Kab. Bogor

Musim Tak Normal, Ahli IPB Sarankan Pemda Perbanyak Peta Kebencanaan

BOGOR-KITA.com, DRAMAGA – Tindakan preventif dalam menghadapi bencana alam perlu terus dilakukan. Hal ini terkait dengan musim yang tidak normal. Peta kebencanaan (bahaya atau risiko) seharusnya sudah bisa dibuat oleh pemerintah daerah meskipun diawali dengan metode yang sederhana.

Dalam rilis dari IPB University kepada BOGOR-KITA.com, Rabu (4/11/2020) Dr Boedi Tjahjono, dosen IPB University dari Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian (ITSL-Faperta), memberikan beberapa masukan terkait mitigasi bencana dalam rangka menghadapi pergeseran musim dan ancaman bencana ke depan.

“Karena penataan ruang harus berbasis pada mitigasi bencana (UU no 26 tahun 2007), maka kita perlu segera memperbanyak peta kebencanaan skala operasional (skala kabupaten 1:50.000 atau lebih besar) sesuai dengan skala Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) yang ada. Hal ini disebabkan peta pada skala operasional belum banyak tersedia di daerah, sehingga perlu segera disediakan. Peta kebencanaan (bahaya atau risiko) seharusnya sudah bisa dibuat oleh pemerintah daerah meskipun diawali dengan metode yang sederhana,” ungkapnya.

Baca juga  Perumda PPJ Lakukan Rotasi Mutasi Pejabat Struktural

Kemajuan dan kemudahan teknologi, seperti internet, yang saat ini sudah bisa dimanfaatkan oleh semua orang menyebabkan pencarian data spasial dari berbagai daerah menjadi lebih mudah. Tersedianya data spsial akan memudahkan perencana atau para pihak merencanakan program untuk tindakan preventif dan penanggulangan bencana.

Data dan informasi spasial yang diperlukan, seperti peta tematik atau citra satelit skala semidetil hingga detil, sudah banyak tersedia di web sehingga dapat dimanfaatkan secara gratis dan didayagunakan. Salah satu sumber paling populer dan dikenal banyak orang adalah dari Google Map/Earth, dan sumber lainnya antara lain adalah Badan Infomasi Geospasial (BIG), United States Geological Survey (USGS), Copernicus Sentinel dan lain-lain.

“Nah dengan memanfaatkan data yang ada, kita akan bisa mengetahui karakteristik bentang lahan (landscape) setiap daerah, termasuk kerawanan bencana di masing-masing wilayah. Jadi peta bahaya dan risiko bencana bisa dibangun dari data ini dan hasilnya akan sangat dibutuhkan untuk program mitigasi bencana. Peta bahaya memberikan informasi prediktif proses alam yang akan terjadi dan berpeluang menimbulkan bencana ke depan. Sementara itu peta risiko memberikan informasi peluang kerugian akibat bencana yang mempertimbangkan aspek bahaya, kerentanan objek, maupun kapasitas objek yang dapat mengurangi dampak buruk yang ditimbulkan,” jelas Dosen Mata Kuliah Kebencanaan Alam dan Mitigasi di Program Studi Ilmu Perencanaan Wilayah IPB University ini.

Baca juga  14 Pegawai Perumda Tirta Pakuan Positif Covid-19, Tiga Sudah Sembuh

Dalam penyusunan peta bahaya dan risiko, data yang diperlukan untuk analisis bervariasi tergantung pada jenis bencana alam yang dianalisis. Misalnya data untuk bahaya longsor antara lain membutuhkan data kemiringan lereng, batuan penyusun permukaan lahan, penggunaan lahan, curah hujan, dan sebagainya.

“RTRW sesungguhnya merupakan suatu dokumen perencanaan yang sudah memikirkan sifat fisik permukaan bumi atau bentanglahan, karakter sosial masyarakat, kondisi ekonomi, dan kelembagaan yang menjadi komponen penting dalam pengambilan keputusan perencanaan. Sebagai contoh, jika kondisi bentanglahan suatu wilayah tergolong rawan longsor, maka ruang di wilayah tersebut jangan dialokasikan untuk penggunaan lahan yang riskan, misalnya untuk permukiman tidak direkomendasikan. Dengan demikian peta tata ruang sesungguhnya sudah memuat aspek mitigasi bencana untuk jangka panjang. Meskipun peta RTRW sifatnya tidak mutlak, tetapi bisa diperbaiki atau direvisi sesuai dengan kondisi kebencanaan aktual sehingga alokasi ruang ke depan menjadi lebih aman dari bencana dan ramah lingkungan” tuturnya.

Baca juga  Pemdes Pondok Udik Semprot Disinfektan di Rumah Ibadah

Dengan demikian dari sisi kebencanaan alam, peta rencana tata ruang adalah peta yang sudah sekaligus mencerminkan aspek mitigasi bencana jangka panjang, karena alokasi ruang sudah disesuaikan dengan karakter bentanglahan dalam merespon proses alam. Peta bahaya dan risiko bencana sendiri sebagai data pendukung program mitigasi dapat diturunkan dari data spasial yang tersedia di web secara gratis dan dapat didayagunakan dengan baik untuk mitigasi bencana. [] Admin

 

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Terpopuler

To Top