Kab. Bogor

Ramadan yang selalu Kurang

Dr. Abdurrahman Misno BP, MEI
Dr. Abdurrahman Misno BP, MEI

Oleh: Dr. Abdurrahman Misno

(Dosen Pascasarjana INAIS Bogor)

BOGOR-KITA.com, BOGOR – Ramadan beberapa hari lagi akan berlalu, namun seperti ramadan-ramadan sebelumnya selalu saja diri ini merasa kurang dalam mengisi hari-harinya. Ya… tidak banyak yang bisa dibanggakan, apalagi Ramadan kali ini masih berada di bawah bayang-bayang virus corona. Menjalankan shaum (puasa), shalat tarawih dan shalat lima waktu berjamaah di rumah serta qira’ah Al-Qur’an. Terlalu biasa untuk sebuah standar mengisi kemuliaan bulan ini dengan segala pahala yang berlipat ganda.

Keinginan untuk mengisi Ramadan dengan maksimal selalu ada di dada, namun seringkali hawa ini menghalang-halanginya. Keadaan “Tidak Normal” dengan adanya Covid-19 ini turut mengurangi kualitas dari ibadah di bulan suci ini. walaupun tidak tepat juga ketika harus menyalahkan keadaan, karena semuanya kembali ke kita. Salah diri kita sendiri yang masih saja terlena dengan dunia, baik dunia medsos (media sosial) ataupun dunia nyata. Kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi khususnya media sosial pada HP memang benar-benar menyita masa kita, tak berdaya kita dibuatnya. Jika tidak terjatuh kepada yang haram, maka menghabiskan waktu sia-sia itulah adanya.

Baca juga  Ramadan dan Upaya Menyibak Misteri kehidupan

Ramadan ini masih terasa kurang, baik dalam kuantitas ibadah ataupun kualitasnya. Bacaan Al-Qur’an yang kadang terlalu tergesa-gesa, walaupun dapat mengkhatamkan sebelum pertengahan Ramadan tapi belum bisa merasuk ke jiwa. Ya Allah, berjuta nasihat sudah kudengar, kalamMu sudah terbaca, tapi jiwa ini masih juga belum bisa maksimal menyembahMu.

Terlalu banyak alasan yang selalu dikemukakan, bahkan lemahnya raga pun belum bisa membuat jiwa ini menerima kuasaNya dengan sempurna. Padahal seharusnya semakin raga ini lemah, semakin kuat jiwa untuk memaksimalkan masa. Apakah ini karena dosa yang masih bersemayam di jiwa? atau nasuha yang masih belum ada? Bisa jadi demikian adanya. Hawa akan selalu mencari berjuta rasa, berjuta cerita untuk membenarkannya hingga minda pun dikuasainya.

Baca juga  Dosen PPs INAIS Bogor Raih Anugerah Buku Negara di Malaysia

Ramadan yang selalu kurang, menjadi kisah di penghujungnya. Tak banyak yang bisa dicerita, hanya asa yang selalu ada di jiwa. Semoga akhirnya tetap ada karuniaNya hingga ketika betul-betul ketika kita keluar darinya ampunan Allah dapat kita rasa. Atau di suatu masa, ketika jiwa dan raga mulai menua, itulah masa yang tidak ada lagi cerita. Tunduk patuh pada semua syariahNya, masanya untuk kembali kepadaNya dan menghilangkan semua hawa dunia. Semoga… []

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

To Top
error: Content is protected !!