Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Pakuan Bogor, Dr. Hendro Sasongko, Ak.,M.M.,CA.

Pemkab Bogor Tak Berhenti Gerakkan Ekonomi di Masa Pandemi

BOGOR-KITA.com, BOGOR – Munculnya berbagai prediksi  bahwa corona atau covid-19 akan berakhir Juni 2020, menggugah munculnya pertanyaan, apakah sudah saatnya pemkab Bogor mulai menggulirkan pembangunan ekonomi sambil tetap fokus pada penanganan covid-19?

“Sejatinya, pembangunan ekonomi tidak pernah berhenti dilaksanakan oleh Pemkab Bogor,” kata Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Pakuan (Unpak) Bogor, Dr Hendro Sasongko kepada BOGOR-KITA.com, Selasa (28/4/2020) malam.

Prediksi corona selesai pada Juni muncul dari sejumlah universitas di Indonesia, termasuk dari IPB University.

Prediksi terbaru datang dari Singapore University of Technology and Design (SUTD). Dipantau dari website resminya, Selasa (28/4/2020) pukul 13.52 WIB, SUTD Data Driven Innovation Lab, memprediksi pandemi Covid-19 di Indonesia berakhir mulai 4 Juni 2020.

Disebutkan, pada 4 Juni 2020, Indonesia diprediksi menyelesaikan 97 persen kasus Covid-19 dan pada 20 Juni 2020 Indonesia menyelesaikan 99 persen kasus Covid-19. Penelitian tersebut memprediksi kasus Covid-19 di Indonesia akan selesai 100 persen pada 28 Agustus 2020.

Hendro mengatakan, memang ada berbagai kajian dan prediksi tentang masa pandemi covid-19 ini, baik yang optimis maupun pesimis. Tetapi, katanya, sebenarnya semua juga bergantung pada upaya dan disiplin masyarakat.

Baca juga  Serikat Rakyat Miskin Desak Pemkab Bogor Percepat Pembinaan PKL

Terkait apakah Pemkab Bogor sudah saatnya menggulirkan pembangunan ekonomi sambil tetap fokus pada penanganan covid-19, Hendro mengatakan, sejatinya pembangunan ekonomi tidak pernah berhenti dilaksanakan oleh Pemkab Bogor, karena pembangunan ekonomi itu sendiri terdiri dari banyak aspek.

Hanya pandemi covid-19 ini berdampak pada perubahan skala prioritas karena fokus utamanya adalah bagaimana menangani dampak covid-19 yang sangat masif terhadap hampir semua sektor. Dari sistem anggaran, dilakukan realokasi dan refocussing APBD, yang berdampak terhadap berkurangnya alokasi beberapa mata anggaran, termasuk anggaran yang awalnya disiapkan untuk fondasi pertumbuhan ekonomi seperti infrastruktur.

“Saya kira masyarakat harus bisa menerima dan maklum jika pertumbuhan ekonomi daerah akan terkontraksi cukup dalam karena itu konsekuensi dari refocussing program program yang telah disiapkan sebelumnya. Semoga tidak ada pihak-pihak yang berupaya “memancing di air keruh” untuk target target yang bakal tidak tercapai nanti, percayalah upaya seperti itu malah akan membuat muak masyarakat,” kata Hendro.

Hendro mengatakan, walaupun terjadi realokasi APBD, tapi substansi program pancakarsa Pemkab Bogor tetap dilaksanakan, tentunya, dengan perubahan skala prioritas sepanjang diperlukan. Sebagai gambaran, pihak yang paling terdampak dan rentan dari wabah covid-19 adalah para pekerja di sektor yang sensitif terhadap wabah tersebut, pekerja yang memiliki mobilitas tinggi dan tentunya para pelaku UMKM.

Baca juga  DEEP Gelar Diskusi Bareng Anggota DPRD Kabupaten Bogor Terpilih

“Jadi silakan sumberdaya yang dimiliki Pemkab Bogor difokuskan kepada upaya untuk mengurangi kontraksi kesejahteraan atau daya beli mereka. Kombinasi antara relaksasi berbagai regulasi pusat dan daerah (seperti keringanan retribusi dan pajak,  restrukturisasi pinjaman), bantuan langsung tunai, jaminan ketersediaan logistik, kendali harga bahan pangan, bahkan penggalangan donasi dan sumbangan masyarakat, diharapkan dapat mempercepat pemulihan ekonomi dari dampak pandemi ini,” kata Hendro. [] Hari



Bogor-Kita.com - Sejak 2010


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *