Nasional

WHO Bersikap Hati-hati Terkait Terapi Plasma Covid-19

BOGOR-KITA.com, BOGOR – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkapkan sikap kehati-hatiannya dalam penggunaan plasma pasien covid-19 yang telah pulih untuk mengobati orang yang sakit. Hal ini dikarenakan pihaknya belum mendapatkan laporan resmi soal kualitas penyembuhan cara tersebut.

Sementara itu, Badan Pengawasan Makanan dan Obat-obatan (FDA) Amerika Serikat, Minggu (23/8/2020), telah mengizinkan penggunaan darah dari pasien pulih untuk menyembuhkan orang yang terjangkit covid-19.

WHO menilai bahwa penyembuhan dengan plasma memang sudah terbukti dapat berlangsung, namun kualitasnya masih rendah. “Ada sejumlah uji klinis yang dilakukan di seluruh dunia yang mengamati dampak penggunaan plasma pasien yang sembuh dibandingkan dengan perawatan standar,” kata Soumya Swaminathan, kepala ilmuwan WHO.

Baca juga  WHO: Satu atau Dua Vaksin Covid-19 Bakal Ditemukan Akhir 2020 dan Siap Diperbanyak Ratusan Juta Dosis

“Hanya sedikit dari mereka yang benar-benar melaporkan hasil sementara dan saat ini, kualitas bukti masih sangat rendah,” tutur Soumya dalam konferensi pers, Senin (24/8/2020).

Sedangan pihak FDA mengungkapkan, sepertinya bahwa penggunaan plasma darah pasien Covid 19 yang telah sembuh, aman dan tidak mengkhawatirkan dari sisi keamanannya.

“Sepertinya bahwa produk itu aman dan kami nyaman dengan itu dan kami terus melihat sinyal keamanan yang tidak mengkhawatirkan,” kata Peter Marks, direktur Center for Biologics Evaluation and Research (CBER) FDA saat panggilan konferensi dengan awak media.

Pihaknya juga mengaku telah menetapkan ini sebagai prosedur yang aman dalam analisis terhadap 20.000 pasien, yang mendapat pengobatan ini. Hingga kini 70.000 pasien telah diobati dengan menggunakan plasma darah, menurut FDA.

Baca juga  Produsen APD di Kabupaten Bogor Siap Bikin Masker 1 Juta Per Hari

Pasien yang paling diuntungkan dari pengobatan ini adalah mereka yang berusia di bawah 80 tahun dan mereka yang tidak menggunakan alat pernapasan, lanjutnya. Pasien tersebut memiliki 35 persen tingkat kelangsungan hidup lebih baik sebulan usai menerima pengobatan. [] Anto 

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Terpopuler

To Top