Kab. Bogor

Toleransi, Belajar dari Negeri Tolland

Rahmat Zuhair

Oleh: Rahmat Zuhair

(Mahasiswa Ilmu Ekonomi IPB)

BOGOR-KITA.com, BOGOR –  Sebelum mulai mendaratkan jemari di atas keyboard laptop, sejenak terlintas dalam pikiran saya sebuah kutipan yang menarik dari buku berjudul “Berjamaah (Lagi) Walau Tak Serumah” yang ditulis Yusuf Maulana.

Dalam buku tersebut disebutan “Bisakah kita lebih elegan dan santun dalam perbedaan? Sebagaimana kita tak mesti harus mencicipi nikmatnya kopi, sementara kawan kita lebih fanatik pada teh ataupun coklat. Dan dalam kesatuan selera, haruskah kita memaksa dia mencintai kopi gayo, sementara dia gandrung pada malabar atau kintamani?”

Tulisan ini saya tulis di bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Namun miris rasanya keberkahan itu pasti dilecehkan dengan pertengkaran kaum toleran dan intoleran (katanya).

Kata si A warung makan tetap dibuka untuk menghargai yang tidak puasa. Kata si B warung makan ditutup saja karena akan mengganggu yang sedang berpuasa. Harapannya muncul-lah si C dengan mindset  yang menyatukan.

Baca juga  Fadli Zon Jelaskan Tugas BKSAP di  IPB University

Pertayaan yang muncul kemudian adalah “Mindset seperti apa yang dianut si C?”

Dalam kehidupan kita sebagai bangsa Indonesia, jarang hadir orang orang seperti C, kebanyakan yang hadir adalah si D, E, F,… dengan mindset menentangkan mindset si A dan si B.

Mari kita menyelam bersama sama dengan keluguan kita sebagai bangsa, lebih banyak energi yang terbuang bukan?

Fenomena toleransi di Indonesia tidak seharusnya menjadi trending topic dalam bangsa kita. Karena sejatinya dasar toleransi itu sudah ada, yaitu Pancasila.

Nilai nilai yang terkandung di dalamnya seharusnya menjadi tuntunan kehidupan kita sebagai bangsa. Pertanyaannya kemudian adalah apakah Pancasila hanyalah omong kosong semata? Kenapa harus terus mengangkat isu toleransi antar kelompok sedangkan kita sudah punya Pancasila.

Permasalahan ini terus muncul sebagai akibat dari ketidaktepatan mindset kita terhadap Pancasila sebagai dasar untuk menyatukan kita sebagai bangsa.

Alkisah, terdapat sebuah negeri bernama Tolland yang ditempati oleh berbagai macam kelompok masyarakat. Negeri yang sangat kaya, saking kayanya tidak ada penduduk yang kelaparan, di negeri itu tongkat dan kayu bisa jadi tanaman.

Baca juga  Sekolah di Kota Bogor Bisa Gelar KBM Tatap Muka Awal Januari 2021, Ini Syaratnya

Suatu ketika terdapat perbedaan pendapat antar kelompok di negeri tersebut, sehingga terjadilah musyawarah mufakat untuk merumuskan satu landasan dan pandangan yang sama terkait beberapa perbedaan.

Setelah sekian lama merumuskan, lahirlah sebuah kesepakatan yang bernama “Janji Suci.”

Isi kesepakatan tersebut salah satunya adalah tidak memaksakan perbedaan tadi menjadi satu kesatuan tetapi memerintahkan kepada seluruh kelompok masyarakat di negeri tersebut untuk salng menghargai perbedaan dengan hati yang tidak penuh curiga dan egois.

Seluruh perwakilan kelompok masyarakat di negeri Tolland menyepakati bahwa mindset pengelolaan perbedaan yang ada di negeri tersebut bukan dengan dipaksa untuk satu simbol/satu prinsip, namun mindset yang disepakati adalah menghargai perbedaan yang ada dengan kelembutan hati tanpa pertikaian baik di tingkat diskursus maupun di ranah aksi kekerasan dengan satu prinsipnya adalah tanpa melanggara prinsip salah satu kelompok.

Baca juga  Komisi III DPRD Jabar Ingin BPR Dapat Bersaing dan Berikan Profit

Indonesia sebagai negara yang majemuk, dalam pengelolaan keberagaman sudah semestinya menggunakan mindset negeri tolland.

Dengan mindset tersebut tidak ada kelompok yang merasa dirugikan dengan dilanggarnya beberapa prinsip dari kelompok tersebut atas nama mengelola perbedaan.

Dari segi kebijakan ekonomi yang diterapkan pun Indonesia harus mulai menerapkan mindset toleransi negeri Tolland.

Indonesia negeri yang terdiri dari beragam pulau, daerah, etnis dan kebudayaan yang berbeda, maka dari pendekatan yang dilakukan bukan lah dengan teori arus utama klasik maupun neoklasik, namun pendekatan ekonomi yang harus mulai diterapkan dan ditanamkan mindsetnya adalah ekonomi heterodoks dalam hal ini Indonesia menggunakan pendekatan ekonomi Pancasila.

Bukan sebuah hal yang mustahil bagi Indonesia menerapkan pendekatan ekonomi dengan menyesuaikan dengan wilayah dan kebudayaan masyarakat di tiap wilayah di Indonesia. []

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

To Top