhir ini, dituding sebagai penyebab utamanya.

Pesatnya pertumbuhan penduduk disana membuat sebagian besar lahan di sana kini telah berubah menjadi pemukiman. Dari total luas lahan hanya 4 hektar saja yang masih digunakan untuk pertanian warga.

Ironisnya lagi, lahan tersisa itu, kini juga terancam hilang setelah bangunan bendungan saluran irigasi yang memanfaatkan aliran Sungai Cigamea di KampungWarung Nangka, RT 01/RW 07, hancur sejak 2005 lalu.

"Bagaimana kami mau bercocok tanam dan bertani, sawah pertanian yang tersisa seluas 4 hektar saja tidak dapat ditanami akibat tidak adanya pasokan air," kata salah seorang petani, Mahnur, kepada PAKAR, di Pamijahan, Kamis (6/11).
Akibatnya, sambung Mahnur, saat ini kondisi sawah tidak bisa dibajak lantaran tanahnya mengeras. Warga yang kini masih menyandarkan hidup dari sektor pertanian, pernah mencoba mengubah komoditi pertanian dari padi ke sayur mayur. Namun tetap saja tidak bisa lantaran tidak ada air.
"Lahan basah kini berubah menjadi tandus. Sudah berkali kali kami sampaikan kepada UPT Pengairan Dinas Binamarga, namun jawabannya selalu tar sok tar sok, sampai kini sudah berselang 9 tahun, tak pernah ada penanganan pebaikan. Akibatnya selama 9 tahun, puluhan petani Gunung Picung menganggur," tukasnya.
Kepala Desa Gunung Picung, Oman membenarkan, hancurnya bendungan saluran irigasi dari Sungai Cigamea yan sudah terjadi selama bertahun tahun. "Kini lahan seluas 4 hektar yang menjadi tumpuan hidup bagi sebanyak 55 kepala keluarga petani Desa Gunung Picung, tak lagi bisa digarap,” sebutnya.

Diakui Oman, pihak Desa sudah pernah mengajukan perbaikan baik melalui Musrenbang Desa Musrenbang Kecamatan,bahkan sampai kabupaten. Namun sia-sia belaka. "Kita frustrasi dengan bantuan pemkab yang tak kunjung dating,” katanya.

Solusi yang diambil ketika itu adalah masyarakat secara swadaya membeli 50 bronjong untuk memperbaikinya. Tapi hasilnya semuanya sia-sia, karena bangunan bendungan itu memang harus dibuat baru yang lebih permanen. Apalagi sungai Cigamea sering banjir," ungkapnya.
Oman mengaku masih berharap pemkab segera membantu memperbaiki kerusakan bendungan tersebut.Apalagi di bekas saluran irigasi itu, kini malah jadi semacam tampungan limbah MCK warga, sehinga kerap menimbulkan bau aroma tidak sedap dan beberapa menjadi sumber wabah demam berdarah," pungkasnya. [] Harian PAKAR/Admin



Bogor-Kita.com - Sejak 2010


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *