Firman , peneliti Remotivi saat ditemui di Joglo Keadilan, Bogor, Sabtu (17/11/2018)

Literasi Digital untuk Cegah Hoax

BOGOR-KITA.com – Peningkatan pendidikan literasi masyarakat Indonesia adalah salah satu cara mengurangi penyebaran berita hoax. 60 persen masyarakat Indonesia mengakses informasi dari media sosial, di mana kebenaran dari informasi yang mereka sebar belum bisa dipastikan.

Hal itu dikemukakan peneliti dari Remotivi Firman selepas kegiatan Diskusi Publik bertema Pemuda, Media dan Toleransi di Joglo Keadilan, Bogor, Sabtu (17/11/2018).

Apa yang dikatakan Firman, dikuatkan oleh sumber dari Kemkonminfo yang menyebut 59 persen pengguna smartphone tidak membaca informasi yang dishare secara utuh. Atau istilahnya hanya copas atau copy paste saja.

Namun kata Firman, persoalan penyebaran berita bohong tidak hanya menjadi masalah di Indonesia semata. “Itu sudah kejadian di Brazil, berita hoaks tentang politik tidak hanya terjadi di Indonesia saja”, katanya.

Zaman sekarang ini masyarakat sudah menjadi jurnalis untuk dirinya sendiri. Jadi informasi sudah tidak menjadi hegemoni wartawan saja.

Firman menambahkan dulu jurnalis punya kebanggaan  sebagai  penjaga pintu gerbang (gatekeeper) informasi. Mereka menentukan informasi yang dibaca orang, namun sekarang jurnalis menjadi gatekeeper  di zaman yang tidak ada dindingnya.

Lebih lanjut, ditanya tentang faktor orang menyebarkan hoax,  Firman mengatakan  ada beberapa faktor seperti  power, keuntungan , dan karena hanya iseng.

“Penyebar hoax penculikan anak dan kecelakaan pesawat Lion Air saat diwawancarai  mayoritas , mereka bilang iseng,” pungkasnya. [] Hari

 

 



Bogor-Kita.com - Sejak 2010


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *