Nasional

Populasi Orang Utan Sumatra Turun 19,5 Persen, Peneliti IPB Dorong Penguatan Konservasi

Foto GPT

BOGOR-KITA.com, BOGOR – Populasi orang utan sumatra (Pongo abelii) diperkirakan mencapai 11.694 individu berdasarkan survei pada 2021–2023. Jumlah tersebut turun dibandingkan estimasi sekitar 13.846 individu pada 2011.

Peneliti IPB University dari Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan, Dr Dede Aulia Rahman, mengatakan penurunan tersebut menunjukkan kondisi konservasi orang utan sumatra perlu mendapat perhatian serius.

Dengan metode dan wilayah pengamatan yang sebanding, penurunan populasi orang utan sumatra mencapai sekitar 19,5 persen dalam 12 tahun atau rata-rata 1,8 persen per tahun.

“Angka ini sangat serius karena orang utan bukan satwa yang mampu memulihkan populasinya dengan cepat,” kata Dede, dikutip Rabu (12/8/2026).

Baca juga  Terima Kasih Masyarakat Indonesia, Bersama Dompet Dhuafa Bantuanmu Menuju Palestina

Menurut dia, sekitar 84 persen populasi orang utan sumatra masih berada di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL). Karena itu, keberlanjutan kawasan tersebut menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga populasi orang utan sumatra.

Selain orang utan sumatra, orang utan tapanuli (Pongo tapanuliensis) diperkirakan tersisa sekitar 716 individu. Populasinya tersebar dalam tiga metapopulasi di Ekosistem Batang Toru.

Dede mengatakan kehilangan habitat menjadi salah satu ancaman utama terhadap populasi orang utan. Berdasarkan penelitian, sekitar 76 persen variasi perubahan populasi antarmetapopulasi dipengaruhi oleh hilangnya hutan.

Pada periode 2011–2023, sekitar 94.399 hektare hutan di wilayah sebaran orang utan dilaporkan hilang akibat berbagai aktivitas, antara lain ekspansi perkebunan, pembangunan infrastruktur, pertambangan, dan perambahan ilegal.

Baca juga  Ini Arah Kebijakan Pemerintah Pusat Tahun 2020

Selain kehilangan habitat, penurunan populasi juga dipengaruhi konflik manusia-orang utan, perburuan, perdagangan ilegal, dan fragmentasi habitat.

Dede menjelaskan, kehilangan dan fragmentasi habitat dapat mendorong orang utan memasuki kawasan perkebunan maupun permukiman. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan konflik, penangkapan, hingga kematian orang utan.

“Tidak tepat jika kita mempertentangkan kehilangan habitat dengan pembunuhan atau konflik seolah-olah keduanya merupakan ancaman yang terpisah. Keduanya saling memperkuat,” ujarnya.

Ia menambahkan, orang utan memiliki tingkat reproduksi yang relatif lambat. Orang utan betina umumnya melahirkan satu anak dengan jarak antarkelahiran sekitar tujuh hingga sembilan tahun.

Kondisi tersebut membuat populasi orang utan membutuhkan waktu lama untuk pulih ketika terjadi kematian individu maupun kehilangan habitat.

Baca juga  Bagaimana Komunikasi Bisnis di Era Digital?

Menurut Dede, keberlanjutan populasi orang utan perlu didukung melalui penghentian kehilangan habitat penting, pemeliharaan dan pemulihan koridor ekologis, serta upaya mengurangi kematian orang utan akibat aktivitas manusia.

Ia juga mendorong penguatan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, masyarakat, dan lembaga konservasi dalam upaya perlindungan orang utan.

“Dengan langkah tersebut, peluang mempertahankan populasi orang utan sumatra masih terbuka,” katanya. [] Hari

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

To Top