Nasional

Kontribusi Koperasi Terhadap Perekonomian Nasional Hanya 5,1 Persen

BOGOR-KITA.com, BOGOR – Dr Arief Daryanto, Dekan Sekolah Vokasi IPB University berharap koperasi Indonesia semakin maju, berdaya saing dan terus menjadi penggerak pertumbuhan dan pemerataan ekonomi masyarakat yang semakin nyata.

“Saat ini setidaknya ada dua tantangan utama pengembangan koperasi di Indonesia. Pertama, kontribusi koperasi terhadap perekonomian nasional tercatat baru mencapai 5,1 persen. Ini masih lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara lain seperti Singapura 10 persen, Selandia Baru 20 persen, Perancis 18 persen dan Belanda 18 persen,” katanya saat memberikan sambutan dalam Seminar Nasional Koperasi Agribisnis, beberapa waktu lalu.

Angka tersebut mencerminkan bahwa koperasi di negara-negara maju sebagai kekuatan ekonomi yang sangat diperhitungkan. Selain itu, kalau kita lihat dari kontribusi yang rendah tadi terhadap perekonomian nasional, ini karena partisipasi masyarakat untuk menjadi anggota koperasi masih rendah. Ini yang perlu terus ditingkatkan. Partisipasi masyarakat menjadi anggota koperasi masih rendah berkisar 8,41 persen. Angka ini juga jauh dari rata-rata dunia yang mencapai 16,31 persen,” sambung dia.

Baca juga  Atalia Dorong Istri Jadi Benteng Cegah Korupsi

Dalam kegiatan yang digelar oleh Program Studi Manajemen Agribisnis (MAB), Sekolah Vokasi IPB University ini juga dihadiri Wakil Rektor bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan, Dr Drajat Martianto. Ia menambahkan bahwa di era revolusi industri 4.0 ini, Dr Drajat meyakini bahwa koperasi masih dan akan terus menjadi salah satu potensi ekonomi.

“Koperasi ini adalah salah satu bentuk kegiatan perekonomian yang sesuai dengan karakter bangsa Indonesia. Persoalannya adalah kenapa kita belum dapat memanfaatkan koperasi ini pada tingkat yang maksimal. Padahal seharusnya kita bisa seperti yang dicapai oleh negara-negara maju. Ini merupakan tantangan yang harus kita hadapi bersama,” tuturnya.

Ia punya keyakinan yang kuat bahwa pengembangan koperasi agribisnis ke depan bagi generasi muda tentu menjadi sesuatu yang prospektif. Asalkan ada upaya-upaya yang dapat membuka mindset generasi muda bahwa koperasi adalah salah satu potensi ekonomi yang masih begitu luas untuk dikembangkan.

Baca juga  Sekilas Tentang Durian dari Rumpin, Kabupaten Bogor

“Sehingga kita nantinya bisa seperti di negara-negara Eropa. Koperasi menjadi sesuatu yang sangat besar kontribusinya pada kehidupan ekonomi maupun sosial masyarakat. Kita perlu terus lakukan rebranding dan menumbuhkan mindset bahwa koperasi bukan riwayat masa lalu. Melainkan future practice yang bisa mengikuti gaya perkembangan atau pertumbuhan bisnis seperti yang diinginkan oleh masyarakat Indonesia,” ujarnya.

Selanjutnya, Staf Khusus Menteri Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), Dr Riza Damanik menyampaikan kebijakan pengembangan koperasi agribisnis bagi generasi milenial 4.0. Menurutnya, agenda transformasi koperasi dan UMKM ke depan adalah dalam kerangka untuk mendorong empat hal. Pertama, transformasi ke koperasi modern. Kedua, mentransformasi usaha informal menjadi formal. Ketiga, transformasi ke rantai pasok dan ekspor. Dan keempat transformasi digital dan teknologi. “Ini menjadi prioritas kementerian untuk segera dilaksanakan,” ujarnya.

Baca juga  Ini Syarat Umroh untuk Jemaah dari Indonesia

Webinar ini juga menghadirkan Ketua Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia, Kamaruddin Batubara, SE, ME yang menyampaikan materi mengenai Praktik Bisnis Koperasi BMI Bagi Pelaku Agribisnis dan UMKM Generasi Milenial di Era 4.0. Ketua Koperasi Pemasaran Okiagaru Indonesia Agricoop, Agus Ali Nurdin, SE menyampaikan materi mengenai peluang dan tantangan koperasi agribisnis bagi generasi milenial di era 4.0. Dan terakhir ada Owner Limbah Karya Mandiri, Ricky Iskandar Toreh, Alumni dari Program Studi MAB Sekolah Vokasi IPB University. [] Hari

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

To Top