Mahasiswa IPB Ciptakan Aplikasi Kriyaloka untuk Kurangi Pengangguran Masyarakat Desa

Mahasiswa IPB Ciptakan Aplikasi Kriyaloka untuk Kurangi Pengangguran Masyarakat Desa

BOGOR-KITA.com – Tiga Mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB), Muhammad Majid Firman Siregar, Almas Quratu’ayuni, serta Mohammad Ghifari Haekal menciptakan aplikasi bisnis yang diberi nama Kriyaloka. Gagasan yang mereka ciptakan berhasil membuat mereka meraih Juara III sekaligus Juara Favorit di ajang The 8th UI Studentpreneurs yang diadakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (BEM FEB UI), (16/2/2019).

“Saat melakukan presentasi, salah satu hal yang saya jadikan latar belakang adalah menceritakan ketika saya melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Saya waktu itu menjadi koordinator kabupaten di Kabupaten Majalengka. Saya keliling ke berbagai desa dan melihat banyak warga desa yang belum produktif dan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) yang belum maksimal,” ucap Majid.

Ide bisnis yang mereka bawakan berbentuk start up yang diberi nama Kriyaloka. Majid menuturkan bahwa Kriyaloka dibentuk atas dasar keinginan untuk menyelesaikan permasalahan pengangguran di desa dan ketidakproduktifan masyarakat desa. Padahal sebenarnya di desa-desa tersebut banyak pengrajin souvenir.

“Kriyaloka ini nantinya akan berperan sebagai platform atau wadah yang akan memberdayakan warga desa dan juga pengrajin melalui industri kriya padat karya. Jadi cara kita untuk menyelesaikan masalah pengangguran di desa adalah dengan menjadikan masyarakat desa sebagai pembuat souvenir. Kriyaloka akan melibatkan Bumdes dan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) dari perguruan tinggi untuk melakukan pemberdayaan dan pelatihan pembuatan kerajinan tangan bagi warga desa,” ujar Majid.

Produk-produk souvenir yang dihasilkan oleh para warga desa akan dipasarkan melalui Kriyaloka dengan sistem business to business. Sistem ini merupakan sistem penjualan yang melibatkan antara institusi perusahaan dengan institusi perusahaan lainnya. Souvenir yang dihasilkan akan ditawarkan kepada usaha-usaha atau lembaga-lembaga yang membutuhkan souvenir.

“Kita memilih sistem ini karena kita menginginkan produksinya itu berlanjut dan melihat pangsa pasar yang besar. Ambil contoh pada perusahaan jasa Wedding Organizer. Dalam sebuah pernikahan pasti akan membutuhkan souvenir. Pernikahan di Indonesia setiap tahunnya sebanyak dua juta kali, berdasarkan data Badan Pusat Statistik. Kita misalkan, setiap pernikahan mengundang 500 orang, dikalikan dua juta, ada satu miliar souvenir yang dibutuhkan per tahunnya,” tutur Majid.

Keikutsertaan Majid dalam lomba The 8th UI Studentpreneurs turut mendapat dukungan dari salah satu anggota Himpunan Alumni Institut Pertanian Bogor (HA IPB). “Kebetulan saya mengikuti program Mentoring Leader, program HA IPB, yang diprakarsai oleh Pak Jamil Azzaini. Saya waktu itu membagikan link video Kriyaloka ke grup Mentoring Leader, dengan maksud meminta bantuan teman-teman Mentoring Leader untuk melihat dan like video tersebut. Ternyata direspon oleh Pak Jamil. Beliau membantu menyebarkan video Kriyaloka. Kami pun berhasil meraih gelar sebagai Juara Favorit dengan melihat dari jumlah like video di Youtube. Saya berterima kasih kepada Pak Jamil yang telah memberikan dukungan,” terang Majid. [] Admin / Rilis IPB University



Bogor-Kita.com - Sejak 2010


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *