Kab. Bogor

Daya Beli Wisatawan Melemah, Pengelola Rest Area Oleh-oleh Tak Berharap Banyak pada Momen Libur Sekolah

BOGOR-KITA.com, BOGOR – Libur sekolah yang biasanya menjadi momentum bagi pengelola rest area oleh-oleh untuk meraup keuntungan dari kunjungan wisatawan, belum menunjukkan dampak signifikan terhadap peningkatan penjualan. Dalam beberapa hari terakhir, daya beli wisatawan dinilai cenderung melemah.

Salah seorang pengelola Rest Area KM 80, Lili, mengatakan penurunan daya beli wisatawan sudah dirasakan dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, rombongan bus wisata yang dahulu menjadi harapan para pedagang kini tidak lagi mampu mendongkrak omzet penjualan.

“Bus memang masuk ke rest area, tetapi yang berbelanja hanya satu atau dua orang saja. Sebagian besar penumpang memilih tetap berada di dalam bus,” ujar Lili, Selasa (23/6/2026).

Tidak hanya rombongan bus, jumlah wisatawan yang datang menggunakan kendaraan pribadi dan berbelanja di sentra oleh-oleh juga disebut mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Saat ini, kata dia, banyak wisatawan memilih berangkat pagi dan kembali pada hari yang sama tanpa menginap maupun berbelanja.

Baca juga  Karangtaruna Kolaborasi Pemdes Tegal Semprot Disinfektan

“Mereka datang hanya untuk berwisata lalu pulang. Banyak yang membawa bekal sendiri sehingga tidak ada aktivitas belanja oleh-oleh,” katanya.

Padahal, jika melihat kondisi lalu lintas di Jalur Puncak selama libur sekolah, volume kendaraan terpantau cukup tinggi. Kemacetan bahkan kerap terjadi sejak pagi hingga malam hari. Namun, ramainya kendaraan di jalan raya dinilai tidak berbanding lurus dengan tingkat kunjungan ke pusat oleh-oleh.

“Kalau objek wisata memang ramai, tetapi untuk rest area dan sentra oleh-oleh justru masih sepi,” jelasnya.

Lili juga mengungkapkan adanya dugaan praktik pemberian insentif kepada sopir bus agar rombongan wisata singgah di rest area tertentu. Menurut dia, praktik tersebut telah berlangsung cukup lama di kalangan pengelola rest area.

Baca juga  Dosen Senior IPB Dr Sofyan Sjaf Dapat Apresiasi Sebagai Penggagas Konsep Data Desa Presisi

“Biasanya bus akan berhenti di rest area tertentu setelah ada kesepakatan antara pengelola dan sopir bus,” ungkapnya.

Ia menyebut nilai insentif yang diberikan kepada sopir bus dapat mencapai Rp400 ribu untuk setiap kunjungan. Namun, menurutnya, tidak ada jaminan seluruh penumpang akan berbelanja saat bus berhenti.

“Kadang kami harus menyiapkan dana hingga puluhan juta rupiah agar rombongan bus mau singgah. Namun setelah datang, jumlah pembelinya sangat sedikit,” ujarnya.

Menurut Lili, pola tersebut berpotensi memberatkan sebagian pelaku usaha karena pengelola yang memiliki modal lebih besar dinilai lebih mudah mendapatkan kunjungan rombongan bus.

“Pada akhirnya kondisi ini memberatkan pengelola karena biaya yang dikeluarkan tidak sebanding dengan nilai transaksi yang terjadi,” ucapnya.

Baca juga  Aplikasi SiGili, Sistem Penggilingan Padi DKP Kabupaten Bogor

Keluhan serupa disampaikan salah seorang pemasok produk oleh-oleh di kawasan Puncak. Ia membenarkan adanya praktik pemberian insentif kepada sopir bus yang, menurut pengakuannya, telah berlangsung cukup lama.

“Kasihan rest area yang lebih kecil karena mereka tidak mungkin mengeluarkan biaya ratusan ribu rupiah hanya untuk satu sopir bus,” tuturnya.

Menanggapi hal tersebut, Anggota DPRD Kabupaten Bogor dari Daerah Pemilihan (Dapil) III, Selamet Mulyadi, meminta seluruh pihak terkait mencari solusi atas persoalan tersebut serta menciptakan iklim usaha yang lebih berkeadilan bagi pelaku usaha.

“Nanti akan kami bahas bersama para pengelola. Jika memang kondisi ini membuat pedagang oleh-oleh kesulitan hingga terancam bangkrut, tentu harus ada solusi yang lebih adil bagi semua pihak,” tandasnya. [] Danu

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

To Top